Sudewi2000’s Weblog

July 27, 2009

AKSI TERORISME DISIKAPI DENGAN POSITIF

Oleh: Swary Utami Dewi

Kawal Borneo Community Foundation (KBCF)

Tulisan ini dimuat di Koran Radar Banjarmasin, 28 Juli 2009, halaman 3.

Teror itu terulang kembali. Sesudah beberapa tahun negara kita menikmati udara yang lebih aman, tiba-tiba 2 bom kembali meledak pada pagi hari 17 Juli 2009 di hotel Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta. Ingatanku kembali pada beberapa berita terorisme yang cukup besar. Pada Rabu malam, 27 November 2008, terjadi penyerangan teroris di beberapa tempat strategis di Mumbai, India. Pada 11 September 2001, Gedung Kembar World Trade Centre yang pernah menjadi puncak tertinggi di dunia di negara Paman Sam, hancur luluh karena serangan teroris yang menabrakkan pesawat komersil ke dua gedung tersebut. Aku juga teringat pada dua kali serangan dahsyat bom Bali yang menelan ratusan jiwa. Tidak hanya di Indonesia, India ataupun Amerika Serikat. Kekerasan bernuansa teroris masih terjadi di berbagai belahan bumi.

The Face of War (Salvador Dali, 1940)

The Face of War (Salvador Dali, 1940)

Apapun alasannya, bagiku tidaklah masuk akal, kekerasan dilakukan untuk menunjukkan perlawanan. Apalagi, yang diserang adalah masyarakat sipil yang tidak bersenjata, tidak tahu apa-apa. Apa salah jika kebetulan seseorang terlahir berkulit putih, bermata biru atau berambut pirang? Apakah lebih baik mereka yang terlihat kecoklatan atau kuning? Apa semua orang yang kebetulan berkebangsaan sama memiliki pandangan politik sama dan sama jahatnya, seperti alasan beberapa teroris melakukan serangan? Lantas, jika satu di antara mereka adalah jahat, apakah semua berarti jahat dan karenanya harus dibasmi? Kemudian, karena suatu kelompok melakukan tindakan pengatasannamaan agama dan melakukan terorisme, maka sama jahatnya semua yang berasal dari agama yang sama?

Apa yang tidak tepat dengan fenomena ini? Paling tidak ada dua hal. Pertama, adanya generalisasi atau penyeragaman. Cara pandang ini melihat satu sebagai semua: one is all. Bangsa tertentu misalnya, yang terletak di belahan bumi utara, menjadi sasaran empuk teroris dengan alasan negara mereka tidak benar dan melakukan berbagai tindakan yang merugikan kelompok lain. Sebaliknya, karena beberapa pelaku serangan kebetulan membawa bendera agama tertentu dengan berbagai justifikasi, ujung-ujungnya ada cara berfikir yang melihat bahwa semua yang memeluk agama yang sama menjadi sama berbahayanya.

Kedua, cara pandang ini kemudian diwujudkan dalam tindakan yang bernuansa balas dendam. Para teroris melakukan aksi teror dan pembunuhan di beberapa tempat yang menurut pandangan mereka dilakukan untuk membalas tindakan tidak adil dari pemerintahan atau rejim tertentu.

Sebaliknya, mereka yang merasa warga negaranya terancam, secara langsung maupun tidak langsung juga kerap melakukan berbagai tindakan diskriminatif didasari alasan kehati-hatian, misalnya dalam pemberian visa untuk masuk ke negara tersebut. Jika kebetulan Anda memiliki nama Timur Tengah, bisa jadi Anda mengalami kesulitan bahkan ditolak untuk mendapatkan visa. Dalam lingkup kebijakan yang lebih besar, isu terorisme juga menjadi pertimbangan suatu negara adidaya yang bahkan pernah menghabiskan trilyunan uang untuk mengontrol negara-negara yang dipandang menjadi sarang teroris. Saling balas dendam dalam berbagai bentuk nampaknya masih terjadi.

Cara pandang generalisasi yang dilanjutkan dengan tindakan saling balas dendam nampaknya menjadi salah satu pupuk penyubur tetap tumbuh dan berkembangnya tindakan terorisme di berbagai tempat. Lantas, apa yang bisa dilakukan dalam lingkup yang sederhana dimulai dari diri sendiri dan keluarga dalam menyikapi hal ini?

Pertama. Mulailah ajak anak dan orang terdekat kita untuk selalu berfikir jernih dalam melihat sesuatu. Apa yang salah perlu diakui salah. Membunuh orang lain, dengan alasan apapun, tidaklah benar. Karenanya, tidak pada tempatnya untuk membela terorisme. Sebaliknya, melakukan tindakan diskriminatif tertentu dengan alasan anti-terorisme juga tidak tepat. Dua-duanya sama-sama buta, tidak memilih, dan seringkali mengorbankan mereka yang tidak tahu apa-apa.

Kemudian, jika sesuatu itu salah, ajak juga anak-anak dan orang-orang terdekat kita berfikir bahwa sesuatu yang salah, tidak perlu dibalas dengan cara yang sama. Selain itu, tindakan kehati-hatian meskipun itu memang perlu, tidaklah berarti mensahkan kita melakukan tindakan diskriminatif terhadap kelompok atau agama tertentu.

Paling tidak, dengan mengajak keluarga dan lingkungan terdekat kita untuk berfikir jernih dan mengembangkan sikap damai, bisa menjadi modal bagi gerakan sosial yang lebih besar: yaitu gerakan yang tidak kompromis terhadap terorisme, tapi juga tidak buta untuk melakukan tindakan yang kurang lebih sama dalam berbagai bentuk. Tidak picik, melihat suatu masalah dengan jernih adalah cara berfikir positif. Kelanjutan dari berfikir positif, sikap dan tindakan positif jualah yang mengikuti. Bukankah dunia yang damai dan sejahtera yang kita inginkan bersama?

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: