Sudewi2000’s Weblog

November 17, 2008

Kekeluargaan dalam Kemasan Ekologi Politis

Ditulis 30 Juni 2008

Mukti Ali)

Riang Bersama Beberapa Teman di Depan Istana Ratu (Foto: Mukti Ali)

Sepanjang Mei dan Juni 2008 di Eropa kurasa sangat mengasyikkan. Banyak hal yang kupelajari. Di Institute of Social Studies, Den Haag, kursus Political Ecology berlangsung cukup intens. Sebagai informasi, Political Ecology mengajarkan analisis yang lebih tajam, holistik dan komprehensif dalam melihat satu kejadian atau fenomena, bahwa sesuatu yang terjadi di tingkat lokal, dipengaruhi oleh tingkat yang lebih tinggi (kabupaten, nasional bahkan global). Apa yang sedang terjadi di tingkat global akan berpengaruh pada tingkat yang lebih bawah. Kejadian yang ada dan saling mempengaruhi ini umumnya berdampak pada peminggiran suatu kelompok dan menguntungkan kelompok lain. Sumber daya alampun kerap menjadi korban eksploitasi dari kekuasaaan global (pasar) yang mengakibatkan lokal menguras habis-habisan sumber dayanya untuk kemudian mendapatkan return yang tidak setara. Inilah yang coba dibongkar melalui analisis ekologi politis.
Suasana perkuliahan yang mendukung, pengajar dan mentor yang cukup profesional, membuat materi yang berat dan cukup padat menjadi nyaman dan lezat dikunyah otak. Bahan yang bejibun dalam Bahasa Inggris menjadi lebih bisa dipahami karena adanya diskusi malam yang kerap dilakukan bersama teman-teman.

Akang Budi)

Salah Satu Suasana Perkuliahan di ISS (Foto: Akang Budi)

Total 17 orang yang datang dari penjuru Indonesia menjadi terbagi tiga, terutama kelompok anak lelaki di lantai dua, jika hampir tiba waktu makan malam. Terbagilah tiga kelompok sesuai keahlian masing-masing: juru masak, tukang belanja dan pencuci piring. Kelas juru masak paling elit, sementara tukang piring sudah tidak bisa naik kelas lagi karena kemampuan sudah mentok. Demikian komentar seorang teman yang disambut gelak tawa yang lain.

Suasana penuh tawa, canda dan terkadang nakal saling mencela inilah yang sangat membantu membuat betah satu sama lain. Belajar, masak, jalan dan belanjapun menjadi kegiatan bersama atau paling tidak berkelompok. Kehidupan yang lebih banyak dihabiskan di Den Haag pun menjadi tidak terasa lewat sebulan, menyisakan kenangan dan kenyamanan yang tidak terlupakan. All is one, 17 menjadi 1.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: