Sudewi2000’s Weblog

January 3, 2012

KANT: KONTRIBUSI REVOLUSIONER DAN PENGARUHNYA DALAM FILSAFAT

Filed under: Philosophy — Tags: , , , , , — sudewi2000 @ 5:50 am

Oleh: Swary Utami Dewi

Immanuel Kant (1724-1804) merupakan filsuf paling berpengaruh dalam sejarah filsafat modern. Kant telah melakukan sesuatu yang luarbiasa yaitu mensintesakan dua aliran filsafat yang berlawanan pada masanya, yaitu Rasionalisme dan Empirisme melalui ”Revolusi Kopernikan”-nya. Dalam perkembangan selanjutnya, sintesa Kant mendorong aliran-aliran filsafat baru.Tulisan berikut akan menguraikan sintesa Kant terhadap Rasionalisme dan Empirisme melalui Revolusi Kopernikan-nya serta kelahiran aliran-aliran filsafat baru yang diilhami Kant

Seperti dijelaskan dalam Tjahjadi (2004: 281) dan Gaarder (2010: 502), Rasionalisme menyatakan bahwa akal budi (rasio) merupakan sumber pengetahuan. Dasar dari seluruh pengetahuan manusia ada dalam pikiran. Pengalaman hanya menegaskan apa yang telah ada dalam akal budi. Bertentangan dengan hal ini, Empirisme menyatakan bahwa sumber pengalaman hanyalah pengalaman indrawi. Dengan demikian, hanya yang bisa ditangkap indra saja yang bisa dijadikan dasar pengetahuan. Ini misalnya ditegaskan oleh salah satu penganut Empirisme, David Hume. Hume mengatakan bahwa semua hal yang non-indrawi hanya bisa diperkirakan. Karenanya, filsafat dan ilmu pengetahuan alam yang mengandalkan prinsip tidaklah bisa mencapai kepastian. Hanya kemungkinanlah yang bisa diraih.

Kant memiliki pandangan kritis tersendiri terhadap dua aliran tersebut. Terhadap pendapat Hume, Kant berkeyakinan bahwa hukum-hukum ilmu pengetahuan bisa mencapai kepastian dan berlaku secara umum. Pertanyaannya sekarang bagi Kant, bagaimana pengetahuan manusia bisa menangkap semua ini? Apakah ada syarat-syarat yang harus dipenuhi? Kant menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui usaha yang dikenal dengan sebutan ”Revolusi Kopernikan”. Jika Copernicus menyatakan bahwa matahari merupakan pusat tata surya dan bumi berputar mengelilingi matahari, maka Kant berupaya menunjukkan bawah pengenalan berpusat bukan pada Objek, melainkan pada Subjek (Tjahjadi, 2004).

Kenapa upaya Kant ini disebut revolusioner? Harus dipahami bahwa sebelumnya, filsafat dilihat sebagai suatu proses berfikir di mana ”Kita” sebagai Subjek mengarahkan diri kepada Objek (dalam hal ini dunia). Kant melakukan perombakan dengan cara membalik tradisi berfikir tersebut. Untuk diproses menjadi pengetahuan, Objeklah yang kini mengarahkan diri ke Subjek.

Dalam memahami bagaimana pengetahuan terjadi, filsafat Kant mengawali penyelidikan terhadap struktur-struktur Subjek yang memungkinkan manusia mengetahui benda-benda sebagai Objek (Tjahjadi, 2004: 282). Dalam proses pengetahuan manusia, Kant membedakan tiga tingkatan. Pertama adalah tingkat pemahaman indrawi, kedua tingkat akal budi dan yang tertinggi tahap budi atau intelektual. Pada tingkat pemahaman indrawi, Kant menegaskan bahwa pengetahuan merupakan gabungan dari unsur-unsur yang ada sebelum pengalaman (apriori), yaitu ruang dan waktu, dengan unsur-unsur yang diperoleh setelah pengalaman terjadi (aposteriori). Secara sederhana bisa dikatakan, pada tingkatan ini data-data indrawi berbaur dengan ruang dan waktu.

Menanjak pada tingkat kedua yaitu tingkat akal budi, intelektual bekerja mengolah input yang diperoleh dari tingkat terdahulu. Di sini ada ”kategori-kategori” yang merupakan konsep fundamental atau pengertian pokok yang memudahkan manusia dalam menyusun pengetahuan. Kant membagi 12 kategori yang bisa ditemui dalam akal budi, di antaranya kategori kausalitas. Pengetahuan diyakini terbentuk dari pengalaman ditambah dengan kategori-kategori akal budi (Tjahjadi, 2004: 284). Di sini, Tjahjadi (2004: 284-285) menegaskan bahwa Kant sekaligus menolak pandangan Hume yang berkeyakinan bahwa pengetahuan hanya mampu memberi kemungkinan, bukan kepastian.

Tingkatan tertiga sekaligus tertinggi dalam proses pengetahuan manusia adalah tingkat budi atau intelektual. Bagi Kant, intelektualitas memiliki tugas merangkum pengetahuan yang telah diperoleh pada tingkat sebelumnya dengan panduan pandangan tentang Jiwa, Dunia dan Allah (Tjahjadi, 2005: 285)

Melalui ”Revolusi Kopernikan” yang telah dilakukan, Kant berkesimpulan bahwa baik pengalaman indrawi maupun akal budi sama-sama memegang peranan penting dalam membentuk pengetahuan (Gaarder, 2010: 503). Dari sinilah kita bisa melihat bahwa Kant telah melakukan sintesa terhadap rasio yang diagung-agungkan oleh kaum rasionalis dengan pengalaman yang dipentingkan penganut empiris dalam rangka membentuk pengetahuan. Karena filsafat Kant meyakini bahwa realitas dikonstruksikan oleh ide, maka aliran ini disebut Idealisme.

Filsafat Kant (Idealisme) kemudian mempengaruhi lahirnya aliran-aliran filsafat pasca Kant. Idealisme Kant pecah menjadi dua aliran baru: Idealisme yang ”melanjutkan” pikiran Kant dan Positivisme (Hamersma, 1983: 33). Idealisme yang melanjutkan Kant dikembangkan oleh Fichte, Schelling dan Hegel pada zaman romantik. Idealisme yang menekankan unsur kesadaran ini dikenal dengan sebutan Romantisisme. Dalam novel filsafatnya, Dunia Sophie, Gaarder (2010: 533) menceritakan bahwa Kant telah menekankan pentingnya sumbangan ego terhadap pengetahuan. Dampaknya, penganut Romantisisme melakukan ”pemujaan ego” yang berlebihan, misalnya kejeniusan dalam kesenian (Gaarder, 2010: 534).

Akan halnya Positivisme, aliran ini dipandang melanjutkan skeptisisme Kant. Positivisme, yang dikembangkan Comte, meyakini bahwa pengetahuan haruslah didasarkan pada gejala-gejala. Fakta-fakta yang bisa dijadikan dasar pengetahuan adalah fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah. Hakekat kenyataan menjadi tidak berarti. Untuk mengetahui apa yang akan terjadi, manusia harus menyelidiki gejala-gejala dan mencaritahu hubungan antar gejala tersebut.Selanjutnya Hamersma (1983) menjelaskan bahwa filsafat Kant juga mempengaruhi Neokantianisme yang berkembang sekitar tahun 1900-an.

Dari uraian di atas nampak jelas peran penting Kant dalam mengawinkan Rasionalisme dan Empirisme, yang kemudian melahirkan Idealisme melalui dobrakan ”Revolusi Kopernikan”. Filsafat Kant terbukti tidak hanya berhasil melakukan sintesa, tapi juga mempengaruhi aliran-aliran baru dalam fisafat pasca Kant.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: