Sudewi2000’s Weblog

July 26, 2009

CERPEN: TIGA MIMPI

Oleh: Swary Utami Dewi

Radio Dalam, 26 Januari 2009

Ya, Allah. Aku tersentak. Mimpiku barusan, walaupun sekejap, begitu menakutkan. Aku memandang wajah Ibu yang tetap tenang dalam komanya. Syukurlah. Ibu mertuaku ini tidak seperti perempuan bertanduk iblis dalam mimpiku barusan. Dan suamiku, dia tidaklah buruk seperti dalam mimpiku. Aku, akupun tidak sebodoh aku dalam mimpi burukku tadi.

Raphaelesque Head Exploding (Salvador Dali, 1951)

Raphaelesque Head Exploding (Salvador Dali, 1951)

Rasa kantuk masih mendera. Tapi kengerian mengingat mimpi dalam tidur singkatku di sofa sebelah ranjang Ibu, membuatku enggan kembali tidur.

Perlahan kuusap tangannya. Keriput kurasa saat ujung jarinya bersentuhan dengan ujung jariku. Kurasakan sayangku terhadap Ibu laksana sayangku terhadap Mamah.

Suara sepatu yang dijejak perlahan membuatku menoleh ke pintu. Aku hafal cara berjalan itu. Kulihat Suaka masuk dengan wajah masih seletih seminggu yang lalu. Ya, seminggu yang lalu adalah hari di mana Ibu mendapat serangan stroke mendadak, akibat tergelincir di kamar mandi.

Masih kuingat jerit panik Inem yang membuatku tergopoh mematikan kompor dan mendatangi arah suara. Ibu sudah tergeletak di lantai, diam tak bergerak. Matanya terpejam. Saat kutahu badannya masih hangat, bergegas rumah sakit terdekat kutelfon.

Kini, sudah seminggu Ibu terbaring. Suaka dan saudara-saudaranya bergantian menunggui. Aku sendiri selalu menyempatkan diri datang di siang hari, saat Suaka sedang bekerja. Aku ingin berbagi dengan suami dan para iparku. Karenanya, kehamilanku yang makin membesar tidak menjadi alasan untuk tidak datang setiap hari menjenguk Ibu.

Suaka memelukku erat saat aku hendak beranjak keluar kamar. ”Maaf membuatmu begitu kelelahan,” bisiknya hampir tidak terdengar. Aku balas memeluk, tidak mengatakan apapun. Tangan Suaka perlahan membelai perut buncitku.

Setengah mengantuk, aku mencoba tetap terjaga di mobil. Saat Pak Anto memasukkan mobil ke garasi, aku sudah berada di kamar. Dan tiba-tiba, semua terasa kembali. Satu-persatu buncahan kenangan itu muncul, seperti buih-buih sabun berwarna-warni yang timbul dan melayang di udara. Aku menatap buih-buih itu perlahan.

Dengan nanar, kutatap setiap buih. Dan aku merasakan himpitan di dada, saat setiap gelembung menampakkan gambaran diriku, seperti cuplikan film. Gelembung ungu: saat aku melangkah ke gerbang pernikahan. Ijab kabul berlangsung tujuh tahun lalu. Setelah berkenalan dan berpacaran setahun, aku dan Suaka memutuskan menikah. Buih hijau: saat aku memutuskan tidak bekerja, tapi total menjadi ibu rumah tangga. Kulihat mata Suaka memancarkan kebingungan, sementara Ibu tersenyum bangga.

Lalu, ada buih kuning, yang lebih besar: saat dokter memvonis aku tidak bisa hamil secara alami. Saat itu, aku hanya bisa menangis tergugu. Tidak sejam dua jam, tapi berhari-hari. Pelukan setia Suaka yang membuatku kembali tenang. Ataukah tenangku hanya semu karena perasaan yang sesungguhnya terpendam?

”Kita masih punya harapan dengan bayi tabung, Cinta.” Suaka memelukku begitu erat. Dan saat aku memutuskan untuk menerima program bayi tabung dengan segala kerelaan hati, laki-laki bak malaikat ini memelukku berkali-kali, menjejaliku dengan ribuan ucapan sayang dan cinta.

Lamunanku terpecah saat buih merah melayang. Di dalamnya aku melihat diriku sedang tercabik-cabik dalam berbagai keinginan. Dia juga nampak kebingungan, mencoba mendobrak dinding gelembung itu, tapi tak juga pecah. Keinginan untuk kembali bebas, tidak lagi hanya sebagai ibu rumah tangga, berperang dengan keinginan untuk tetap membahagiakan Suaka. Suaka terlalu baik untuk dikecewakan dengan keinginanku untuk bebas. Dia sempurna: tampan, baik, berpendidikan tinggi, dan …tidak selingkuh. Mmh, betapa susahnya mencari lelaki sempurna dan setia sekarang ini.

Aku mengelus perlahan janin yang sudah tertanam kokoh di rahimku ini. ”Nak, Mama sayang kamu. Tapi Mama tidak bisa bohong kalau Mama ingin kamu ada dengan cara yang paling sempurna.”

Ya, hamil dengan sistem bayi tabung, memang memberi harapan. Tapi ia pada saat yang sama menyiratkan suatu ketidaksempurnaan. Dan aku tidak bisa berbohong pada diriku.

Aku menghapus air mata yang perlahan membasahi pipi. Kupeluk bantal berbentuk cinta hadiah pernikahanku dari Suaka. Dan tiba-tiba aku merasakan kantuk yang luar biasa akibat deraan kelelahan lahir batin. Akupun terlelap dan memimpikan tentang sempurna dan tidak sempurnanya hidupku.

The First Days of Spring (Salvador Dali, 1929)

The First Days of Spring (Salvador Dali, 1929)

Astaga, aku memelototi jam weker di atas meja rias saat waktu sudah menunjukkan pukul 7. Apa aku tidak mengatur waktu dering jam 6? Entahlah. Aku tidak punya banyak waktu berfikir selain bergegas menuju kamar mandi.

Kulihat Suaka sudah duduk manis di meja makan. Aroma kopi membuatku menelan ludah. Rasa aneh akibat habis menggosok gigi tidak kupedulikan karena detik berikutnya hirupan nikmat kopilah yang menyentuh mulut.

Suamiku menyeringai melihat ulah tergesaku. ”Aku sengaja tidak membangunkanmu. Kamu terlihat begitu kelelahan.”

Aku menyentuh perlahan kaki Suaka di bawah meja. Hal yang biasa kami lakukan semenjak kami saling mengenal delapan tahun lalu.

”Ibu akan datang minggu depan dan menginap beberapa hari. Dia ingin menyaksikan sendiri perutmu yang makin membesar.” Dengan lembut, Suaka membelai kandunganku.

”Ups, dia menendang lagi, tuh.” Candaku perlahan. Canda yang sebenarnya kulakukan untuk menutupi kekhawatiranku. Betapa tidak. Baru kali ini Ibu Mertua akan datang menginap. Beberapa hari lagi.

Ibu Mertua. Hubunganku dengan Ibu dibilang baik tidak, dibilang tidak juga berjalan apa adanya. Pada dua menantu perempuannya yang lain, yang tidak bekerja dan memilihi menjadi ibu rumah tangga, Ibu menunjukkan kedekatan yang luar biasa. Puja puji bagi mereka sering terlontar saat keluarga Suaka berkumpul dua bulan sekali melakukan arisan keluarga.

”Ibu tidak melarang kamu bekerja. Tapi bagi Ibu, hakikat perempuan adalah mengabdi pada suami dan anak-anak. Kamu akan merasa pentingnya itu pada saat anakmu nanati lahir.”

Aku tidak membantah, tidak juga mengiyakan. ”Diam adalah senjata yang paling baik dalam menghadapi Ibu,” demikian Suaka menanggapi jika aku mengeluhkahkan sesuatu tentang Ibu.

Aku tersentak dari lamunan, saat jabang bayi kurasa menendang keras. Ups, tandanya aku harus istirahat.

Kehamilanku yang mendekati enam bulan memang kurasakan makin berat. Tapi ini tidak menghentikan aktivitas kerjaku, sepuluh jam sehari. Saat Suaka menunjukkan muka merajuk mengetahui aku masih gila kerja, pada bulan ketiga aku memutuskan untuk bekerja tidak lebih dari tujuh jam perhari.

”Hamil kebo tidak berarti membuatmu menyamakan diri dengan perempuan-perempuan lain yang sedang tidak hamil, Cinta,” himbau Suaka.

Aku mengangguk, menghentikan ketikan, kemudian memandangi wajah tercinta di hadapanku ini. Saat itu aku makin menyadari betapa cintanya Suaka padaku.

Dan pagi ini, saat kusentuh kakinya perlahan di bawah meja, kurasakan desir cinta tetap membara.

”Hamil-hamil masih iseng.” Suaka tersenyum nakal.

”Hei, jangan geer. Ayo cepat berangkat. Aku punya meeting pagi ini.” Elakku menahan malu.

Ciuman Suaka di dahi kurasakan begitu hangat. ”Nanti aku jemput ya,” ucapnya seraya membelai perut buncitku. ”Jaga baik-baik bayi mahal kita ini sayang. Tujuh tahun kita menantinya.”

Aku tiba-tiba bergidik. Ingat mimpiku tadi malam. Dalam mimpiku, banyak hal buruk yang kujumpai. Ibu mertua terserang stroke. Walau hubunganku tidak terlalu mulus, aku tidak ingin Ibu mengalami apapun yang buruk. Lalu, mimpi yang lain lebih mengerikan: aku tidak bisa hamil secara alami. Aku mulai merasa panik, dan tanpa sadar air mataku mengalir, karena rasa khawatirku.

”Hei, dua kali aku melihatmu menangis pagi ini,” Suaka nampak agak khawatir.

”Aku terharu melihat sayangmu padaku,” Ucapan bohongku cepat keluar. Aku tidak ingin Suaka tahu bahwa aku sedang merasa tidak nyaman karena mimpiku tadi malam. ”Dan, aku kan baru satu kali menangis dalam minggu ini.” Kucoba memberikan senyum terbaik kepada Terkasihku ini.

”Kamu menangis saat tidur tadi, Cinta. Saat aku ingin membangunkanmu pukul 6, kulihat air mata di pipimu. Jadinya aku tidak tega membangunkanmu.”

Aku tercekat.

Dan, kini, menjelang sore, aku telah tiba di rumah. Suaka tiba-tiba tidak bisa pulang bareng karena ada meeting malam mendadak lagi dan mengirim Pak Anto untuk menjemputku. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan meeting-meeting yang digelar tiba-tiba. Jangan-jangan Suaka punya selingkuhan. Ah, aku dengan cepat menepis pikiran burukku.

Saat kaki mulai kurasa berdenyut-denyut, kuingat saran Dokter Sinta untuk mengangkat kaki lebih tinggi dari kepala. Inem membantu membenahi susunan bantal untuk tempat sandaran kaki.

Ketika posisiku kurasakan sempurna, aku mengingat kembali pesan Dokter Sinta agar aku tidak terlalu banyak berfikir yang tidak-tidak. ”Bisa membuat bayi ikut stress lho, Bu,” tegasnya sambil tersenyum.

Aku berusaha tidur. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa cukup sulit tidur. Berbagai kekhawatiran timbul. Tentang Ibu, tentang rahimku, tentang Suaka. Aku tidak tahu sampai berapa lama aku bertahan melek, untuk kemudian dikalahkan oleh kantuk. Hanya bantal berbentuk cinta, kado pernikahan dari Suaka, yang menemani mimpi-mimpiku, mimpi yang menyiratkan semua kekhawatiranku.

Paranoic Astral Image (Salvador Dali, 1934)

Paranoic Astral Image (Salvador Dali, 1934)

Guncangan halus di bahu membangunkanku. Kulihat Suaka memandangku agak gelisah. ”Kamu mimpi ya. Mimpi apa, Cinta?”

Aku gelagapan, masih setengah sadar dengan posisi memeluk bantal cinta.

Suaka memberikan ciuman mesra. ”Aku harus bertugas ke Bandung hari ini.”

Aku tidak berkata apapun.

”Kamu ngambek lagi?”

Aku masih tidak berkata.

”Cinta…” Suaka membujuk, menyentuh bahuku dengan mesra. Aku mengelak. Dan tanpa bisa kutahan, butir air mata sudah turun berderai. Lamat-lamat kurasakan beberapa butir air mata yang masih menggenang, berubah serupa buih. Berkaca-kaca, bulat, menyerupai balon emosi yang siap diledakkan kapan saja. Kupalingkan badan dari Suaka yang kemudian tidak berusaha menenangkanku lagi.

Kulihat, dari gelembung kaca air mataku, Suaka sedang memeluk perempuan yang tinggal di Bandung itu. Betapa mesranya mereka mentertawakan kebodohanku.

Dan aku, aku tidak mampu berbuat apa-apa. Suaka tidak bisa terlalu disalahkan. Akulah yang tidak mampu memberikan keturunan. Bukan perempuan sejati. Tentu saja dia mencari perempuan sempurna sejati, wanita paripurna.

Saat Suaka sudah pergi ke bandara di antar Pak Anto, aku menyuruh Inem berbelanja kebutuhan bulanan. Saat kupastikan tidak ada seorangpun, kuambil bungkusan kecil dari bawah tempat tidur. Hanya aku yang tahu apa isinya.

Aku memandangi butir-butir pil tidur ini. Semenjak kutahu Suaka memiliki simpanan lain, pil-pil ini kerap menjadi teman setiaku. Kekecewaan bercampur bongkah-bongkah khayalan yang kerap timbul, menjadikanku susah tidur. Merekalah yang kemudian membantuku terlelap.

Kini, lima pil sudah tergenggam di tangan. Seperti biasa, setiap pil kupandangi. Tiga pil pertama selalu kuberi jampi doa dan harapan. Dua pil terakhir, bersimbah kutukan dan caci maki.

Pil pertama, di dalamnya ada harapan kalau rahimku bisa berbuah, dengan cara apapun. Kedua, Ibu berubah menjadi malaikat yang begitu menyayangi aku. Ah… aku iri terhadap Lolita yang punya mertua super luar biasa. Ketiga, suamiku tetap setia dan menerima apapun keadaanku. Just the way I am.

Pil keempat, kupijat ia perlahan. Goresan kukuku tertancap di di permukaannya. Aku menumpahkan benciku kepada mertua dan suami dengan tancapan kuku di pil ini. Aku ingin sekali hamil, bahkan dengan metode bayi tabung. Tapi, mertuaku sialan… Suaka lebih sialan… Bisa-bisanya dia menolak saran dokter yang jelas-jelas menganjurkan kami untuk menjalani metode itu. Bisa-bisanya dia lebih mendengar saran Ibu yang mengatakan anak sejati tidak lahir dari program bayi tabung. Aku benci mereka!!!

Pil terakhir. Ah, paling kurang ajar. Tiba-tiba kulihat seringai ejek muncul di permukaan pil itu. Seringai yang mencemooh ketidakmampuanku untuk marah dan bertindak, mencerca kebodohanku yang hanya bisa diam pasrah, tidak mampu memutuskan apapun bagi diriku.

Diriku makin terbelah, bingung antara harapan dan benci. Aku mual. Tanpa berfikir panjang, seperti yang sudah-sudah, kutegak mereka berlima bersama hirupan air putih dari gelas bergambar cinta. Kurasakan mereka meluncur cepat di tenggorokan.

Aku kembali hanya bisa menggenggam erat bantal cinta hadiah perkawinan dari Suaka. Dan kembali, aku terlelap nyenyak, berjam-jam dalam mimpi hampir sempurna yang kurancang sendiri.

Selesai

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: