Sudewi2000’s Weblog

January 3, 2012

Hanya Tubuh Semata?

Filed under: Opinion, Philosophy — Tags: , , , — sudewi2000 @ 5:20 am

Dua tahun lalu, Ara, anak perempuanku yang saat itu masih berusia 8 tahun bertanya,  “ Mengapa banyak yang mengatakan perempuan yang disebut cantik harus seperti mereka yang terpilih menjadi Putri Indonesia dan Miss Indonesia? Apakah Kintan yang kulitnya coklat bisa dikategorikan cantik menurut orang lain?” Saat saya balik bertanya, apakah menurut pandangannya sang sepupu cantik, dia  mengangguk dan memberi penjelasan, “Menurut Ara, Kintan cantik. Sama seperti Ara melihat setiap perempuan itu cantik.” Pertanyaan ini nampaknya sederhana, tapi merunut pada pertanyaan lanjutan tentang apa itu tubuh yang ”kebetulan” dalam hal ini dibungkus oleh predikat ”cantik”.

Persoalan tubuh sekilas nampak sederhana, namun penting, mendasar dan akan selalu ada. Misalnya, terkait tubuh perempuan, dalam setiap zaman kita lihat selalu ada pendefinisian tentang kecantikan yang lekat dengan tubuh fisik perempuan. Botticeli misalnya melukis tentang perempuan dengan kriteria tubuh tertentu. Zaman Victoria menampilkan perempuan dengan tubuh dibalut torso yang menonjolkan bagian tertentu  (dada penuh dan pinggang ramping).  Abad ke-20 menampilkan ikon seperti Kate Moss, Marilyn Monroe dan Zsa Zsa Gabor, yang walaupun memiliki tampilan tubuh yang berbeda, namun tetap mengemukakan tubuh sebagai yang utama. Lalu, persoalan tubuh ini bukan hanya ”ranah” perempuan. Laki-laki sekarang misalnya banyak yang giat pergi ke pusat kebugaran atau meminum ramuan atau susu tertentu agar tubuhnya bisa berisi dan perut menjadi ”six-packs”.

Fenomena ini makin menjamur di abad ke-21 saat industri media massa “berkolaborasi” dengan industri kecantikan menampilkan ikon perempuan dan lelaki dengan “keunggulan” tubuh berdasarkan kriteria tertentu (tinggi, langsing dsb untuk perempuan; berotot, perut rata, tegap dsb untuk lelaki). Lagi-lagi tubuh ”tetap” menjadi begitu penting.

Lain lagi jika kita berhadapan dengan sekelompok orang yang meyakini bahwa tubuh secara fisik tidaklah penting. Bahkan bisa dijadikan ajang eksploitasi.Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia periode 1977-1982, seperti yang dikutip Adian Husaini (2010), menulis, ”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan …”

Semua fenomena ini ada dan terjadi di sekitar kita, setiap saat, di manapun dalam berbagai bentuk. Tubuh menjadi persoalan yang terus menerus disorot, ditonjolkan dan dibicarakan. Semua ini menimbulkan rentetan pertanyaan baru dalam diri saya.

Apakah tubuh itu sebenarnya? Apakah tubuh hanya semata tubuh yang “rentan” terhadap definisi dan kepentingan tertentu? Bagaimana dengan hal-hal lain yang memandang tubuh bukan hanya tubuh, tapi juga memiliki unsur jiwa dan pikiran? Semua ini menarik minat saya untuk lebih memahami apa itu tubuh dalam kaitannya dengan eksistensi manusia.

Pertanyaan metafisik tentang apakah tubuh itu bisa memiliki beberapa jawaban misal tubuh hanya semata tubuh, tubuh terdiri dari jiwa dan  raga yang terpisah, tubuh terdiri dari jiwa dan raga yang menyatu dan sebagainya. Dalam kuliah metafisika yang saya ikuti dan beberapa bahan bacaan yang saya dapatkan, ada beberapa penjelasan metafisika terkait tubuh tersebut.

Taylor (1992) dalam tulisannya menjelaskan bahwa ada pandangan materialisme mengenai tubuh (body). Tubuh dipandang sebagai benda material (a material thing), atau organisme hewan material yang hidup. Jika ini yang dipandang, maka menurut Taylor, seseorang hanya menjadi sejenis benda semata, tidak ada yang misterius maupun metafisik di dalamnya (Taylor, 1992: halaman 11). Jelas dalam pandangan ini, tidak banyak yang bisa dijelaskan terkait fenomena ”penonjolan tubuh” yang selama ini ditemui dalam berbagai bentuk.

Pandangan kedua mengenai tubuh adalah fisikalisme. Dijelaskan bahwa manusia merupakan benda fisik (a physical thing). Di sini, manusia dilihat hanya sebagai tubuh semata. Tanpa bermaksud untuk menuduh, bisa jadi inilah yang mendasari pandangan di balik pemikiran para penggerak industri kecantikan tubuh, bahwa tubuh adalah benda semata, sehingga tubuhpun bisa dibentuk sesuai kehendak atau konsep tertentu. Namun, apakah kita cukup berhenti sampai di sini saja melihat manusia hanya sebagai tubuh semata?

Lalu ada pandangan lain dari filsuf Yunani Kuno, Plato, memberikan tentang manusia. Plato memandang jiwa dan badan sebagai dua substansi yang berdiri sendiri. Badan atau tubuh dianggap penjara bagi jiwa. Paham ini disebut dualisme. Dalam pemahaman saya, jika tubuh dianggap sebagai penjara jiwa, maka bagaimana reaksi mereka yang berpegang teguh pada pandangan ini dalam upaya membebaskan jiwanya? Apakah akan terjadi pengabaian terhadap tubuh, misalnya, agar jiwa bisa terbebas? Ataukah ada ekspresi jiwa yang diwakili/tergambar oleh tubuh untuk menunjukkan pemberontakan jiwa terhadap tubuhnya? Ini masih merupakan tanda tanya bagi diri saya.

Pandangan mendasar lain tentang manusia diungkapkan oleh Thomas Aquinas. Seperti diijelaskan Tjahjadi (2004: halaman 143-144), Aquinas yang hidup pada zaman skolastik memandang bahwa pada manusia ada jiwa dan tubuh, dan keduanya dilihat sebagai hubungan antara bentuk atau aktus (jiwa) dan materi atau potensi (tubuh). Jiwalah yang menjadi bentuk badan sementara karena adanya jiwa, tubuh menjadi realitas. Jiwa manusia abadi karena bersifat rohani, sementara badan akan hancur binasa sesudah kematian. Pandangan inilah nampaknya yang sering saya jumpai pada saat saya berbincang tentang pemuka agama mengenai apa makna manusia bagi mereka. Dalam Islam misalnya, digambarkan bahwa manusia terdiri dari roh dan badan. Roh tersebut akan ditiupkan ke manusia saat janin dalam kandungan berusia 40 hari.

Pandangan terakhir ini pula yang mungkin sangat terkait erat dengan kegelisahan banyak orang saat mereka mengkritik fenomena penonjolan tubuh yang berlebihan dengan kriteria tertentu di zaman sekarang ini. Jika hanya tubuh yang ditonjolkan, maka di mana penempatan manusia terhadap jiwanya? Tanpa ingin menunjukkan bahwa pandangan yang satu lebih unggul, dalam melihat manusia, pandangan bahwa manusia terdiri dari jiwa yang menyatu dalam badanlah yang bagi saya lebih mudah pahami, di mana kemudian jiwa tersebut tetap ada saat badan lepas meninggalkannya saat kematian tiba.

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: