Sudewi2000’s Weblog

November 17, 2008

Masih dari Belanda: Budaya Bersepeda, Resapan Air dan Kanal

Filed under: Traveling — Tags: , , , , , , , — sudewi2000 @ 2:13 pm

Ditulis 9 Juni 2008

Ada beberapa pelajaran yang kutemui di Belanda. Pertama, sikap dan gaya hidup yang menunjukkan ramah lingkungan. Transportasi umum bersih dan ramah, tidak mengeluarkan asap polusi. Sarana yang mudah dijangkau dan menyenangkan membuat banyak orang memilih untuk naik trem atau kereta api (train) untuk bepergian jarak jauh. Swary Utami Dewi)

Untuk jarak dekat, sepeda menjadi “keharusan” bagi semua orang yang tinggal di Belanda. Mungkin di Belanda lebih banyak jumlah sepeda daripada penduduknya, komentar seorang teman yang sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Belanda, menikah dan beranak pinak di sana. Jangan heran di sana menjadi pemandangan lazim jika lelaki atau perempuan bergaya eksekutif atau mengenakan baju mode paling mutakhir nampak begitu nyaman mengayuh sepeda, yang rata-rata menyerupai sepeda onthel di Indonesia. Jadi, biarpun Belanda berpenduduk sangat padat, polusi bukanlah sesuatu yang lazim ditemui layaknya Jakarta.

Swary Utami Dewi)

Budaya Bersepeda di Belanda (Foto: Swary Utami Dewi)

Hal kedua yang patut ditiru adalah penjagaan resapan air. Utamanya jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda, bahan penutup jalan adalah sejenis batu yang dibentuk persegi empat, jajaran genjang atau bentuk lainnya. Yang unik, ketika disusun untuk membentuk trotoar misalnya, sengaja dibiarkan ada celah selebar beberapa mili atau sentimeter. Tujuannya tidak lain agar air hujan bisa meresap di antara celah-celah dan merembes ke tanah. Beberapa kali juga aku menemukan rumput-rumput kecil menyeruak bebas di antara celah mungil tadi. Pelajarannya, alam memang bisa diubah, tapi peruntukkannya bisa tetap dijaga.

Hal lain yang kusukai adalah keberadaan kanal yang banyak ditemui di Belanda. Di kanal tersebut, air mengalir bebas. Jarang sekali aku melihat sampah ditemui di kanal. Jikapun ada, paling hanya reruntuhan daun atau ranting yang jatuh dari pepohonan yang tumbuh subur di sepanjang kanal. Mungkin ini yang harus ditiru kota-kota di Indonesia yang dilewati sungai. Sistem kanal yang dibuat cukup lebar, membuat air, termasuk air hujan, bisa tertampung dan mengalir dengan baik. Budaya tidak membuang sampah di kanal juga menjadikan kanal tidak tersumbat. Mmh, beda dengan Jakarta dan Banjarmasin, keluhku, di mana sungai-sungai berukuran kecil atau sedang kerap tersumbat di sana sini dan kemudian menimbulkan bau tidak sedap. Akibatnya, ada hujan sedikit saja seperti di Jakarta, bisa dipastikan luapan air akan terjadi.

Swary Utami Dewi)

Salah Satu Kanal di Pusat Den Haag, Menjadi Hiasan Kota (Foto: Swary Utami Dewi)

Selain itu, kanal yang terjaga dengan baik, kadang dilengkapi dengan bangku di bawah pepohonan yang tumbuh di pinggirnya, menjadikan kanal-kanal di Belanda sebagai tempat nyaman untuk duduk sekedar melepas lelah. Tenang sambil mengawasi riak air dan itik berenang. Begitulah yang kualami ketika aku menyempatkan diri duduk di pinggir kanal tepat di seberang ISS.

Beberapa hal tadi: budaya bersepeda, menjaga resapan air dan kanal yang tertata rapi kiranya dapat dijadikan bahan renungan bagi negeri kita. Tidak ada salahnya kan jika kita belajar yang baik dari negeri seberang?

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: