Sudewi2000’s Weblog

July 26, 2009

LAUT JUGA SAMA PENTINGNYA: PELAJARAN PENTING KONFERENSI KELAUTAN SEDUNIA 2009

Oleh: Swary Utami Dewi

World Ocean Conference atau Konferensi Kelautan Sedunia (KKS) telah selesai digelar di Manado, Sulawesi Utara, beberapa bulan lalu. Pada konferensi kelautan pertama di dunia yang diselenggarakan 11-15 Mei 2009, Indonesia menjadi tuan rumah. Konferensi yang dihadiri 73 negara dan 11 lembaga internasional ini menekankan pentingnya memperhatikan laut dalam konteks perubahan iklim yang menjadi momok dunia dewasa ini. Jika Konferensi Perubahan Iklim di Bali Desember 2007 lebih memfokuskan pada isu yg sifatnya kedaratan (seperti industrialisasi, gaya hidup dan peran penting hutan), KKS 2009 ini semakin menyadarkan kita tentang pentingnya laut dalam isu perubahan iklim.

Sunset di Losari, Makassar (Foto: Swary Utami Dewi, April 2008)

Sunset di Losari, Makassar (Foto: Swary Utami Dewi, April 2008)

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia tentu saja menjadi salah satu aktor penting dari konferensi tersebut. Negeri kita memiliki belasan ribu pulau dan sebagiannya adalah pulau-pulau kecil. Kenaikan suhu muka bumi, termasuk suhu di permukaan laut, telah mengakibatkan pencairan es di kutub dan kemudian berdampak pada naiknya permukaan air laut. Beberapa negara yang memiliki banyak pulau atau negara pulau seperti Grenada, Tuvalu dan Maladewa mulai merasakan efek perubahan iklim ini. Belum lagi cuaca yang menjadi tidak menentu dan begitu ekstrem, mengakibatkan badai yang menerjang pesisir daratan di berbagai negara dan memporak-porandakan kehidupan. Wilayah yang penduduknya mengandalkan diri pada perikananpun menjadi tertimpa bencana karena sumber penghidupannya terganggu.

Jika dengungan dampak perubahan iklim bagi manusia beberapa tahun ini terfokus pada daratan saja, fungsi dan peran penting laut menjadi terkupas lebih dalam di sini. Tumbuhan yang ada di laut memiliki fungsi sama untuk menyerap dan menyimpan karbon, sama dengan pohon-pohon yang kita jumpai di hutan di daratan. Semakin banyak tumbuhan di suatu wilayah laut, ganggang dan rumput laut misalnya, semakin tinggi kemampuannya penyerapan dan penyimpanannya. Ini berarti tidak bisa dielakkan sumbangan laut dalam upaya mengatasi perubahan iklim. .Maka, tidak terbayang jika laut di Indonesia porak poranda. Tumbuhan di daratan kita sudah banyak yang rusak berat akibat ulah manusia, jangan pula yang di laut mengikuti.

Menyadari pentingnya laut dalam menjaga keberlangsungan bumi dan isinya, Indonesia yang dikenal sebagai negara yang memiliki terumbu karang dan ragam biota yang kaya, menginisiasi apa yang disebut sebagai Coralreef Triangle Initiative (ICT) atau Prakarsa Segitiga Terumbu Karang. Meski inisiatif ini sudah dilontarkan Presiden Indonesia 2007 di Sydney dalam suatu kesempatan, Konvensi Kelautan Sedunia di Manado Mei lalu, kembali menegaskan pentingnya inisiatif tersebut untuk terus didorong, dilaksanakan dan dikembangkan.

Untuk itu, Indonesia bersama lima negara lain yang digelari sebagai Laut Amazon (Filipina, Kepulauan Solomon, Malaysia, Papua Nugini dan Timor Leste), yang berada tepat di Segitiga Terumbu Karang, menghasilkan Kesepakatan Manado. Di dalamnya terdapat 5 butir kesepakatan yang diharapkan menjadi program kerjasama 20 tahun mendatang, yaitu: ada sebuah wilayah yang dikelola secara baik, pengelolaan perikanan berbasis ekosistem, menetapkan kawasan konservasi laut, menggulirkan program adaptasi perubahan iklim dan melestarikan spesies yang terancam punah.

Upaya keenam negara yang berada dalam segitiga terumbu karang yang mencakup luasan sekitar 5,7 km2 patut disambut sebagai bagian dari upaya mengatasi dampak dari perubahan iklim yang mulai sering dirasakan dunia. Namun perlu dicatat, agar upaya regional berdampak global ini tidak hanya akan dirasakan oleh belahan dunia lain. Lokalpun perlu menjadi perhatian, baik dalam kaitannya dengan pelibatan dalam pelaksanaan maupun penjaga dan pemetik manfaat dari program tersebut. Bagaimana kesepakatan tersebut tidak membawa dampak buruk bagi penghidupan nelayan tradisional kita, misalnya, patut digarisbawahi. Bukankah mereka juga – seperti halnya stakeholder lain di Indonesia—yang nanti menjadi garda terdepan dalam melindungi laut Indonesia?

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: