Sudewi2000’s Weblog

August 9, 2009

PELAJARAN BERHARGA DARI PARA SENIMAN: MBAH SURIP, RENDRA, SUTARDJI

Banjarbaru, 9 Agustus 2009

Tulisan ini dimuat di koran Radar Banjarmasin, 10 Agustus 2009, halaman 3.

Mbah Surip meninggal beberapa hari yang lalu. Aku tidak mengenalnya, hanya pernah sekali bertemu suatu hari di tahun 2008, kalau tidak salah, saat aku dan sahabatku Rara bertemu dengan penyair besar Sutardji Calzoum Bachri di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Ayah, demikian aku dan Rara memanggil Sutardji, memperkenalkanku ke Mbah Surip. Aku sempat terbengong melihat rambut gimbalnya yang dahsyat dan cara ketawanya yang khas. Kami kemudian berkesempatan melihat Mbah Surip dengan gaya kocaknya menyanyi. Itu saja yang kualami. Dan aku tidak sempat mengenalnya dengan baik. Mbah Surip pergi dalam damai dan sedang dalam masa popularitas pada 4 Agustus 2009.

Aku dan Sutardji (Foto: Ganjar, Juni 2007)

Aku dan Ayah Sutardji (Foto: Ganjar, Juni 2007)

(more…)

July 26, 2009

CERPEN: PEREMPUAN YANG CEMBURU

Oleh: Swary Utami Dewi

Cerpen ini dimuat di koran Radar Banjarmasin, Lembar Cakrawala Sastra dan Budaya, Minggu, 9 Agustus 2009, halaman 5.

Banjarbaru, 30 Juli 2008

May, demikian suamiku memanggilnya. Aku tidak tahu nama panjangnya. Yang jelas, yang aku tahu dia adalah May. Suatu malam, sebulan lalu, tiba-tiba sering kudengar sms masuk menjelang tengah malam ke hp Ridho. Mula-mula kupikir itu biasa. Tapi esoknya dan esoknya lagi hal itu berulang. Anehnya, Ridho selalu cepat menghapus sms-sms itu. Sesekali dia nampak melirik ke arahku, khawatir aku memergokinya.

Seminggu kemudian, sepulang kerja, kuajak sahabat akrabku, Alma, berbincang. Kuceritakan tentang kecurigaanku dan bukti tentang masuknya sms menjelang dan saat tengah malam. “Harus dicek, “ tegas sahabatku.

On Paranoic Critical Town (Salvador Dali, 1936)

On Paranoic Critical Town (Salvador Dali, 1936)

(more…)

CERPEN: TIGA MIMPI

Oleh: Swary Utami Dewi

Radio Dalam, 26 Januari 2009

Ya, Allah. Aku tersentak. Mimpiku barusan, walaupun sekejap, begitu menakutkan. Aku memandang wajah Ibu yang tetap tenang dalam komanya. Syukurlah. Ibu mertuaku ini tidak seperti perempuan bertanduk iblis dalam mimpiku barusan. Dan suamiku, dia tidaklah buruk seperti dalam mimpiku. Aku, akupun tidak sebodoh aku dalam mimpi burukku tadi.

Raphaelesque Head Exploding (Salvador Dali, 1951)

Raphaelesque Head Exploding (Salvador Dali, 1951)

(more…)

February 28, 2009

CATATAN ALIF: BUKU TENTANG ZHENG HE

Alif menggemari cerita petualangan. Maka ketika dilihatnya ada tulisan tentang Laksamana Zheng He atau Cheng Ho, dengan semangat dia membacanya. Dan inilah catatan Alif mengenai buku yang dibacanya pada akhir Februari 2009.

Tengah Laut (Karya: Alif Yusuf Vicaussie, 28 Februari 2009)

Tengah Laut (Karya: Alif Yusuf Vicaussie, 28 Februari 2009)

(more…)

CATATAN ALIF: BUKU MOMO

Anak sulungku, Alif Yusuf Vicaussie, yang berusia 9 tahun gemar membaca dan mengarang. Akhir-akhir ini aku melihat kebiasaan  barunya membuat catatan dan memberi pendapat tentang buku yang dibacanya. Inilah catatannya mengenai buku Momo yang dibuatnya Desember 2008.

Alif yang Jenaka (Foto: Swary Utami Dewi, Februari 2009)

Alif yang Jenaka (Foto: Swary Utami Dewi, Februari 2009)

(more…)

KARANGAN ARA: LALA DAN LILI

Banjarbaru, 28 Februari 2009

Anak keduaku, Ara, putri satu-satunya, kadang suka bercerita. Malam ini, gadis kecil berusia 7 tahun ini, mendekatiku yang sedang asyik depan komputer. Minta diketikkan cerita. Jadilah Ara mendikte cerita dan aku mengetiknya. Kemudian kumasukkan ke blogku. Inilah karya anak gadisku, Ara.

Ara, Gadis Kecilku (Foto: Swary Utami Dewi, Februari 2009)

Ara, Gadis Kecilku (Foto: Swary Utami Dewi, Februari 2009)

(more…)

November 3, 2008

BATIK: WARISAN LELUHUR YANG PATUT DIPERTAHANKAN

Tulisan ini dimuat di Koran Radar Banjarmasin, 5 November 2008, halaman 3.

Batik adalah warisan leluhur yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Dalam sejarahnya, batik dipakai di lingkungan kerajaan, terutama raja dan keluarganya, misalnya di Solo dan Yogyakarta. Lambat laun, pemakaian batik menjadi tidak hanya terbatas pada keluarga kerajaan, tapi merambah pada masyarakat luas.

Batik Tiga Negeri (Foto dari www.image.google.co.id)

Batik Tiga Negeri (Foto dari http://www.images.google.co.id)

Perkembangan batik ditandai dengan berkembangnya industri batik di beberapa tempat di Indonesia. Paling tidak, dalam catatan suatu harian ternama tingkat nasional, ada 10 propinsi di Indonesia yang memiliki tradisi batik dan mengembangkan industrinya. Beberapa di antaranya Jawa Tengah (Pekalongan, Solo, Rembang), Yogyakarta, Jawa Timur (Sidoarjo, Madura), Jawa Barat (Cirebon) dan Jambi.

(more…)

October 3, 2008

PEREMPUAN PENGGELUT LA GALIGO (BAGIAN 2: SELESAI)

Sonny Sulaksono, dari www.sulaksono.blogspot.com

Cuplikan Pertunjukan La Galigo di Milan, Italia, Februari 2008 (Foto: Sonny Sulaksono, dari http://www.sulaksono.blogspot.com)

D.Chan, dari www.fotografer.net)

Cuplikan Pertunjukan La Galigo di Jakarta, Desember 2005 (foto: D.Chan, dari http://www.fotografer.net)

24 Juni 2007

Tulisan ini dimuat di Koran Mata Banua, Kalimantan Selatan, tanggal 14 Oktober 2008

Keprihatinan akan ancaman punahnya La Galigo dalam masyarakatlah yang mendorong Nurhayati memfokuskan diri pada upaya menghidupkan kembali, memperkuat dan melestarikan La Galigo dalam kehidupan masyarakat Bugis. Semua berawal sejak dia masih kecil. Sejak kecil, perempuan berdarah Bugis ini sudah terbiasa dengan cerita La Galigo. “Saya beruntung karena memiliki nenek penembang La Galigo dan saya terbiasa mendengar ceritanya.” Tidak heran, kecintaannya terhadap naskah Bugis ini begitu mendarah daging. Sewaktu kuliah S1 di Universitas Hasanuddin, topik skripsinya tentang naskah tersebut. Begitu pula saat dia menjalani perkuliahan S2 di Universitas Pajajaran dan S3 di Universitas Indonesia .

(more…)

PEREMPUAN PENGGELUT LA GALIGO (BAGIAN 1)

24 Juni 2007

Nurhayati)

La Galigo: Lebih Panjang dari Mahabharata (Foto: Nurhayati)

Tulisan ini dimuat di Koran Mata Banua, Kalimantan Selatan, tanggal 13 Oktober 2008

Saya diuntungkan La Galigo,” demikian lontaran Dr. Nurhayati, ketua Divisi Sosial Budaya, Ekonomi dan Humaniora di Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin. Menjadi doktor di bidang Filologi dengan mengkaji La Galigo serta menjadi narasumber di pelbagai seminar yang membahas naskah ini, membuat perempuan mungil berputri satu ini merasa menjadi raja di dunia kecil. Tepatlah kiranya karena hanya sedikit mereka yang mau menumpahkan perhatian dan tindakan pada La Galigo. “Terlebih karena saya satu-satunya perempuan dari sedikit ahli La Galigo yang bergelar doktor,” imbuhnya.

(more…)

Blog at WordPress.com.