Sudewi2000’s Weblog

February 23, 2009

Aliya Sudah Besar, Bu…

Filed under: My Self — Tags: — sudewi2000 @ 3:02 pm

Sepanjang Februari, banyak hal-hal baru yang menyenangkan, yang membuatku merasa begitu terberkahi. Salah satunya yang ini. Tanggal 9 Februari 2009 saat aku di taksi menuju bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, pagi itu aku menerima telfon dari seorang Ibu. Ternyata, dia adalah Ibu dari Aliya. Aliya, tiga tahun lalu, masih begitu bayi saat aku bertemu dengannya di bandara. Aku sangat surprise, karena sejak pertemuan dengan Aliya dan ibunya, bertahun lalu, tak tidak ada lagi kontak.

Dino Kecil (Karya: Rama Arsya Atsil Buana, Januari 2009)

Dino Kecil (Karya: Rama Arsya Atsil Buana, Januari 2009)

Sekitar tiga tahun lalu, saat itu aku di bandara Makassar, menunggu pesawat ke Kendari yang lumayan lama delay.  Aku mendengar tangisan bayi. Kok lama tangisnya tidak berhenti? Aku melihat sang Ibu sudah begitu panik berusaha menenangkan anaknya.

Aliya nama bayi itu. Entah karena masuk angin terbungkus akibat tubuhnya hanya dibalut baju tipis, tapi tangisnya cukup mengkhawatirkan. Sang Ibu berusaha memberikan susu. Tapi dia lagi-lagi muntah membasahi bajunya.

“Ada gantinya Bu?” tanyaku mendekat.

Sambil menahan tangis dia menjelaskan semua pakaian Aliya sudah ditaruh di bagasi. Aku melirik tas jinjingku dan mengeluarkan daster  untuk membungkus Aliya sesudah bajunya dilepas.

Singkat kata, aku mengusulkan untuk membawa sang bayi ke rumah sakit terdekat karena melihat keadaannya yang muntah beberapa kali dan menangis tegang tidak berhenti. Bagasi kami dikeluarkan, dan pihak penerbangan dengan sigap membantu penjadwalan ulang penerbanganku ke Kendari.

Semalaman,  aku dan sang Ibu begadang di rumah sakit yang terdekat dengan bandara Makassar. Aliya ternyata menderita muntahber dan harus mendapat perawatan cukup serius.

Matahari sudah timbul. Jam menunjukkan pukul 7. Melihat Aliya sudah bisa tertidur nyenyak dan dokter menyatakan keadaannya sudah membaik, aku pamit ke bandara.

Sang Ibu memelukku erat. Aku sempat mencium Aliya.

Dan tiga tahun kemudian, kabar itu baru tiba. Karena kendala komunikasi dan Aliya bersama kedua orangtuanya tinggal di daerah terpencil di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, mereka baru bisa menghubungiku pada saat ada sinyal masuk ke desanya. Sang Ibu masih menyimpan nomor hpku.

“Aliya sudah besar, Bu… Dia pintar dan banyak omongnya. Dan Ibu adalah ibunya juga. Daster ibu sering kupakai kalau aku kangen.. Dst, dst…”

Aku termangu. Mengusap air mata, melihat ke luar jendela. Dan kurasa pagi itu aku mendapat berkah lagi.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: