Sudewi2000’s Weblog

August 13, 2009

RAMA MENCARI KASTIL

10 Agustus 2009.

Anak bungsuku, Rama, nampak begitu girang mulai dari pesawat lepas landas dari Banjarmasin, sampai mendarat di Cengkareng. “Rama mau melihat kastil,” tegasnya berulang-ulang. Permintaan yang membuatku garuk-garuk kepala memikirkan apakah ada tempat serupa kastil di Jakarta.

Rama Sedang Menjelajah "Kastil" (Foto: Swary Utami Dewi, Agustus 2009)

Rama Sedang Menjelajah “Kastil” (Foto: Swary Utami Dewi, Agustus 2009)

Di Manggala Wanabakti, sembari menunggu Bang Kaban selesai meeting dengan beberapa tamu, Rama asyik duduk sambil memelototi komik Doraemon. Sesaat serombongan tamu keluar dari ruang Bang Kaban. Seseorang di antaranya lumayan kukenal sejak lama. “Bang Yusril…” Kupanggil dia yang segera menoleh dan menghampiriku yang sedang menemani Rama di depan ruang rapat.

Sesudah menyalamiku dan Rama dan bersapa sejenak, Bang Yusril melangkah keluar pintu utama ruangan Menteri Kehutanan. Sesaat kemudian, Bang Kaban mendekat, menyalami Rama dan masuk ke ruangan memimpin rapat tentang Taman Nasional Kutai.

Di Jakarta, hari itu 10 Agustus, memang kufokuskan untuk melakukan meeting tentang Taman Nasional Kutai. Beberapa tahun terbengkalai tanpa kejelasan hukum, banyak pihak-pihak nakal semakin memanfaatkan. Dari jumlah perambahan sekitar 24.000 ha di tahun 2006, tiba-tiba melonjak drastis menjadi lebih dari 30.000 ha. Kiri kanan jalan yang membelah taman nasional di Kalimantan Timur tersebut sudah dipenuhi rumah dan berbagai bangunan, plus segala macam fasilitas.

Kepada Menteri Kehutanan dan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), aku dan beberapa teman yang tergabung dalam Koalisi Taman Nasional Kutai, membicarakan tentang kemungkinan ditetapkannya daerah tertentu yang sudah dirambah menjadi zona khusus. Diskusi tentu saja terjadi. Ada beberapa usulan ke depan untuk jangka panjang, terutama untuk memastikan tidak adanya perambahan lagi, yang harus dimatangkan. Departemen Kehutanan berketetapan untuk melanjutkan tindakan tegas kepada mereka para perambah “tingkat kakap” yang masuk ke taman nasional dengan tujuan menguasai lahan dalam skala besar.

Beberapa kali kulirik Rama, yang ajaibnya, tidak mengganggu atau terganggu sedikitpun dengan rapat yang berlangsung cukup lama. Bungsuku ini masih asyik dengan Doraemon-nya dan sesekali tersenyum sendiri. Satu dua kali menjelang rapat usai, dia berdiri menghampiriku dan bersandar di kursi. Bahkan Rama sempat berjalan ke kaca jendela tepat di belakang Bang Kaban, yang membuat Bang Kaban harus memajukan sedikit kursinya, untuk melihat keadaan luar. “Wah, banyak tanaman,” celetuknya polos.

Selesai meeting yang memakan waktu 1 jam lebih sedikit, aku dan beberapa teman berkumpul membicarakan apa yang harus dilakukan dalam waktu dekat. Sesudahnya, kami sejenak menemui Dirjen PHKA. Di ruangan dirjen, Rama nampak begitu riang melihat seekor binatang yang sudah diawetkan dan menyempatkan diri berfoto.

Masih menanyakan kapan ke kastil, Rama kuajak untuk makan siang dan kemudian meluncur ke penginapan di kawasan Teuku Umar. Sehabis meletakkan barang di kamar, bergegaslah aku, Rama dan seorang teman dari LSM Bikal pergi ke arah “kastil”. Melewati Taman Surapati, ada gereja kecil dengan menara unik. “Itu kastil gak ya?” tanyaku pada Rama yang spontan menggeleng.

Semakin mendekat ke Istiqlal, aku agak-agak cemas jika kemudian kami tidak bisa menemukan apa yang dimaksud kastil oleh Rama. Dari kejauhan, kubah megah mesjid nasional itu terlihat. “Itu kastil?” tanyaku harap-harap cemas. Rama menggeleng dan mengatakan…”Itu mesjid, Mamah”. Cilaka, aku sempat memukul jidat sendiri.

Beberapa saat kemudian, Rama berteriak girang, “Mamah… itu kastil. Wah, menaranya tinggi.” Aku ternganga karena yang disebut kastil oleh Rama adalah Gereja Kathedral yang terletak tidak jauh dari Istiqlal. Jadilah kami berhenti dan masuk ke dalam. Rama nampak girang dan berjalan bolak-bolak di pintu depan yang tertutup. “Ini pintu utama,” jelasnya, yang membuat aku dan Senny saling pandang bingung.

Merasa siang menjelang sore masih panas dan karena badanku terasa cukup lelah, aku membujuk Rama untuk makan es krim. Dia mengangguk cepat. Es krim Ragusa-pun dilahap habis. Aku juga sempat menyantap asinan.

Sesudah es krimnya habis, Rama merajuk, minta kembali ke kastil. Tidak tega melihat tampang sedihnya, kami kembali ke sana. Rama menuju bangunan samping Katedral dan tiba-tiba bertanya, “Kok tidak ada pintu rahasia ya? Kuda dan zebra mana? Burung sudah ada di atas…” Dia menunjuk satu dua burung yang kebetulan hinggap di bagian tertentu Kathedral.

Rama-pun sembari mencari-cari pintu rahasia, minta difoto di beberapa sudut. Ketika melihat pintu samping terbuka, dengan sigap dia mencoba masuk. Aku segera menahan, karena takut dia membuat gaduh pada mereka yang mungkin sedang akan melakukan misa. “Rama, jangan ganggu orang sembahyang,” ujarku perlahan.

“Oh, mereka sholat ya Mah…” komentarnya polos. Ini membuatnya tidak jadi masuk dan memilih bermain-main di halaman Kathedral.

Lelah bermain, Rama mengajak pulang ke penginapan. “Aku mau mandi di hotel dan nonton TV,” ujarnya menjelaskan rencana sore itu. Sesampai di Teuku Umar dan kumandikan, Rama diam duduk manis di depan TV sambil memakan pisang goreng dan jus campur.

Malam itu, kuajak Rama menemui Ayah Sutardji Calzoum Bachri di Taman Ismail Marzuki (TIM). Aku menjerit melihat sahabatku, Rara, yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu, sudah ada di situ. Rara memberikanku oleh-oleh istimewa dari Eropa: boneka mungil gajah berkuping lebar, berwarna merah pekat.

Tapi, tentu saja, Rama yang mendekap sayang boneka tersebut. Kurang dari 15 menit pada saat pesananku datang sembari aku berbincang dengan ayah, Rara, dan beberapa teman seniman, Rama tertidur di pangkuanku.

Tidak tega melihat Rama yang lama kuletakkan di deretan kursi berbantal boneka barunya, aku mengajak Eka dan Senny, yang menyusul kami ke TIM kemudian, untuk pulang ke Teuku Umar. Sampai di penginapan, Rama sama sekali tidak terbangun. Ketika turun dari taksi, tiba-tiba dia berdiri dan turun dari gendongan dan berjalan sendiri sampai ke kamar. Syukurlah, sampai di kamar dia kembali tertidur lelap dan aku bisa meneruskan obrolan singkat dengan Eka dan Senny.

Ketika aku kembali ke kamar, kudapati Rama masih tertidur pulas. Mungkin saja dia bahagia dan bermimpi sedang menjelajah kastilnya.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: