Sudewi2000’s Weblog

November 4, 2008

SEMUA MENGHADAP TUHAN

Ditulis di Jakarta, Menjelang subuh, 27 November 2007

Girl Before A Mirror (Picasso, 1932)

Girl Before A Mirror (Picasso, 1932)

Samyong, Batam, pertengahan 2000. Tidak ada yang tahu apa yang ada di benak para perempuan yang duduk berjejer di salah satu pusat hiburan kelas bawah di Batam itu. Beberapa asyik menghirup nikotin dari batang-batang rokok di sela-sela jari pucat mereka. Gincu dan bedak tebal menempel ketat di bibir dan wajah. Rambut di keriting atau dipotong bergaya bob. Satu dua dari mereka nampak saling berbisik, kemudian tertawa terkikik. (more…)

Advertisements

October 4, 2008

MENGAIS REJEKI DARI KARTU POS

Filed under: Gender, Traveling — Tags: , , , , , — sudewi2000 @ 7:42 am

28 Juni 2007

Agung Ayu)

Aku di Tangga Besakih Menuju Pura Gelap (Foto: Agung Ayu)

April 2007 lalu, saat berkesempatan menginjak Bali untuk kesekian kalinya, aku merasa keteduhan yang nyaman. Mungkin karena kakiku menjejak di tempat suci salah satu pusat ibadah masyarakat Hindu Bali. Ya, suatu hari di bulan April, aku berkunjung ke Pura Besakih, pura terbesar di pulau Dewata yang terletak di Kintamani. Kakiku terus melangkah ke atas, puluhan bahkan mungkin ratusan anak tangga kujejaki hingga akhirnya aku mencapai Pura Gelap, pura tertinggi di Besakih.
(more…)

October 3, 2008

CERPEN: CUKUP SUDAH

Filed under: Gender, Short Stories — Tags: , , , , , , — sudewi2000 @ 3:56 am

Banjarbaru, 22 Mei 2007

Dora Maar (Picasso, 1937)

Dora Maar (Picasso, 1937)

Tangan Salma masih terus menakar minyak tanah yang sedang dibeli Tajang. “Sudah cukup 5 liter, Nak.” Teguran lelaki paruh baya itu menyadarkannya dari lamunan. Sesudah memberikan uang kembalian, Salma bergegas menutup warung. Sudah menjelang magrib. Dia tidak mau sedikitpun melewatkan waktu magrib, saat di mana dia merasa paling khusuk berdoa sesudah sholat, mengadu apa saja yang ada di hati kepada Yang Kuasa.

(more…)

October 1, 2008

MASIH SITI NURBAYA

Filed under: Gender — Tags: , , , , , — sudewi2000 @ 4:30 pm

Sulawesi, 13 Mei 2007

TORNADO (ALIF YUSUF VICAUSSIE, MEI 2007)

TORNADO (ALIF YUSUF VICAUSSIE, MEI 2007)

Perjalananku kali ini menyusuri beberapa tempat di Sulawesi, pada Mei 2007. Seorang sahabat, sebut saja Nita, meluangkan waktu menemaniku. Sesudah menjemputku di bandara dan meluangkan waktu sampai malam menyusuri kota, dia mengajakku ke rumahnya, berjarak sekitar 1,5 jam dari bandara. Dan mulailah cerita itu meluncur dari bibirnya, cerita yang cukup menghentak batin.

(more…)

PANGKANG LESTARI, MANGROVE REHABILITATION AND COMMUNITY EMPOWERMENT

4 May 2007

Planting Mangrove (by BIKAL)

Planting Mangrove (by BIKAL)

This is a summary of experience of a mangrove farmer organization, Pangkang Lestari and its efforts to promote mangrove rehabilitation & community empowerment in Dusun Teluk Lombok, Kutai National Park, East Kalimantan . Several benefits for the community are also mentioned here.

(more…)

MORE THAN MERE ECONOMICS

Version: 18 December 2006

Translation by Ben Dowson
Final edit by Swary Utami Dewi

Sentarum National Park, West Kalimantan (by RIAK BUMI)

Sentarum National Park, West Kalimantan (by RIAK BUMI)

Despite sustaining extensive damage, Kalimantan’s forests are still considered a very important global resource, owing to their great biodiversity. Various kinds of animals and plants live and thrive within these forests. Certain fauna that are classified as endangered, such as the orangutan, hornbill and proboscis monkey, can still be found there. The same is true of flora such as the black orchid and ulin, a type of hardwood.
However, within the last decades, the forest’s wealth has been entirely obliterated. Non-timber forest products have been overlooked. Multistakeholder Forestry Program (MFP) stakeholders in Kalimantan have taken steps to develop the economies of the local communities based on the exploitation of non-timber forest products. Some have begun to prosper, while others are still fighting for survival. However, one important lesson has been learnt. The strengthening of local economies has opened the door to other issues such as gender, and community bargaining strength. This paper discusses what has happened in Kalimantan.

(more…)

September 30, 2008

BUKAN EKONOMI SEMATA

Versi 26 November 2006

Tulisan ini dimuat sebagai salah satu artikel di buku Tunas Bersemi di Tepi Hutan (MFP dan Info Kalimantan, 2006), hal 17-34.

Yusuf PENA INDONESIA)

Menarik Rotan, Katingan Kalteng (Foto: Yusuf PENA INDONESIA)

Hutan Kalimantan, meski telah mengalami banyak kerusakan, tetap dipandang sebagai sumber kekayaan dunia yang sangat penting karena keanekaragaman hayati. Berbagai jenis hewan dan tumbuhan hidup dan berkembang biak di dalamnya. Fauna tertentu yang sudah tergolong langka, seperti orangutan, burung enggang dan bekantan, masih bisa dijumpai. Demikian pula floranya seperti anggrek hitam dan ulin.

Yusuf PENA INDONESIA)

Kayu Tebangan, Katingan Kalteng (Foto: Yusuf PENA INDONESIA)

Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir, kekayaan hutan direduksi menjadi kayu belaka. Hasil hutan bukan kayu menjadi terpinggirkan. Para mitra Multistakeholder Forestry Program atau Program Kehutanan Multipihak di Kalimantan melakukan upaya pengembangan ekonomi masyarakat berbasis hasil hutan bukan kayu. Beberapa menunjukkan perkembangan, lainnya masih harus terus berjuang. Namun, ada hal penting yang dipelajari. Penguatan ekonomi masyarakat sekitar hutan melalui hasil hutan bukan kayu dijadikan pintu masuk isu-isu lainnya, seperti jender dan penguatan posisi tawar masyarakat. Inilah yang terjadi di Kalimantan.

(more…)

A Story of Teluk Lombok, Kutai National Park, East Kalimantan

By: Swary Utami Dewi

25 October 2006

Children of Teluk Lombok (by Yusuf of PENA INDONESIA

Children of Teluk Lombok (by Yusuf of PENA INDONESIA)

Teluk Lombok sub-village, part of Sangkima village is located on the coastal area of Kutai National Park, which covers 198,629 hectares of forestland in East Kalimantan. Like many other coastal communities, the community of Teluk Lombok sub-village had depended on mangrove forests and marine resources such as crabs, shrimp, and fish for their livelihoods. However, in the 1970s, things started to change. External parties came to cut down the mangrove forests. Some also introduced shrimp rearing ponds. Slowly, it depleted the village’s mangrove forests. In 1980-an, the Teluk Lombok community started to harvest the fruits of depleted mangrove forests. Due to abrasion on the coast, the community had to move houses to inland. The subsequent reduction in crabs and fish that lived in the roots of the mangrove trees had also a devastating impact on the community’s welfare. (more…)

MERINTIS KONSERVASI, KESEJAHTERAAN DAN KESETARAAN BERSAMA BAKAU

Tulisan versi 22 Oktober 2006

Dimuat sebagai salah satu artikel dalam buku Dari Desa ke Desa: Dinamika Gender dan Pengelolaan Kekayaan Alam (CIFOR, 2007), halaman 9-22.

Menatap Masa Depan

Anak Teluk Lombok: Menatap Masa Depan (Foto: Yusuf PENA INDONESIA)

…Kita tidak boleh putus asa meski penghasilan melaut tidak lagi mencukupi. Anak-anak tetap harus sekolah.“ (Amriani, ibu empat anak, tinggal di Teluk Lombok)

Semangat untuk meraih sukses bisa timbul dari mana saja, termasuk dari kerusakan alam. Inilah yang ditunjukkan masyarakat Dusun Teluk Lombok, Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Pesisir desa dengan hutan bakau yang rusak tidak membuat semangat mereka surut untuk merintis kesuksesan. Bergandengan tangan dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama BIKAL, dimulailah tapak perjalanan masyarakat, laki-laki dan perempuan, menuju kesetaraan dan hidup yang lebih baik bersama bakau.

(more…)

MENAPAK SUKSES BERSAMA BAKAU

Versi 15 September 2005

“Kita tidak boleh putus asa meski penghasilan melaut tidak lagi mencukupi. Anak-anak tetap harus sekolah.” (Amriani, ibu empat anak, tinggal di Teluk Lombok)

Semangat untuk meraih sukses bisa timbul dari mana saja, termasuk dari kerusakan alam. Inilah yang ditunjukkan masyarakat Dusun Teluk Lombok Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Pesisir desa dengan hutan bakau yang rusak tidak membuat semangat mereka surut untuk merintis kesuksesan. Bergandengan tangan dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Bikal, dimulailah tapak perjalanan masyarakat, laki-laki dan perempuan, menuju hidup yang lebih baik bersama bakau.

BIKAL)

Abrasi di Teluk Lombok (Foto: BIKAL)

Bakau dan Teluk Lombok

Teluk Lombok dan satu dusun lainnya berada dalam naungan desa Sangkima, tidak jauh dari pesisir Taman Nasional Kutai. Sangkima sendiri tercatat sebagai desa tertua di wilayah taman nasional yang memiliki luas 198.629 hektar ini. Hutan mangrove yang melindungi pantai dari erosi, hantaman gelombang dan terpaan badai, terbentang di sepanjang timur taman nasional itu. Hutan bakau di Taman Nasional Kutai merupakan bagian dari kekayaan hutan bakau Kalimantan Timur yang luasnya hanya kalah dari hutan serupa di Papua dan Sumatera Selatan.

(more…)

Older Posts »

Blog at WordPress.com.