Sudewi2000’s Weblog

October 9, 2011

BEBERAPA PEMIKIRAN XENOPHANES DAN HERAKLEITOS (Disarikan 26 September 2011)

Filed under: Philosophy — Tags: , , , — sudewi2000 @ 4:31 pm

Dalam sejarah filsafat Yunani, ada beberapa filsuf yang dianggap penting. Dua di antaranya adalah Herakleitos dan Xenophanes. Xenophanes dari Colophon dipandang berkontribusi pada dua area pemikiran, yaitu teologi dan epistemologi. Dia adalah guru dari Parmenides. Selain sebagai filsuf, dia juga dikenal sebagai penyair. Xenophanes juga dikenal berani mengkritik Homeros dan Hesiodos, dua penyair Yunani yang sangat terkenal pada masanya.

Sementara itu, Herakleitos adalah seorang filsuf yang hidup pada tahun 550-480 SM. Walau tidak banyak data yang menggambarkan kehidupan filsuf ini, dia tercatat hidup di Efesus, sebuah kota penting di Pantai Ionia, Asia kecil. Dia dikenal sebagai Si Gelap karena perkataannya yang sukar dipahami. Namun demikian, dia dipandang sebagai filsuf penting dalam sejarah filsafat Yunani, setelah Parmenides.

Berikut ini adalah intisari dari dua filsuf dari masa prasokratik tersebut yang disarikan dari beberapa bab buku The Presocratics karya James Warren (Stocksfield: Acumen, 2007).

XENOPHANES

Gods and men (Tuhan dan manusia)

Xenophanes memulai telaahan teologisnya dengan memperlihatkan bahwa penggambaran Tuhan berbeda dari suatu budaya ke budaya lain. Misalnya, orang Ethiopia mengatakan Tuhan berhidung pesek dan berambut hitam; Sementara bagi orang Thracia, Tuhan bermuka pucat dan  berambut merah. Bisa jadi kita melihatnya sbg argumen relativis, namun Xenophanes tidak bermaksud demikian. Menurut Xenophanes, jika ditanya kepada orang Yunani maupun Scythia, keduanya pasti akan menjawab berbeda tentang gambaran Tuhan-nya. Dan, bagi Xenophanes, kedua jawaban tersebut benar.

Penggambaran yang berbeda mengenai Tuhan dari suatu masyarakat ke masyarakat lainnya membuat sebagian orang berpandangan bahwa Tuhan tidak lain selain dari konstruksi manusia itu sendiri. Selain itu, perbedaan ras dan budaya juga akan berpengaruh pada gambaran Tuhan. Walaupun sepakat dengan pandangan bahwa Tuhan digambarkan berbeda pada budaya yang berbeda, Xenophanes tidak berpandangan skeptis tentang keberadaan Tuhan, tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak. Perhatiannya adalah pada telaahan tentang gambaran Tuhan.

Hal selanjutnya yang perlu dilihat adalah pandangan Xenophanes terhadap sikap chauvinistik. Saat Tuhan digambarkan berbeda oleh masyarakat dan budaya yang berbeda, bisa jadi dari semua tampilan tersebut, mungkin hanya satu yang benar, atau bahkan tidak ada satupun yang benar. Namun yang kerap muncul adalah masing-masing merasa, dialah yang paling benar. Di sinilah kemudian pandangan chauvinistik Yunani mencuat karena merasa penggambaran dewa-dewa merekalah yang paling benar. Kritik Xenophanes terhadap klaim superioritas tersebut terlihat dari komentarnya berikut:

“But if oxen, horses, or lions had hands or could draw with their hands and create works as men do, then horses would draw images of gods just like horses, and oxen images just like oxen and they would make the bodies of the gods like those they themselves had”. (halaman 43, dikutip Warren dari DK 21 B15)

Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut: “Namun andaikan sapi, kuda atau singa memiliki tangan atau bisa menggambar dengan tangannya dan menciptakan karya seperti halnya manusia, maka kuda akan menggambarkan tampilan dewa-dewa seperti kuda, dan sapi akan menggambarkannya seperti halnya sapi serta mereka akan menciptakan tubuh para dewa seperti yang mereka miliki.”

Sikap chauvinistik bisa saja terjadi pada masyarakat manapun. Masing-masing bisa merasa penggambaran Tuhan-nyalah yang paling benar. Jika ini terjadi dan semua merasa paling benar, lantas siapakah yang kemudian bisa bertindak sebagai penentu tentang penggambaran Tuhan yang paling benar? Orang Yunani merasa merekalah yang paling bisa memutuskan, dan ini tentu saja sesuai pandangan mereka. Demikian pula halnya masyarakat lain.

Bagaimana kita bisa menelaah lebih lanjut terhadap perdebatan tersebut di atas? Di sini, ada tiga opsi yang bisa diambil. Pertama, jika masing-masing tetap merasa paling benar dan menolak pandangan yang lain didasarkan pertimbangan superioritas, maka apa yang mendasari klaim superioritas tersebut bisa ditelaah. Kedua, jika masing-masing merasa bahwa perdebatan tentang siapa yang paling benar tidak akan berujung, maka inilah saat yang tepat untuk memikirkan bahwa pertanyaan tentang gambaran Tuhan tidak bisa terpecahkan. Jika ini terjadi, seharusnya mereka mengabaikan semua kepercayaan terdahulu dan melangkah pada tahap meragukan.

Opsi ketiga, diputuskan bahwa yang paling masuk akal adalah untuk mengakui tidak ada satupun pandangan terdahulu yang benar. Oleh sebab itu, sebaiknya dilakukan telaahan baru tentang penggambaran Tuhan dengan syarat: menanggalkan pandangan yang selama ini diwarnai oleh latar budaya. Opsi ketiga inilah yang dijalankan Xenophanes. Dia menekankan perlunya melanjutkan telaahan terkait pandangan tentang gambaran Tuhan yang berbeda-beda, untuk kemudian menawarkan kesimpulan yang bisa dibuktikan atau paling tidak, yang masuk akal.

Teologi positif Xenophanes didasarkan pada dua premis. Premis tersebut tidak tertulis eksplisit, tapi secara tersirat bisa dipahami. Premis pertama, Xenophanes yakin bahwa Tuhan ada. Itulah yang kemudian mendorongnya  melakukan telaahan untuk melihat seperti apakah Tuhan itu. Penampakan atau penggambaran Tuhan (the gods’ appearence) inilah yang menjadi kajian pertamanya.

Premis kedua, tersirat dalam ungkapan Xenophanes terkait uraian Homer dan Hesiod tentang Dewa-dewa Yunani, ”Homer and Hesiod attributed to the gods all those things which bring criticism and censure among humans: theft, adultery and deceiving one another.” (halaman 46, dikutip Warren dari DK 21 B11). Tingkah laku para dewa inilah yang selanjutnya menjadi kajian Xenophanes. Baginya, para dewa yang dipandang superior dibandingkan manusia, seharusnya tidak bertingkah laku seperti yang banyak diuraikan Homer dan Hesiod. Standar tingkah laku para dewa seharusnya lebih tinggi dan lebih baik dari manusia karena klaim superioritas tersebut. Adalah ganjil jika dewa digambarkan sebagai kaum yang melakukan: pencurian, perzinahan dan saling membohongi.

Sebagai gantinya, Xenophanes memiliki gambaran tersendiri tentang Tuhan. Baginya, ada satu Tuhan yang ter-Maha, yang melampaui para dewa dan manusia, memiliki tubuh dan fikiran yang berbeda (lihat DK 21 B23). Tuhan melihat, berfikir dan mendengar, tidak seperti halnya manusia Ini menunjukkan kritik Xenophanes terhadap para dewa versi Homer dan Hesiod. Menurutnya, Tuhan seharusnya tidak berfikir seperti manusia, tidak memiliki ambisi, kedengkian dan sebagainya, tidak bertikai seperti layaknya manusia (penjelasan dari DK 21 B24).

Namun saat Xenophanes mengatakan “one god”, ada pertanyaan di sini. Ada fragmen di mana dia menyebut “gods”, tapi ada juga “a single god”. Ini bisa menimbulkan pertanyaan apakah Xenophanes adalah seorang monoteis, politeis atau dia hanya tidak konsisten atau ceroboh. Menanggapi hal ini, ada penegasan bahwa tidak ada alasan Xenophanes untuk melepaskan ide tentang pluralitas Tuhan, meskipun dia berfokus pada satu Tuhan yang utama (lihat halaman 48, paragraph 2).

Enquiry and belief (telaahan dan kepercayaaan)

Telah diketahui, bahwa Xenophanes tidak memandang semua kepercayaan manusia dapat diandalkan. Kepercayaan teologis, khususnya, sangat dipengaruhi konteks lingkungan dan budaya. Kepercayaan manusia memiliki batas. Ini diperlihatkan Xenophanes dalam sejumlah fragmennya. Fragmen terpanjang yang menunjukkan keterbatasan manusia dalam merengkuh pengetahuan ada di fragmen B34:

No man has seen what is clear, nor will there be anyone who knows about the gods and all the things I say about everything. For if someone should happen to say precisely what is the case, still he would himself not know. Rather, belief covers everything.” (halaman 50, dikutip Warren dari DK 21 B34)

Dalam kalimat pertama, Xenophanes bermaksud menyatakan tidak seorangpun akan bisa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya tentang Tuhan dan segala sesuatu. Namun, dia melanjutkan, meski seseorang mendapatkan kebenaran, orang tersebut tidak akan tahu. bahwa dia telah melakukannya.

Untuk kalimat kedua ini, ada dua tafsir yang bisa dilakukan. Tafsir pertama adalah dengan membaca yang tersirat (internalist reading) dan kedua dengan tafsir eskternalis. Namun, yang manapun dipilih, kita selalu ditawarkan pada dua hal yang berlawanan: kepercayaan atau spekulasi (dokos) dan pengetahuan tentang apa yang jelas dan benar (to saphes). Bagi Xenophanes, memiliki kepercayaan yang benar saja tidaklah cukup karena selanjutnya kita perlu mempertimbangkan bagaimana menjustifikasi bahwa kepercayaan tersebut memang benar.

Tema epistemologis juga terlihat pada fragmen berikut: “Indeed, the gods did not show everything to mortals from the beginning, but in time, by searching, they discover better” (halaman 52 paragraf 2, dikutip Warren dari DK 21 B18). Di sini, Xenophanes menekankan bahwa kemajuan dan penemukenalan (progress and discovery) adalah mungkin. Yang diperlukan manusia adalah lebih banyak mengkaji/ menelaah. Dan apabila ini dilakukan dengan tepat, pada waktunya kemajuanlah yang akan dicapai. Namun sayang, Xenophanes tidak menguraikan bagaimana cara kita melakukan telaahan tersebut dan penemukenalan apa yang akan diperoleh.

Pesan lain yang bisa diambil dari fragmen DK 21 B18 adalah kita tidak bisa mengharapkan begitu saja bahwa Tuhan akan memberikan kita jawaban. Diri manusialah yang harus melakukan penelaahan kritis. Sejauh yang kita bisa katakan, penemukenalan apapun adalah hasil sepenuhnya dari usaha manusia.

HERAKLEITOS

Serupa dengan Xenophanes, Herakleitos memiliki ketertarikan tentang moralitas dan teologi. Dia juga memiliki perhatian tentang cara yang tepat untuk memahami  pengetahuan, kebijaksanaan dan keahlian. Namun ada beberapa hal yang membuat pemikiran Herakleitos berbeda dari Xenophanes maupun pemikir lainnya. Fragmen-fragmennya, ketika dipadukan dan ditafsirkan secara menyeluruh, akan memperlihatkan tidak hanya pandangan tentang semesta, melainkan pula pandangan tentang letak manusia di dunia. Dan yang terpenting lagi, akan terlihat pendapat Herakleitos tentang bagaimana seharusnya manusia berfikir tentang dirinya dalam kaitannya dengan dunia yang ditempati manusia. Tidak bisa dipungkiri, meski memiliki cara pengungkapan pikiran yang berbeda, dia merupakan salah satu filsuf berpengaruh dari zamannya dan menjadi acuan banyak filsuf sesudahnya.

Mungkin tepat kiranya jika dikatakan fragmen-fragmen peninggalan Herakleitos sebagai oracle yang mengandung teka-teki dan tidak mudah dipahami. Fragmen-fragmennya sangat pendek, umumnya berupa pernyataan satu atau dua kalimat. Pernyataannya bersifat ambigu dan tidak simpel. Diakui, sangatlah sulit untuk mengkaji fragmen tersebut dan mengkonstruksikan sebagai suatu “Heraclitean Philosophy” yang jelas dan konsisten. Kerap dibutuhkan interpretasi yang cermat dan kadang-kadang tambahan signifikan untuk menghasilkan pikiran utuh yang memuaskan.

Pernyataan yang bersifat ambigu dan sering membingungkan dari Herakleitos bisa jadi dimaksudkan agar pembaca terpicu untuk berfikir lebih jauh. Nampaknya bagi Herakleitos sangat penting untuk membuat pembaca memiliki pemahaman tersendiri atas fragmennya dibandingkan menerima begitu saja pandangannya dalam fragmen tersebut. Yang membaca dipicu untuk memiliki dorongan diri (self-driven) untuk menggali dan mempertanyakan fragmen-fragmennya.

The opening (pembukaan)

Berikut merupakan merupakan salah satu fragmen terpanjang dan berfungsi sebagai pengingat dari filosofi Herakleitos:

This logos being the case always men fail to understand (axunetoi), both before they hear and when first they have heard it. For, although all things come to be according to this logos, they seem to be unaware as they try out both the words and deeds of the sort that I set out by distinguishing each thing according to nature and saying how it is. Other men do not pay attention to what they do when awake, just as they do not pay attention to what they do when asleep. (dikutip Warren dari DK 22 B1)

Di sini Herakleitos mulai dengan  menjelaskan kenapa kita gagal memahami kebenaran. Pada saat yang sama, dia mengajak pembaca untuk menelaah lebih jauh pernyataan yang diajukannya. Sebagai contoh, lihatlah kata logos yang ada di fragmen tersebut. Logos bisa dipakai hanya sebagai satu kata tunggal, dipakai dalam pernyataan, ataupun dalam penggunaan linguistik lain yang panjang (misal dalam argumen atau cerita). Dalam bahasa Yunani, logos memiliki banyak makna. Ia bisa bermakna pemikiran, evaluasi, relasi atau rasio.

Dalam fragmen di atas, karena diletakkan di bagian awal kalimat, logos bisa berarti apa yang akan Anda baca. Namun saat melangkah lebih jauh meneliti kalimat tersebut, muncullah hal yang lebih rumit. Saat ditemui kata “always” (selalu) dalam kalimat yang sama, timbullah ambiguitas. Apakah “always” di sini menjelaskan kata yang mendahuluinya (yaitu“the case”) ataukah kata sesudahnya (yaitu “men always fail to understand”), atau bahkah menjelaskan keduanya? Perlu pemikiran mendalam untuk memahami bahwa yang mungkin dimaksud adalah “logos is always the case”. Karenanya, logos di sini bisa bermakna “the subject matter of his description, not just the description it self” (lihat halaman 61).

Selain itu, untuk memahami maksud logos di sini, bisa juga kita melihat pernyataan lain yang memuat kata tersebut. Dalam DK 22 B50, tertulis: “Listening not to me but to logos, it is wise to agree (homologein) that all things are one.” Jika dikaitkan, di sini nampaknya kita diajak untuk memisahkan logos dari isi karya (content) yang telah dinyatakan Herakleitos (lihat halaman 62: “to separate the logos from the precise content of what Heraclitus is saying”). Sebagai gantinya, kitalah yang harus berfikir sendiri dan mencoba menyimak langsung logos tersebut.

Hal di atas menunjukkan tidaklah mudah untuk memahami fragmen Herakleitos. Lebih dari itu, yang perlu dicatat di sini, dia melalui logos-nya mendorong kita untuk sadar dan berfikir sendiri, tidak hanya terpaku pada teks yang ada. Dengan kata lain, dia mengajak pembacanya untuk menjadi sadar dan berpikir lebih luas tentang dunia sekitarnya.

Cosmology and fire (kosmologi dan api)

Seperti halnya beberapa pendahulunya, Herakleitos tertarik dengan alam semesta. Jika Thales berpendapat segala sesuatu berasal dari air, maka dia berpendapat bahwa kosmos berasal dari api. Ini erat kaitannya dengan logos B50 yang berbunyi: “all things are one”. Di sini kita bisa memahami saat mengatakan segala sesuatu berasal dari satu sumber (monism), Herakleitos mengacu pada api sebagai sumber materi tersebut.

Mengapa dalam kosmologi Herakleitos, api memainkan peran terpenting? Apa yang menyebabkan dia terpesona pada api? Ada beberapa bukti yang menunjukkan Herakleitos mengaitkan api dengan kemampuan dan peran untuk mengatur dan memerintah (governing capacity, directive role, regulatory role). Dalam DK 22 B64 dikatakan: “All things the thunderbolt steers”. Baginya, pijar apilah yang mengatur semua.

Selain itu, Herakleitos memandang api memiliki sifat dinamis, perlu diberi umpan atau bahan bakar, dan mampu menghasilkan perubahan yang menakjubkan dalam mengubah bahan bakar menjadi panas cahaya. Sifat-sifat api ini sesuai dengan Herakleitos yang memiliki ketertarikan pada perubahan dan transformasi (change and transformation).

Opposition and unity (pertentangan dan kesatuan)

Herakleitos juga tertarik pada pertentangan dan kesatuan. Perhatiannya adalah pada kesatuan yang dihasilkan dari pertentangan yang nampak. Contoh mengenai hal ini bisa dilihat dari DK 22 B61: “Sea: purest and foulest water; for fish drinkable and nourishing, for humans undrinkable and deadly.” Di sini, laut dilihat sebagai yang paling suci dan paling kotor (purest and foulest). Saat mengatakan dua hal tersebut, dia menunjukkan pertentangan sifat laut. Satu sisi, laut bisa menyelamatkan kehidupan, dan di saat yang sama mampu menghancurkan kehidupan. Namun kedua hal tersebut menyatu dan ditemui di laut. Beberapa contoh lain yang juga menunjukkan pertentangan dan penyatuan adalah: siang dan malam, musim dingin dan panas, perang dan damai, serta lapar dan kenyang.

Rivers (sungai)

Ketika berbicara tentang sungai, ungkapan Herakleitos yang terkenal terkait dengan ”stepping into a river”. Beberapa contoh fragmennya adalah: ”It is not possible, according to Heraclitus, to step twice into the same river” (DK 22 B91); ”Into the same rivers we both step and do not step; we both are and are not” (DK 22 B49a); “On those stepping into the same rivers different and then different waters flow” (DK 22 B12).

Dari ide sungai inilah kemudian muncul slogan yang selalu dikaitkan dengan pemikiran Herakleitos, yaitu panta rhei: segala sesuatu mengalir (“everything flows”). Dengan menggunakan perumpamaan sungai, dia ingin kita memahami bahwa segala sesuatu mengalir seperti air dan mengalami perubahan yang terus menerus (flux).

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: