Sudewi2000’s Weblog

December 31, 2009

SELAMAT JALAN GUS DUR

Filed under: My Self, Opinion — Tags: , , — sudewi2000 @ 9:08 am

Ketika mendapat sms dari temanku kalau Gus Dur wafat, entah kenapa ada rasa nelangsa. Rasa kehilangan yang amat sangat. Rasa ini sama sewaktu aku mengikuti sholat jenazah tokoh Masyumi “terakhir”, Anwar Harjono, di Mesjid Al Azhar tahun 1999. Juga ketika mendengar wafatnya Cak Nur. Sama perihnya ketika aku menguburkan papahku hampir dua tahun lalu di Palangka Raya.Sambil menitikkan air mata, aku mengirim sms duka cita tersebut ke para sahabat. Ada yang baru tahu, kebanyakan juga sudah mendapat kabar atau mendengar dan melihat dari televisi. Semua merasa kedukaan yang mendalam.

Aku memang tidak terlalu kenal dekat Gus Dur. Hanya pernah mengikuti kuliahnya beberapa kali di Paramadina tahun 90-an atau di tempat-tempat lain. Atau diajak melihat Gus Dur oleh seorang sahabat di YISC Al Azhar yang dikenal begitu dekat dengan beliau. Tahun 1990-an sewaktu menjadi MC di suatu kegiatan dan Gus Dur datang untuk memberikan kata sambutan, temanku tersebut memintaku mengingatkan Gus Dur bahwa acara akan dimulai. Gus Dur sedang melahap bubur ayam. “Kamu jadi apa di situ?” tanya Gus Dur. “Jadi MC,” jawabku.

“He he. Acara tidak akan dimulai juga karena MC-nya sedang menemani sarapan,” canda Gus Dur.

Ya, Gus Dur memang terkenal suka bercanda. Dalam ceramahnya, ia kerap melontarkan humor. Humor Gus Dur tidak hanya humor kosong, tetapi humor cerdas berisi. Suatu saat Gus Dur pernah melontarkan joke, saat dia sedang naik kereta dan kereta berhenti di suatu stasiun, tiba-tiba terdengar pengumuman. “Semua intel di harap berkumpul di depan meja informasi,” demikian lontarnya.

Kemudian tiba-tiba Gus Dur terkekeh dan melanjutkan. “Katanya intel…. Kok ngaku…” Spontan yang hadir langsung tertawa terbahak.

Saat lain, ketika sedang memberikan ceramah juga, Gus Dur dengan tiba-tiba melontarkan ulasan tentang klub sepakbola Italia kesayangannya, Lazio. Yang hadirpun terdiam mendengarkan dan aku yakin, mereka merasa Gus Dur bukanlah tokoh kyai mistis yang susah diraih. Bolapun dia gemari, sama seperti kebanyakan masyarakat di Indonesia.

Gus Dur bahkan pernah menceritakan tentang uniknya pernikahannya dengan Sinta Nuriyah tahun 1968. Karena dia sedang menuntut ilmu di luar, maka waktu pengantin bersanding, Gus Dur yang sudah yatim sejak usia belasan tahun, meminta kakeknya untuk mendampingi Bu Nur di kursi pelaminan. Otomatis saat itu banyak yang mengira kalau Bu Nur bersuamikan laki-laki tua. He he, inilah cerita yang menurutku paling seru dari Gus Dur. Dan dari sini pula, kita bisa melihat sosok Gus Dur sebagai pribadi hangat dan terbuka.

Tidak usah panjang lebar diceritakan, bagaimana sisi kepedulian Gus Dur begitu hidup dan berkembang dalam dirinya. Saat sudah sakit-sakitan, tahun 2000-an, aku pernah bertemu Gus Dur bersama sahabatku dari Fathayat NU sewaktu ada keluarga dari TKW yang datang mengadu ke PBNU. Gus Dur menyambut keluarga tersebut di ruang kerjanya. Dia menunjukkan kepedulian dan solidaritasnya pada nasib TKW dan keluarganya yang datang dari kalangan kebanyakan.

Yang lain, sisi humanis dan lintas batas Gus Dur, membuatnya begitu dekat dan kenal dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, tanpa membedakan ras, suku dan agama. Gus Dur juga terkenal sebagai “Bapak Pelindung Minoritas”. Saat dia menjabat sebagai presidenlah, agama Kong huchu misalnya, diakui. Kaum Tionghoa bisa mengekspresikan keunikannya dengan bebas, tanpa takut dicap ini itu seperti zaman orde baru dulu. Bahkan perayaan imlek dijadikan hari libur nasional.

Terakhir, sesudah lama tidak bertemu, aku bertemu Gus Dur, awal Oktober 2009. Saat itu, suatu lembaga memberikan surprise peluncuran buku sebagai hadiah ultah ke 70 bagi Djohan Effendy, sahabat Gus Dur, yang kuanggap sebagai ayahku. Saat Gus Dur datang, bersama-sama Greg Barton, penulis biografi Gus Dur, dan anaknya Hannah, kami menyambut Gus Dur. Hannah berteriak senang, ketika tahu Gus Dur masih mengingatnya dengan baik.

Ketika panitia masih tidak membolehkan siapapun masuk ke aula karena masih persiapan acara, Gus Dur dan beberapa undangan yang sudah “sepuh” ditempatkan di ruang khusus. Di dalamnya ada beberapa orang termasuk Clara Juwono, Kyai Hussein Muhammad, Djohan Effendi dan istrinya. Aku beruntung bisa masuk dan mendengar obrolan dan tawa canda mereka.

Ketika pengawal Gus Dur meminta tolong untuk mengambil mie yamin untuk Gus Dur, aku sempat bertanya apa Gus Dur boleh memakannya. Dijawab, tidak apa-apa. Dan memang, Gus Dur makan dengan lahap.

Maka, saat berita duka itu kudengar tanggal 30 Desember malam, saat itu pula harus kuakui, aku merasa kehilangan. Upayaku mendapat tiket pagi tanggal 31 Desember dari Banjarmasin ke Surabaya tidak membuahkan hasil. Aku sempat curhat kepada beberapa sahabat seperti Ciciek Farkhah dan Ya’qut (anak ulama besar Cholil Bisri). Juga kepada Romo Mudji Sutrisno. Semua menganjurkan untuk berdoa dari jauh. Kepada Ya’qut yang datang ke Jombang dari Rembang bersama pamannya, Mustofa Bisri, aku menitipkan salam duka dan doaku dari jauh.

Gus Dur memang telah tiada. Bapak dari “segala hal” yang luar biasa dan unik ini telah pergi meninggalkan kita. Tapi aku yakin, banyak pelajaran yang telah ditinggalkan kepada kita semua, baik untuk yang dekat dan kenal langsung dengannya, maupun yang sesekali bersentuhan seperti aku.

Saat kesedihanku masih terasa, aku keluar rumah, dan melayangkan pandang kepada anggrek hitamku yang telah mekar beberapa hari ini, untuk kemudian gugur layu. Aku tersenyum, teringat Gus Dur dan kemudian memutuskan menuliskan perasaanku ini. Layaknya anggrek hitam Kalimantan, Gus Dur memang sosok langka, tapi dia ada. Beruntunglah kita bangsa Indonesia yang sempat memilikinya secara fisik dan akan selalu memiliki semangat dan pemikirannya sepanjang masa. Selamat jalan Gus Dur.

Banjarbaru, 31 Desember 2009

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: