Sudewi2000’s Weblog

November 4, 2008

Menenun Rejeki, Mempertahankan Tradisi

Filed under: Gender, Traveling — Tags: , , , , , , — sudewi2000 @ 5:43 am

Ditulis 1 Maret 2008

“Saya baru bekerja di sini 3 minggu, Bu. Dan katanya perbulan dibayar Rp 100 ribu. Lumayan untuk bantu menyekolahkan adik.” (Nur, 20 tahun, pengrajin tenun Sukarara, Lombok Tengah)

Swary Utami Dewi)

Salah Satu Motif Tenunan Lombok yang Dihasilkan Nur (Foto: Swary Utami Dewi)

Suatu hari di Lombok pada Februari 2008, saat memasuki desa Sukarara yang terkenal tradisi tenunnya, aku bermimpi akan menapak ke dunia kain. Ternyata, desa yang berada di Kabupaten Lombok Tengah itu menyambut dengan kesepian. Pikirku akan bertemu dengan lambaian kain yang dijemur di bawah matahari untuk dikeringkan. Ternyata tidak. Barulah saat memasuki suatu bangunan besar, yang ternyata koperasi penduduk setempat, mata mendapat suguhan yang lumayan meriah: kain tenun dan ikat berbagai ukuran, corak dan warna.

Di koperasi Dharma Setya inilah kebanyakan penduduk desa menitipkan hasil kerajinan mereka untuk dijual dengan harga yang lebih layak. Jadi kemudian, tidak hanya kain yang dipamerkan di sini untuk menarik perhatian pengunjung merogeh kocek. Berbagai bentuk kerajinan khas setempat juga ditemui seperti kursi dan meja berukir, perlengkapan dapur, patung dan berbagai hiasan dinding.

Swary Utami Dewi)

Gelar Kain Tenun di Salah Satu Sudut Koperasi (Foto: Swary Utami Dewi)

Di luar bangunan yang menjadi tempat display berbagai hasil olah tangan penduduk Sukarara nampak ada dua berugak – -semacam bale-bale tempat musyawarah, menerima tamu, mengobrol ataupun sekedar melepas lelah bagi orang Lombok- -. Di setiap berugak, ada dua perempuan sedang asyik menenun, memamerkan keahlian mereka dalam memadukan warna dan corak, menjelmakan helai-helai benang menjadi kain cantik siap jual. Di sinilah Nur duduk selonjor sambil menggerakkan tangan dengan lincah untuk memainkan alat tenun dan menyelipkan setiap helai benang warna secara bergantian untuk mendapatkan variasi warna dan corak menarik. Aku terpesona melihat kelihaian Nur memainkan tangan, menahan alat tenun dengan kaki dan memadukan warna-warna benang menjadi kain.

“Perlu konsentrasi dan ketekunan, Bu,“ jelas Nur memecah keterpesonaanku. Kemudian Nur mengatakan sejak usia 10 tahun ia mulai belajar menenun. Perlu waktu sebulan baginya untuk menguasai motif dasar bagi para pengrajin tenun, yaitu motif Bali-Lombok. Rata-rata kemudian, seorang penenun bisa menyelesaikan kain ukuran sedang dengan motif ini antara 2-3 minggu. Berangsur, perempuan yang hanya bersekolah sampai kelas 2 SMP ini mampu menguasai berbagai motif termasuk motif yang dianggap paling susah, Subanala. “Wah, kalau Subanala rata-rata 1,5 bulan baru selesai, “ tambah Nur tersenyum manis.

Staf Samanta)

Aku Ditemani Nur Sedang Belajar Menenun (Foto: Staf Samanta)

Melihat ketertarikanku, Nur menawarkan untuk memberikan kursus kilat menenun. Jadilah aku duduk berselonjor, menyadarkan kaki pada bilahan kayu, mengepaskan pinggang pada sejenis alat yang dililikan di seputar pinggang dan belajar memadukan warna dan corak pada setiap helai benang. Ups, susah ternyata. Pantas butuh waktu sampai sebulan untuk belajar. Tidak hanya diperlukan kepekaan rasa untuk menentukan corak dan warna, tapi juga ketrampilan untuk memadukan gerak tangan dan kaki. Aku sampai mengeluarkan peluh.

Merasa cukup dengan kursus kilat menenun, aku menyerahkan waktu kepada Nur untuk melanjutkan show-nya. Nur meneruskan, sambil berkisah. Ibunya sehari-hari bekerja di sawah. Pulang dari sawah, sang Ibu juga melakukan kegiatan tenun. Nur, seperti halnya gadis-gadis lain di Sukarara, akan menghabiskan waktu seharian untuk bertenun. Hasilnya dijual untuk menambah kebulan asap dapur. “Lumayan Bu, daripada tidak ada tambahan sama sekali, ” tegasnya.

Nur makin bersemangat berbagi ketika tahu asalku dari Kalimantan Tengah. “Bapak saya mencari uang sampai ke Kalimantan Tengah. Dia bekerja di perusahaan sawit, “ tutur gadis berkulit coklat ini. “Maklum Bu, orang di sini miskin-miskin. Sawah dan tenunlah yang bisa menghidupi, walau hanya untuk keperluan sehari-hari. Kalau ingin mendapat lebih, harus punya penghasilan lain seperti yang dilakukan Bapak,” imbuh Nur tanpa terlihat mengeluh.

Aku jadi teringat penjelasan Pak Subhan, yang setia menemani rombongan sampai Sukarara, bahwa koperasi ini didirikan untuk membantu penduduk agar hasil kerajinan tangan mereka bisa terjual lebih layak. Berkat adanya koperasi, harga sebuah kain menjadi lebih baik. Semakin rumit motif, semakin menarik warna dan semakin halus bahan, harga sebuah kain bisa ratusan ribu bahkan mencapai jutaan rupiah. “Mudah-mudahan imbasnya bisa ke penenun ya Pak,” ujarku kepada Pak Subhan.

Tenun ternyata tidak hanya bernilai ekonomis. “Kalau tidak bisa menenun, tidak laku, Bu. Jadi perawan tua nanti,” Nur menambah penjelasan tentang arti penting menguasai ketrampilan tenun bagi perempuan Sukarara. Aku menganggu, menjadi begitu paham.

Swary Utami Dewi)

Sang Belia yang Tekun Menenun (Foto: Swary Utami Dewi)

Tidak terasa waktu berlalu. Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam berbincang dengan Nur dan membeli dua kain gantungan dinding berwarna coklat tanah bermotif manusia, aku bersama rombongan menaiki mobil melanjutkan perjalanan ke belahan pulau Lombok lainnya. Mobil berjalan meninggalkan kesanku akan tenun. Membuatku paham tentang berbagai arti tenun bagi Sukarara dari segi tradisi, ekonomi dan sosial. Tenun berlangsung, kehidupan Sukarara berlanjut.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: