Sudewi2000’s Weblog

November 4, 2008

Papah Sudah Pulang

Filed under: My Self — Tags: , , — sudewi2000 @ 6:17 am

Ditulis 9 Maret 2008

Aku baru menjadi yatim. Saat Papah meninggal 3 Maret 2008 lalu, aku memang tidak bisa banyak menangis. Hampir tidak menangis malah. Memandangi wajahnya yang bak tertidur, aku merasa dia sudah mendapatkan ketenangan di alam yang berbeda.
Saat menungguinya beberapa kali, juga tidak banyak yang bisa diperbuat karena Papah sudah tidak bisa berkomunikasi. Serangan stroke ke-2 sejak 23 Februari 2008, membuat Papah yang biasanya kuat, menjadi lumpuh total tidak berdaya. Suarapun tidak bisa keluar dari mulutnya. Dua hari kemudian, saat aku menjenguknya, Papah mulai bisa membuka mata. Melihat dengan pandangan mata bayi, aku tahu dia memberikan isyarat lain. Sakitnya kali ini tidak biasa.

26 Februari menjelang senja, keadaan Papah semakin memburuk. Lebih buruk saat dia pertama masuk ke ICCU. Tidak ada sedikit responpun yang bisa diberikan. Nafasnya kemudian menjadi satu satu. Dokter mengatakan Papah kritis. Aku tahu Papah sedang mengalami saat di mana kesadaran fisik hampir tidak ada, kemampuan respon menjadi tercerabut. Tapi aku juga tahu jiwa Papah masih tetap dekat dengan kami.

Keharusan mengurus beberapa hal di Banjarbaru membuatku harus pulang sejenak. Kontak tetap dilakukan. Suatu hari aku menelfon Papah cukup lama. Papah memang tidak merespon secara fisik. Aku hanya bisa mendengar desahan nafas yang agak serak karena pengaruh cairan di paru-paru. Namun aku yakin dia bisa mendengar setiap kataku. Anak keduaku, Ara, juga sempat menceritakan banyak hal lewat telfon kepada sang Kakek.

Rencanaku dan keluarga adalah kembali secepat mungkin ke Palangkaraya, sesudah Ben selesai mengikuti suatu tes tanggal 3 Maret di Banjarmasin. Mamah berencana membawa Papah pulang ke rumah hari Rabu atau Kamis, minggu pertama Maret, karena dokter sudah angkat tangan. Membawa Papah pulang bisa jadi memberikan ketenangan lain kepadanya di saat-saat terakhir hidupnya. Doa yang terbaik dari Allah bagi Papah tetap dilakukan. Papah sementara itu, masih tetap sama, diam dalam kedamaiannya.

Lewat jam 12 malam, hari telah memasuki tanggal 3 Maret. Aku sedang tidak bisa tidur. Waktupun kuhabiskan di muka komputer mengerjakan beberapa hal. Menjelang jam 2 dini hari WITA, tiba-tiba aku merasa seseorang memperhatikan dan melihatku lekat-lekat. Aku menghentikan ketikanku dan menoleh. Tidak ada siapa-siapa dan aku meneruskan kegiatanku.

Setengah jam kemudian aku merasakan haus. Aku pun beranjak menuju dapur, meminum segelas air. Tiba-tiba kurasa ada yang mengikutiku lagi. Aku menoleh dan tidak menemukan apa atau siapapun. Namun, aku tetap merasakan suasana lain. Aku segera masuk ke kamar tidur, membangunkan Ben, mengatakan ada yang menemaniku sejak tadi, walau aku tidak melihat siapapun. Ben yang setengah mengantuk tidak berkomentar, bahkan kembali tidur.

Aku duduk di ranjang, mengambil hp dan mengotak-atiknya. Aku masih tidak bisa tidur. Padahal waktu hampir jam 3 dini hari WITA. Tiba-tiba aku mendengar ada yang mengetok-ngetok kaca jendela kamar dua kali. Aku menoleh dan tiba-tiba merasakan Papahlah yang beberapa jam ini menemaniku. Aku merasa kalau Papah pamit untuk terakhir kali.

Limabelas menit kemudian hpku berdering. Adikku Tiva dengan menahan tangis mengatakan Papah sudah tiada. Aku menjawab ya, aku sudah tahu. Aku diam, merasakan kehilangan yang tiba-tiba. Kehilangan yang aneh karena tidak sakit, tidak menusuk. Kehilangan dalam rasa yang damai dan pasrah. Aku menghela nafas, kemudian menghapus beberapa butir air mata yang keluar setetes demi setetes. Tidak terisak, tidak meraung.

Pagi itu, aku dan anak-anak berangkat ke Palangkaraya untuk melihat Papah terakhir kalinya secara fisik. Aku mencium keningnya beberapa kali dan membisikkan di telinganya betapa aku mengingat banyak kebersamaan kami dari aku kecil hingga aku hidup terpisah mandiri. Aku tidak sempat menangis. Mungkin karena ikut melayani ucapan duka cita dari pelayat dan sanak keluarga. Duduk di samping jenazah sambil memangku Rama, sesekali aku mengusap tangan yang berada di balik kain jenazah itu.

Papah dimakamkan di pemakaman Muslim pal 2 Palangkaraya. Di pekuburan itu juga ada makam ayah ibunya, beberapa saudara kandung papah yang sudah mendahuluinya, juga beberapa iparnya. Aku mengikuti dengan seksama prosesi pemakaman, mengambil foto-foto yang kuyakin bisa menjadi kenangan berhargaku tentang Papah.

Sore 8 Maret 2008, saat tertidur, entah kenapa aku bermimpi bertemu Papah di satu tempat yang mirip vila peristirahatan dengan pemandangan indah. Vila di atas air itu dikelilingi bukit dan pepohonan. Banyak anak-anak yang kutemui di situ, membuatku bingung tempat apa yang kudatangi itu. Tiba-tiba Papah keluar bersama seorang anak lelaki kecil dan perempuan seumurku yang tidak kukenal. Papah bilang habis sholat dan mau menemuiku. Aku memandangnya lekat, melihat kecerahan ada di wajahnya, dan tiba-tiba terbangun.

Papahku memang sudah pulang ke Sang Pencipta. Dan aku tahu dia bahagia. Dia tidak ada secara fisik, tapi akan lekat selalu di hatiku. Aku memang tidak bisa menangis terlalu banyak, hanya satu satu. Saat aku menulis tentang Papah sekarang, aku juga tidak banyak menangis. Tetap satu satu air mataku keluar.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: