Sudewi2000’s Weblog

October 23, 2011

Camar Pemberontak dan Manusia Gua yang Terbebaskan

Filed under: Opinion, Philosophy — Tags: , , — sudewi2000 @ 3:02 am

Ditulis di Jakarta, 4 Oktober 2011

Dalam fabel yang ditulis oleh Richard Bach, Jonathan Livingston Seagull: A Story (Great Britain: Harper Element, Third Edition, 2003), diceritakan tentang seekor camar yang sejak dini menjadi berbeda dari kelompoknya. Alih alih hanya terbang untuk mencari makan dan melakukan hal-hal lazim yang dilakukan turun temurun bagi mereka yang terlahir sebagai camar, ia melakukan hal yang dipandang berbeda dan ”rebellious”, yaitu belajar terbang (learn to fly). Berbagai macam teknik terbang dan kebiasaan baru saat terbang yang tidak pernah dilakukan camar pada umumnya dipelajari dengan keras dan kemudian dipraktekkannya. Ia bahkan berani menghadapi resiko karena pilihannya tersebut: dibuang dari kelompoknya.

Burung Garuda dalam Event "Pancasila Rumah Kita", Tribute to Franky S, TIM Jakarta, 1 Juni 2011

Ketika berani mendobrak tradisi dan memutuskan untuk belajar terbang, Jonathanpun mendapat pencerahan dan menjadi camar yang berbeda dari camar lain pada umumnya. Saat belajar terbang itulah, Jonathan mendapatkan kesadaran tentang berbagai hal seperti pentingnya belajar, kunci dari keberhasilan belajar serta pentingnya berbagi saat apa yang telah dipelajari tersebut telah dikuasai.

Banyak pelajaran penting yang menarik dari novel tersebut. Pertama, pendidikan sangatlah penting dalam hidup. ”There’s so much to learn!” (page 5). Si camar Jonathan menyadari bahwa hidup tidak hanya untuk makan, seperti yang selama ini dipercaya harus dilakukan oleh para camar. Baginya, tujuan hidup adalah untuk mencari dan mengembangkan kemampuan. Maka, belajarlah ia tentang hal-hal yang dianggap tidak lazim, bahkan terlarang, seperti berbagai macam cara terbang (misal terbang rendah, terbang cepat dan lambat, dan akrobatik dengan kecepatan tinggi), terbang di malam hari dan tidur di udara.

Jonathan juga bisa menemukan ada banyak alasan untuk hidup bagi seekor camar selain dari makan, berkelahi atau memperebutkan kekuasaan di kelompok (page 48). Saat belajar terbang dengan begitu keras, Jonathan mendapatkan pencerahan tentang makna dan tujuan hidup bagi dirinya. “Instead of our drab slogging forth dan back to fishing boats, there’s a reason to life! We can lift ourselves out of ignorance, we can find ourselves as creatures of excellence and intelligence and skill. We can be free! We can learn to fly!” (page 17). Daripada hanya bolak-balik ke perahu nelayan untuk berebut ikan, si camar unik ini menemukan alasan untuk hidup, yaitu untuk bebas dan belajar terbang.

Yang tidak kalah pentingnya, Jonathan berani mengambil resiko terhadap keputusannya untuk berbeda, yaitu belajar terbang (learn to fly), meski untuk itu ia harus diusir dari kelompoknya oleh para tetua camar. Dalam hal ini terlihat, Jonathan memilih untuk berbeda dan melangkah maju serta menghadapi resiko dari pilihannya tersebut, dibandingkan tetap ada dalam kelompok yang masih terbelenggu oleh ketakutan dan batas-batas untuk belajar.

Dalam rangka belajarn kerap ditemui berbagai belenggu yang menghalangi. Karena itulah, Bach dalam bukunya ini menggarisbawahi pentingnya untuk lepas dari belenggu. Bahkan baginya, kunci untuk belajar dalam rangka mendapatkan kesempurnaan adalah dimulai dengan kesadaran untuk melepaskan diri dari belenggu. Dalam buku ini, Jonathan misalnya dianjurkan oleh sang Guru, Chiang, untuk berhenti melihat dirinya terperangkap dalam tubuh camar yang terbatas (page 53). Pentingnya membebaskan diri dari perangkap juga ditekankan Jonathan kepada muridnya: ”Everything that limits us  we have to put aside.” (page 70). “ Your whole body, …, is nothing more than your thought it self, in a form you can see. Break the chains of your thought, and you break the chains of your body, too…” (page 71).

Jadi, di sini terlihat belenggu dan kebebasan adalah dua hal yang terkait. Saat belenggu berhasil dilepaskan, saat itulah kebebasan diperoleh untuk melakukan pembelajaran ke arah yang lebih baik. Jonathan menekankan bahwa camar bebas untuk memilih pergi ke manapun mereka suka dan bebas menjadi apapun yang diinginkan  “We’are free to go where we wish and to be what we are,” (page 71). Jonathan bahkan mengajarkan kepada para muridnya bahwa hukum yang sejati adalah hukum yang membawa mereka pada kebebasan. “The only true law is that which leads to freedom… There is no other.” (page 77).

Ide tentang pentingnya kebebasan juga ditekankan oleh Fletcher (murid Jonathan) kepada murid-muridnya, ” To begin with.. you’ve got to understand that a seagull is an unlimited idea  of freedom, an image of the Great Gull, and your whole body, from wingtip to wingtip, is nothing more than your though itself.” (page 87). Jadi di sini ditekankan bahwa kebebasan adalah penting, meski ini kerap sulit dilakukan (page 84).

Kemampuan untuk membebaskan diri dari batasan dan belenggu ragawi dalam rangka mengejar kesempurnaan, bagi Jonathan, bisa dilakukan oleh siapapun. ”Look at Fletcher…Are they also special and gifted and divine? No more than you are, no more than I am. The only difference, the very only one, is that they have begun to understand what they really are and have begun to practice it.” (page 77). Di sini digarisbawahi bahwa satu-satunya yang membedakan mereka yang mampu belajar adalah mereka paham tentang hakikat diri dan mulai menjalankan apa yang dipahami. Apa yang kita percayai tidaklah penting. Yang esensial adalah mengerti dan memahami apa yang dipelajari, ”You didn’t need faith to fly, you needed to understand flying.” (page 53).

Saat belajar, dijelaskan oleh Jonathan bahwa hal tertinggi untuk dipelajari, sekaligus yang tersulit, namun paling menyenangkan adalah untuk memahami hakikat kebaikan (kindness) dan cinta (love). Juga, ditemui pelajaran untuk memaafkan dan bahkan menolong pihak yang selama ini dianggap tidak paham dan menyakiti (page 59, 85). Cinta dan kebaikanlah yang membuat kita mampu memaafkan. ”You have to practice and see the real gull, the good in every one of them, and to help them see it in themselves. That’s what I mean by love..” demikian penjelasan Jonathan kepada muridnya Fletcher Lynd (page 85).

Pelajaran menarik lain dalam bacaan ini adalah pentingnya belajar untuk mengajar, belajar untuk kemudian berbagi apa yang dipelajari kepada yang lain, meski yang lain pernah menyakiti, atau akan menolak dan mentertawakan.  Jonathan melakukan ini saat ia selesai berguru dengan Chiang. Hal ini juga dilanjutkan oleh sang murid, Fletcher Lynd.

Bagi yang pernah menyimak buah pikiran filsuf Yunani terkenal, Platon (ditulis dan dibaca Platon, bukan Plato), the Republic book 7, ada beberapa insight serupa dengan fabel Bach tersebut. Di dalamnya, secara singkat digambarkan tentang para manusia gua yang sejak kecil terbelenggu kaki dan lehernya, sehingga mereka tidak mampu bergerak dan hanya mampu melihat ke depan. Ada cahaya api yang menerangi gua samar-samar sehingga yang bisa dilihat oleh mereka hanyalah bayangan benda-benda belaka, termasuk bayangan diri mereka sendiri. Saat salah seorang manusia gua terlepas dari belenggunya, dipastikan banyak hal-hal baru yang dipelajarinya

Buah pikiran Platon dan Bach menyiratkan tentang pentingnya belajar dalam hidup.

Untuk belajar dan memahami sesuatu yang lebih baik, manusia perlu bebas dari berbagai perangkap, belenggu atau keterbatasan. Jonathan berhasil membebaskan diri dari tradisi lama para camar (terbang untuk mencari makan), juga tradisi sebagai seekor camar yang hanya terdiri dari bulu, daging dan tulang (perangkap ragawi). Saat ia bebas dari belenggu, ia bisa belajar menuju kesempurnaan. Hal ini juga ditunjukkan oleh Platon dalam cerita manusia guanya. Manusia gua yang bisa belajar melihat kenyataan yang sebenarnya — tidak hanya ilusi atau bayang-bayang– bahkan bisa melihat hakikat atau ide dari kenyataan itu, memulainya dengan membebaskan diri dari belenggu yang telah menjerat begitu lama.

Hal lain yang juga penting dalam kedua bacaan itu adalah keduanya menunjukkan adanya proses dalam perkembangan pemikiran. Si Jonathan memulainya dari proses melepaskan diri dari belenggu, kemudian berlanjut hingga tahap ke yang paling tinggi yaitu belajar mengenai hakikat cinta dan kebaikan (melalui kontemplasi kemudian  menjalankannya dengan cara berbagi pengetahuan kepada yang lain). Sementara itu, dalam cerita manusia gua, Platon menggambarkan proses perkembangan pemikiran yang dilalui si manusia gua yang terbebas melalui tahap belajar melihat kenyataan di luar bayangan, tahapan melihat melalui pantulan di air, melihat benda yang asli, sampai memahami hakikat dari benda tersebut.

Hal yang menarik lainnya serta menjadi benang merah dari kedua bacaan di atas adalah saat seseorang memutuskan untuk lepas dari belenggu dan memutuskan untuk belajar dan ”mengalami proses perkembangan pemikiran”, kesiapan menghadapi resiko, cemooh dan berbagai bentuk lainnya merupakan sesuatu yang harus ada dan menjadi bagian dari sikap berani berbeda tersebut.

Intinya, bisa dikatakan ketika manusia mampu membebaskan diri dan memutuskan untuk mengejar mimpi, saat itulah ia menemukan kebebasan sejati dan kemampuan melangkah untuk mendapatkan pencerahan dalam hidupnya.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: