Sudewi2000’s Weblog

June 10, 2012

Heidegger: The Fundamental Question of Metaphysics

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , , , , , — sudewi2000 @ 1:03 am

15 November 2011

Heidegger melihat metafisika sebagai pertanyaan seputar beings dalam kaitannya dengan Being. Usaha untuk mencari Ada dilakukan Heidegger dengan mendekati “Ada” sebagai fenomena, yaitu membiarkan Ada itu menampakkan dirinya. Dalam chapter pertama yang berjudul The Fundamental Question of Metaphysics (halaman 1-54), Heidegger memulai tulisannya dengan pertanyaan: Mengapa yang ada adalah “adaan” dan bukannya “ketiadaan”? (“Why are there beings at all instead of nothing?).

Bagi Heidegger, pertanyaan Why are there beings at all instead of nothing? merupakan pertanyaan mendasar. Pertanyaan ini dipandang sebagai pertanyaan yang terluas, terdalam dan paling asali (the broadest, the deepest and the most originary question). Dikatakan terluas karena pertanyaan ini tidak terbatas dan tidak bisa terlampaui; terdalam karena menggali sampai ke dasarnya bahkan sampai ke dasar yang tidak berdasar (abyss atau unground); dan paling asali karena senantiasa menjauhkan diri dari hal-hal yang partikular dan individual serta kembali lagi pada yang paling origin.

Heidegger menilai, telah tejadi pembebanan (burdening) yang berlebih-lebihan terhadap filsafat. Ini disebabkan banyak kekeliruan interpretasi (misinterpretation) yang terjadi pada filsafat. Dua di antaranya adalah penekanan yang berlebihan pada esensi filsafat serta distorsi dari apa yang bisa dicapai oleh filsafat. Terkait dengan misinterpretasi yang pertama, Heidegger menjelaskan bahwa filsafat selalu ditujukan pada dasar-dasar pertama dan terakhir dari “adaan” (aims at the first and last grounds of beings). Manusia memberikan interpretasi atas being ini dan menetapkan apa tujuannya. Sejalan dengan hal ini, filsafat diharapkan mampu dan harus menyediakan fondasi untuk membangun budaya bagi Dasein manusia secara historis di setiap zaman, baik untuk masa kini maupun masa depan. Namun penugasan dan harapan tersebut mensyaratkan kapabilitas dan esensi filsafat secara berlebihan. Akibatnya, jika sesuatu terjadi, seringkali filsafat yang disalahkan. Jika filsafat tidak bisa memenuhi harapan yang berlebihan, ia harus ditolak, bahkan dibuang.

Misinterpretasi kedua terkait distorsi dari apa yang bisa dicapai filsafat. Filsafat diharapkan mampu mempermudah manusia untuk membangun budaya. Filsafat dipandang mampu mengejawantahkan keseluruhan “beings” menjadi sudut pandang dan sistem tentang dunia. Diharapkan filsafat mampu menyediakan gambaran dunia yang diharapkan, mampu memberikan arahan yang seragam dan universal (a universal and uniform orientation). Bahkan secara spesifik, filsafat dituntut mampu untuk mengangkat dan mempercepat perkembangan budaya yang bersifat praktis dan teknis. Namun, menurut Heidegger, kita lupa bahwa selaras dengan esensinya, filsafat tidak pernah mempermudah sesuatu, malah membuat lebih rumit, misal karena bahasa filosofis yang susah dipahami.

Celakanya, Heidegger menambahkan, salah interpretasi ini terus menerus terjadi, bahkan dilakukan juga oleh para pengajar filsafat di dunia pendidikan. Kitapun seolah-olah mentok saat dipertemukan dengan filsafat. “Tidak ada sesuatu yang muncul dari filsafat” (Nothing comes of philosophy) serta “Kita tidak bisa melakukan apapun terkait filsafat” (You can’t do anything with philosophy) merupakan kalimat-kalimat yang menunjukkan keputusasaan terhadap filsafat.

Di sini terlihat telah terjadi penekanan dan pereduksian hanya pada being yang dipandang nyata, konkret, dan memenuhi kebutuhan praktis manusia. Being-pun menjadi terpisah dari realitas manusia karena tidak konkret, tidak praktis, tidak sesuai harapan. Apa yang menyebabkan ini terjadi? Heidegger merunutnya dari definisi beings yang aslinya diambil dari bahasa Yunani: phusis, yang diterjemahkan menjadi ”natura”. Dalam bahasa Latin, artinya menjadi ”lahir” (to be born) atau ”kelahiran” (birth). Dari sinilah dimulai ”penelikungan”.  Penterjemahan bahasa Yunani ke Latin, menurut Heidegger, adalah tahap pertama dari isolasi dan alienasi terhadap substansi asali filsafat Yunani. Terjemahan Latin yang dipergunakan bangsa Roma tersebut kemudian terus terbawa sampai ke abad pertengahan, hingga masa saat Heidegger memberikan kritiknya. Akibatnya, saat memahami filsafat Barat, banyak makna asali dari bahasa Yunani yang terlupakan. Kesalahan penggunaan bahasa (the misuse of language) dalam berbagai bentuk, menurut Heiddeger, telah menghancurkan relasi murni kita dengan apapun (things). Akan halnya phusis, iapun didefinisikan dalam pengertian sempit: natura. Phusis juga diturunkan maknanya, saat kata ini dikontraskan dengan techne, sejenis pengetahuan untuk memproduksi (a knowing pro-ducing).

Dalam menyikapi hal ini, Heidegger mengajak kita untuk “awas berfikir” (mindful), untuk melihat kembali filsafat di luar dari anggapan yang biasa ditemui. Dengan mengutip perkataan Nietzcshe, “A philosopher: that is a human being who constantly experiences, sees, hears, suspects, hopes, dreams extraordinary things…” (lihat halaman 13), Heidegger menegaskan bahwa berfilsafat berarti mempertanyakan tentang hal-hal “di luar yang biasa” (extra-ordinary). “Philosophizing, we can now say, is extra-ordinary questioning about the extra-ordinary”, ujarnya (halaman 14).

Selain itu, Heidegger menyatakan bahwa mempertanyakan sesuatu yang mendasar menunjukkan “keinginan untuk mengetahui” (willing-to-know). To know berarti mampu berpijak dalam kebenaran (to stand in the truth), dan kebenaran yang dimaksud di sini adalah keterbukaan pada beings (openness of beings). To know juga bermakna: mampu untuk belajar (to be able to learn). Mampu untuk belajar didahului oleh mampu untuk mempertanyakan (to be able to question). Mempertanyakan, seperti yang telah dijelaskan, adalah willing to know: keinginan untuk berpijak dalam keterbukaan pada beings.

Karena itulah, saat menelaah beings, Heidegger mengajak kita untuk terbuka dan berani melihat ke pengertian genuine ”phusis” dalam bahasa Yunani, yang selama ini terpinggirkan. Makna phusis adalah “apa yang menyeruak atau muncul dari dirinya” (what emerges from itself). Phusis adalah the Being of beings. Phusis juga bermakna bandul yang muncul yang melingkupi dan menghubungkan ”becoming” dan ”Being” (emerging and abiding sway). Lalu, dalam bahasa Yunani, meta berarti melampaui. Pertanyaan filosofis tentang “adaan seperti adanya” (beings as such), yang melampaui beings itu sendiri, disebut metafisika (meta ta phusika). Maka, ”Why are there beings at all instead of nothing?”, menurut Heidegger adalah pertanyaan fundamental dari metafisika (the fundamental question of metaphysics), yang menjadi pusat dan inti dari semua (lihat halaman 19). Pertanyaan tersebut merupakan ajakan bagi kita untuk melihat metafisika melampaui dari pandangan yang selama ini dipegang teguh, untuk melihat kembali Phusis sebagai Being of beings.

Saat mengemukakan pertanyaan mendasarnya, Heidegger tidak hanya berhenti pada kalimat “Why are there beings at all?”. Pertanyaan ini, seperti yang sudah diketahui, ada kelanjutannya, yaitu “instead of nothing”. Heidegger ingin menunjukkan bahwa siapapun yang hanya berbicara tentang Nothing tidaklah paham dengan apa yang dilakukannya, bahkan disebutnya illogical. Di sini, dia menekankan bahwa yang ada dan masuk akal adalah beings, dan bukannya ketiadaan.

Telaahan terhadap pertanyaan di atas, tidak berhenti sampai di sini. Heidegger menekankan, saat dia mengajukan pertanyaan tersebut, sekilas memang yang dipertanyakan adalah “adaan” (beings). Namun, pada dasarnya, yang menjadi fokus adalah Being of beings. “We are interrogating beings in regards to their Being,” jelas Heidegger (halaman 34). Fokusnya pada Being of beings merupakan gambaran keprihatinannya pada penekanan filsafat barat terhadap beings dan kecenderungan melupakan Being yang dipandang tidak konkrit. Kita akan mudah melihat being, pada saat kita melihat gedung sekolah misalnya. Being-nya jelas di sini, yaitu bangunan. Tapi bagaimana halnya dengan warna, terang atau gelap? Apakah kita melihat Being pada tiga hal tersebut? Apakah Being bisa disentuh, dirasa, didengar dan dibaui? Di manakah letaknya Being tersebut dan dalam apa ia ada? Hal-hal seperti inilah yang menjadi dasar kealfaan terhadap Being yang tidak konkret. Jikapun ada, Being tidak lebih dari kata-kata semata, yang sudah kehilangan makna.

Dalam pandangan menyeluruhnya tentang apa yang terjadi pada dunia dan alam, pertanyaan mendasar tentang metafisika bagi Heidegger menjadi pertanyaan historis tentang apa yang selama ini dilupakan manusia. Ia menjadi historis karena mengetuk kembali human Dasein dalam kaitannya dengan “being seperti adanya dan being secara keseluruhan” (beings as such and as a whole). Heidegger menelaah bahwa pengabaian terhadap Being memiliki akibat yang membahayakan manusia itu sendiri. Spirit misalnya, karena dipandang tidak konkret, sudah lama mengalami perubahan dan pereduksian makna menjadi hanya intelejensia, dipandang sebagai alat yang bisa diajarkan dan dipelajari, produk kebudayaan dan menjadi slogan atau propaganda budaya.

Bagi Heidegger, pertanyaan ”Why are there beings at all instead of nothing?”, selalu terkait dengan pertanyaan lain: “Bagaimana kaitannya dengan Being?” (How does it stand with Being?). “Adaan” atau beings tidak bisa dilepaskan  begitu saja dari Being hanya karena ia tidak bisa ditangkap indrawi. Keduanya harus saling terkait karena terikat dalam “emerging and abiding sway”. Salah interpretasi tentang metafisika yang selama ini terjadi, yang kemudian berbuntut pada kerumitan dan carut marut dunia, bagi Heidegger kemudian harus diluruskan. Dan cara yang ditawarkan adalah jelas: melihat kembali makna terluas, terdalam dan paling asali dari beings dalam kaitannya dengan Being. Tidak hanya pada being itu sendiri saja.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: