Sudewi2000’s Weblog

September 13, 2009

TORAJA YANG MEMPESONA (3): BATUTUMONGA DAN BORI

Mei 2007

Batutumonga

“Jika ingin menikmati keindahan Tana Toraja dari ketinggian, pergilah ke Batutumonga”. Demikian pesan seorang kawan kepadaku ketika tahu aku akan ke Toraja. Karena itu, dari Lokomata, yang terletak di lereng Gunung Sesean, beranjaklah aku dan beberapa teman, dengan mobil, mendaki sampai ke Batutumonga.

Di sepanjang jalan berliku dan mendaki, pemandangan cantik menjadi suguhan mempesona. Aku juga sempat terpana menyaksikan sorot ekspresif wajah seorang perempuan tua Toraja yang kutemui di jalan.

Perempuan Toraja di Wilayah Sesean (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)Perempuan Toraja di Wilayah Sesean (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)

Pemandangan dari Batutumonga (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)Pemandangan dari Batutumonga (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)

Batutumonga sendiri terletak di lereng Gunung Sesean yang merupakan gunung tertinggi di Toraja. Letaknya sekitar 2 km dari Lokomata. Tempat ini selain terkenal karena keindahan alamnya, juga memiliki udara sejuk. Tidaklah heran jika Batutumonga menjadi semacam Puncak bagi orang-orang Toraja. Sayangnya, setengah perjalanan menuju tempat ini, hujan deras turun. Mobilpun terpaksa merambat naik perlahan.

Kabut yang menutupi, membuatku tidak bisa menikmati keindahan secara menyeluruh. Akhirnya kami memutuskan berhenti di suatu warung untuk menikmati kopi Toraja sebagai penghangat badan, sembari menunggu hujan reda.

BORI

Ketika hujan sudah berhenti dan kabut telah menepis, perjalananpun dilanjutkan ke tempat terakhir yang juga masih terletak di wilayah Sesean. Tempat tersebut adalah Bori.

Papan Penunjuk ke Arah Bori, Situs Purbakala (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)

Papan Penunjuk ke Arah Bori, Situs Purbakala (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)

Di Bori, obyek wisata utamanya adalah rante yang merupakan tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan batu menhir atau megalit. Dalam bahasa Toraja batu menhir ini disebut simbuang batu. Jumlah total batu menhir di sini sebanyak 102, terdiri dari 24 buah berukuran besar, 24  sedang dan 54 berukuran kecil. Besar kecilnya ukuran batu menhir ini tidak menjadi masalah karena secara adat mereka memiliki nilai kepercayaan dan prestise yang sama.

Kumpulan Batu Menhir di Bori (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)Kumpulan Batu Menhir di Bori (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)

Setiap simbuang batu dibuat saat upacara penguburan tingkat tertentu dilaksanakan bagi seorang pemuka masyarakat. Tidak sembarang upacara bisa dibuatkan sebuah batu menhir. Hanya mereka yang memenuhi tingkat Rapasan Sapurandanan yang bisa dibuatkan menhir tersebut, yaitu jika pada upacara penguburannya dipotong paling tidak 24 ekor kerbau.

Yang menjadi keunikan menhir di Bori, bukan hanya terletak pada jumlah kerbau yang dipersembahkan pada saat upacara penguburan. Tradisi yang melekat erat sejak ratusan tahun dalam bentuk pembuatan menhir, menjadikan bori bisa dipandang sebagai obyek wisata kuno.

Salah Satu Situs Bekas Upacara Pemakaman di Bori (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)

Salah Satu Situs Bekas Upacara Pemakaman di Bori (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)

Salah Satu Bangunan di Bori (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)

Salah Satu Bangunan di Bori (Foto: Swary Utami Dewi, Mei 2007)

Tahun 1657, berdasarkan catatan, Bori mulai dipergunakan sebagai tempat upacara. Saat itu dilakukan pemakaman terhadap Ne’Ramba’. Dalam upacara itu 100 ekor kerbau dikorbankan dan dua simbuang batu didirikan. Selanjutnya pada tahun 1807, pada acara pemakaman Tonapa Ne’Padda’ didirikan 5 buah simbuang batu. Sedangkan jumlah kerbau yang dikorbankan sebanyak 200 ekor. Kemudian ada juga beberapa upacara serupa yang dilakukan pada tahun 1907 dan seterusnya.

Pada pemakaman Almarhumah Lai Datu (Ne’ Kase’) pada tahun 1935 didirikan satu buah simbuang batu yang merupakan menhir terbesar dan tertinggi. Upacara terakhir yang dilakukan di Bori tercatat pada tahun 1962 saat almarhum Sa’pang (Ne’Lai) dimakamkan.

Penutup

Perjalananku memang begitu singkat ke Tana Toraja. Masih banyak tempat wisata menarik yang belum kurambah. Tapi ada dua hal penting yang kupelajari di sini. Pertama, alam bisa menyatu dengan tradisi, budaya dan kepercayaan yang sampai sekarang masih dijalankan oleh orang Toraja. Kedua, terlepas dari adanya kritik tentang mahalnya upacara pemakaman, namun di balik itu, terlihat betapa orang Toraja begitu menghargai orang tua, tetua dan leluhur. Untuk itu, gotong royong untuk pengadaan upacara pemakaman menjadi hal yang lazim dilakukan. Jalinan erat antara mereka yang hidup dengan yang sudah tiadapun menjadi ada karenanya.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: