Sudewi2000’s Weblog

November 29, 2008

BERKAH SELAMA PRJ: PENJUAL KERAK TELOR ALA GARUT

Kemayoran, 3 Juli 2008

Teddy, demikian dia memperkenalkan diri, dengan cekatan membalik wajan yang sudah berisi bahan kerak telor di atas tungku api anglo yang menyala. Beberapa menit kemudian, matanglah masakan tradisional khas Betawi itu. Pemuda berusia 19 tahun itu meletakkan kerak telor di atas piring dan menaburkan sejenis serundeng ebi di atasnya.

Aku, yang sengaja keluar menjelang tengah malam mencari kerak telor bersama sahabatku Lisa, kemudian asyik menyantap penganan variasi nasi itu. Iseng aku bertanya darimana Teddy berasal. Pikirku pasti orang Betawi asli. Ternyata salah besar. Dia ternyata berasal dari Garut, Jawa Barat.

Bread and Fruit Dish on a Table (Picasso, 1909)

Bread and Fruit Dish on a Table (Picasso, 1909)

Di sela-sela pelaksanaan Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang diadakan selama sebulan dari 13 Juni sampai 13 Juli di Kemayoran, Jakarta, Teddy bersama 180 penduduk Kabupaten Garut, sengaja memboyong diri selama sebulan, datang ke sekitar areal PRJ, untuk berjualan kerak telor. Ternganga aku mendengarnya. Teddy yang berasal dari Desa Waas, bersama-sama dengan penduduk laki-laki dari 3 desa lainnya, berombongan naik bis menuju Jakarta demi mengais rejeki selama PRJ berlangsung.

Banyakkah keuntungan yang mereka peroleh sehingga mereka rela meninggalkan keluarga dan pekerjaan berkebun di desa selama sebulan? Teddy tidak menjawab pasti. Pemuda yang cukup bersahabat itu hanya berkomentar bahwa dari kerak telor yang per porsi dijual 12 ribu rupiah, ada keuntungan bersih sekitar 4 ribu rupiah. Dalam sehari antara 9 – 30 porsi yang berhasil dijual. “Jadi tidak menentu, Mbak, “ jelasnya sambil membereskan wajan dari sisa-sisa kerak nasi.

Aku bertanya-tanya, bagaimana Teddy yang bukan asli Betawi bisa dengan begitu piawai mengolah kerak telor. Ternyata sang pamanlah yang mengajar. Sebelumnya sewaktu muda, pamannya pernah bekerja sebagai pedagang kerok telor. Bos yang mengelola orang Betawi asli. Dari dialah sang paman belajar. Ilmu ini kemudian ditularkan tidak hanya kepada Teddy, tapi juga kepada banyak orang di Desa Waas.

Teddy melanjutkan bahwa seorang penjual kerak telor selama pelaksanaan PRJ harus membayar biaya sewa areal berjualan sebanyak 120 ribu rupiah. Dengan biaya sebesar itu, sang penjual akan mendapatkan keamanan berjualan selama sebulan dan tempat utuk tidur dalam tenda serupa barak besar di sekitar Tegalan, yang ditempuh sekitar 30 menit berjalan kaki dari area PRJ.

A Spanish Couple in Front of an Inn (Picasso, 1900)

A Spanish Couple in Front of an Inn (Picasso, 1900)

Hari makin larut, sudah lewat tengah malam. Teddy sudah berkemas-kemas hendak pulang sesudah berjualan dari jam 2 siang. Aku membayar 12 ribu rupiah, kemudian mengajak Lisa berjalan pulang ke apartemennya. Di jalan, obrolan kami tentang bedol para lelaki dari kampungnya selama PRJ untuk mencari nafkah, berlanjut. “Coba hitung Lis, dalam sehari jika rata-rata mereka satu porsi dapat keuntungan bersih 4 ribu rupiah dan mampu menjual 15 porsi, mereka akan mendapat 60 puluh ribu perhari. Sebulannya sekitar 1,8juta rupiah.”

Aku tidak berani menilai apakah jumlah tersebut belum atau sudah memadai bagi para pedagang kerok telor musiman tersebut. Tapi yang jelas, jika ratusan lelaki melakukan migrasi sementara dan rela tinggal di tenda-tenda sederhana pada saat PRJ selama sebulan, bisa jadi itu menunjukkan bahwa jumlah tersebut cukup luar biasa dan bisa menambah penghasilan di sela-sela waktu berkebun rutin mereka. Di balik hiruk pikuk PRJ, ada berkah tersendiri yang bisa ditanggukTeddy beserta kakak, ayah dan pamannya, bersama ratusan lelaki Garut lainnya. Demikian juga bagi penjual teh botol yang berdagang bersama istrinya yang sedang hamil 8 bulan, yang mengaku, PRJ memang membawa keuntungan yang berlipat. Aku tersenyum mendengarkannya.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: