Sudewi2000’s Weblog

June 23, 2009

Mensyukuri Rejeki

Filed under: My Self, Opinion, Traveling — Tags: , , , , — sudewi2000 @ 7:44 am

Suatu hari di Maret 2009, saat bertugas ke Sulsel dan Sultra, malam hari aku mennyempatkan diri ke atm di Makassar mengambil uang untuk keperluan perjalanan. Nasibku sedang tidak baik. Baru saja aku memasukkan kartu atm, tiba-tiba blep… kartu itu tertelan begitu saja tanpa adanya tanda-tanda error sebelumnya.

Aku hanya bisa pasrah. Mencoba melotot ke mesin ajaib itu tidak ada gunanya juga. Bergegas aku ke tempat satpam yang saat itu ada di mall tempat atm tersebut berada. Walaupun kemudian aku dihubungkan dengan seorang petugas bank cabang lokal, aku merasa kecewa karena pelayanannya begitu lambat. Jangankan menenangkan atau memberikan alternatif jalan keluar. Nyatanya aku diminta untuk mengurus di tempat di mana rekening aku buka. Hah, tertelannya di ATM Makassar, masa disuruh mengurus di kantor bank Banjarmasin? Tentu saja mukaku tambah berkerut.

Perempuan dan Anak Gunung Kidul, Ceria Mencari Nafkah (Foto: Swary Utami Dewi, 2007)
Perempuan dan Anak Gunung Kidul, Ceria Mencari Nafkah (Foto: Swary Utami Dewi, 2007)

Beruntung kemudian harapan lebih ada saat aku menghubungi call centre dan kemudian call centre memberikan referensi untuk juga menghubungi cabang lokal yang lebih tanggap melayani. Kesimpulannya, aku baru besok sorenya bisa mengambil kembali atm yang tertelan.

Masih merasa tidak nyaman karena kejadian barusan, aku bersama seorang teman, memilih duduk di pelataran kantor cabang bank yang telah kami datangi. Aku berfikir,waduh dengan uang yang pas-pasan di dompet, agak ngeri-ngeri juga bertahan sampai esok di Makassar.

Malam semakin larut. Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang pemulung yang nampak sedang asyik mengais-ngais tumpukan sampah kertas kardus. Sayup-sayup kudengar, suara siulan menunjukkan keriangannya. Sontak ini membuatku tertarik dan perlahan mendekati.

Seraya tersenyum menyadari aku beringsut mendekati, Bapak separuh baya itu menjelaskan tentang apa yang sedang dilakukannya. Mengaku memiliki profesi pemulung, sang bapak mengatakan dia biasa melakukan kerjanya kapanpun sepanjang waktu. Setiap hari, jika melihat tumpukan sampah, dia akan mengais-ngais untuk mengambil limbah yang bisa dimanfaatkan, misal kertas, kardus bahkan kaleng dan kaca. Kemudian dibersihkan dan dijual kepada pengumpul.

Berapa yang diperoleh sang Bapak tiap hari? Dia menjawab spontan, ”Sekitar duapuluh ribu, Bu.” Jawaban singkat itu seakan menohok dan memupus kekesalanku akibat tertelannya atm sejam lalu. Sang Bapak pahlawan lingkungan ini dengan pendapatan ”hanya” sekitar duapuluh ribu rupiah per hari, bisa begitu tetap riang dan bersemangat mengais sampah sampai hampir tengah malam. Sementara aku, walaupun berstatus volunter di suatu kelompok kerja, bisa mendapatkan lebih dari beberapa kerja lepasku di tempat lain. Lucunya, hanya menunggu kembalinya kartu atm dalam waktu kurang dari 24 jam, aku sempat khawatir bagaimana aku bisa ”bertahan hidup” di Makassar.

Aku kembali memperhatikan sang Bapak yang masih saja asyik mengambil beberapa lembar kardus. Sang Bapak tetap seperti tadi, bersiul-siul riang. Aku yang sekarang tidak seperti tadi. Tidak lagi muram. Aku menjadi paham bahwa aku telah belajar bagaimana menjadi tetap tenang dan senang dari sang Bapak. Kebahagiaan ternyata tidak tergantung dari hal-hal yang sifatnya materi. Kebahagiaan ada di hati. Dan kita sendirilah yang menentukan kebahagiaan itu.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: