Sudewi2000’s Weblog

August 9, 2009

PELAJARAN BERHARGA DARI PARA SENIMAN: MBAH SURIP, RENDRA, SUTARDJI

Banjarbaru, 9 Agustus 2009

Tulisan ini dimuat di koran Radar Banjarmasin, 10 Agustus 2009, halaman 3.

Mbah Surip meninggal beberapa hari yang lalu. Aku tidak mengenalnya, hanya pernah sekali bertemu suatu hari di tahun 2008, kalau tidak salah, saat aku dan sahabatku Rara bertemu dengan penyair besar Sutardji Calzoum Bachri di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Ayah, demikian aku dan Rara memanggil Sutardji, memperkenalkanku ke Mbah Surip. Aku sempat terbengong melihat rambut gimbalnya yang dahsyat dan cara ketawanya yang khas. Kami kemudian berkesempatan melihat Mbah Surip dengan gaya kocaknya menyanyi. Itu saja yang kualami. Dan aku tidak sempat mengenalnya dengan baik. Mbah Surip pergi dalam damai dan sedang dalam masa popularitas pada 4 Agustus 2009.

Aku dan Sutardji (Foto: Ganjar, Juni 2007)

Aku dan Ayah Sutardji (Foto: Ganjar, Juni 2007)

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 6 Agustus 2009 malam, penyair dan dramawan besar Indonesia, WS Rendra menyusul. Burung Merak itu pergi untuk selama-lamanya. Aku juga tidak mengenal Rendra. Hanya dulu sekitar tahun 1994 atau 1995, Rendra pernah diundang oleh Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar untuk satu kegiatan diskusi di Mesjid Agung Al Azhar Jakarta. Kebetulan aku yang waktu itu bertugas mengundangnya. Bersama beberapa orang sahabat dari YISC Al Azhar, kami kemudian diundang Rendra untuk menginap semalam di Cipayung, Depok, di padepokan teaternya. Banyak hal yang dibagi Rendra, terutama pandangannya mengenai seni saat kami berbincang keesokan harinya.

Sayangnya kemudian, aku kehilangan kontak dengan Rendra, karena kesibukan dan karena telfon genggamku hang dan menghapus banyak nomor telpon penting. Kepergianku untuk melanjutkan studi di Australia dari Januari 1998 sampai Mei 2000 membuatku semakin tidak bisa berkesempatan melanjutkan pertemanan dengan Rendra. Namun aku cukup puas, sempat mengenalnya sekilas dan berbincang di Padepokan Bengkel Teater serta melihat beberapa penampilan puisi dan teaternya (yang paling kuingat adalah Panembahan Reso) di Taman Ismail Marzuki.

Saat membaca harian nasional terbesar di Indonesia edisi Sabtu, 8 Agustus 2009, aku menemukan setengah halaman penuh komentar para tokoh tentang Mas Willy, demikian WS Rendra akrab dipanggil. Salah satunya dari Ayah, Sutardji Calzoum Bachri. Ayah mengatakan bahwa Rendra adalah penyair besar dengan karya besar. Ia mempertautkan antara orang besar dan karya besar, dan ia memiliki integritas.

Maka, ketika aku memikirkan kata-kata Ayah, memikirkan fenomena yang terjadi pada Mbah Surip, melihat begitu banyak respek yang diberikan pada Rendra, ada pelajaran berharga yang menurutku bisa kita ambil dari mereka semua. Mbah Surip mengajarkan tentang semangat juang yang tidak henti-hentinya. Kata orang, ia mencapai sekolah yang tinggi, sampai S2. Tapi ia kemudian memilih untuk mengikuti kata hatinya: berkomitmen pada seni. Perlu belasan tahun bagi seorang Mbah Surip untuk kemudian bisa terkenal dengan lagu Tak Gendong-nya. Dan saat ia mencapai puncak karirnya, tidak ada yang berubah dari Mbah Surip, baik dari gaya busana maupun cara bergaulnya. Ia tetap rendah hati dan mudah bergaul. “Mbah Surip tidak pernah tidak mengangkat telpon masuk, meskipun nomor itu tidak dikenalnya, “ demikian komentar teman yang kebetulan cukup dekat dengan Mbah Surip. Dan, kesederhanaan. Itulah menurutku yang “digendong” Mbah Surip ke mana-mana.

Akan halnya Rendra, tidak perlu panjang lebar menjelaskan tentang sosok besar di dunia seni Indonesia ini. Bagiku, Rendra mengajarkan, bagaimana melalui seni, baik melalui teater maupun puisi, kita bisa selalu menjaga kepekaan nurani kita, peduli pada fenomena sosial politik yang ada. Karena vokalnya pada masalah sosial politik, ia sempat ditangkap, bahkan pernah merasakan dinginnya bui. Inilah salah satu yang diceritakan Rendra pada saat aku dan beberapa teman dulu menginap semalam di Padepokan Teaternya. “Jangan pernah takut menyuarakan kebenaran,” demikian kira-kira perkataan Rendra yang sempat kuingat.

Semangat dan pelajaran dari Mbah Surip dan Mas Willy inilah yang kemudian ingin kugali kembali dari Ayah Sutardji. Janjiku untuk berjumpa dan ngobrol dengan beliau dalam waktu dekat di TIM Jakarta, membuatku ingin tahu lebih dalam tentang bagaimana kesederhanaan bisa menjadi ciri khas Mbah Surip dan keberanian bisa menjadi ikon dari seorang Rendra. Dan aku ingin terus belajar banyak pula dari keteguhan dan konsistensi Ayah pada dunia seninya. Di balik hingar bingar industrialisasi dunia hiburan yang banyak memelesetkan seni menjadi “bisnis” semata, bagiku sangat berharga kita terus belajar menajamkan nurani dari mereka-mereka yang terbukti tetap memiliki kesederhanaan, konsistensi dan integritas.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: