Sudewi2000’s Weblog

November 4, 2008

GADIS KECIL YANG MENYENTUH MATAHARI

Filed under: KIDS - ANAK-ANAK — Tags: — sudewi2000 @ 2:12 pm

Banjarbaru, 18 Oktober 2008

Swary Utami Dewi)

Ara yang Ceria (Foto: Swary Utami Dewi, 2008)

Usianya September 2008 baru menginjak 7 tahun. Tapi bagiku, dia sudah memiliki pesona tersendiri. Sejak kecil, sudah kulihat kecerdasan dan kematangannya.

Saat berusia masih 5 bulan, dengan gembira dia menyambut uluran tangan para ibu atau gadis berkulit hitam legam di West Bengal, India. Kulitnya yang cukup coklat dibanding kulitku, nampak berkilau menjadi perak tembaga saat ia berada dalam gendongan seorang ibu berpakaian shari.


Saat berusia tiga tahun, dengan lincah, dia menjejak kaki ke tangga-tangga Borobudur, dengan semangat menapak setiap undak dan menanyakan banyak hal. Tanpa letih, celotehnya membuatku gemas. Dengan rambut cepak, dia saat itu lebih terlihat tomboy dilengkapi dengan tawa riang dan sikap ceplas-ceplosnya.

Saat kemudian dia kubawa ke Taman Nasional Kutai, ke sebuah dusun berpenduduk orang dari daratan Sulawesi, senyum akrabnya membuat banyak orang ternganga. Tubuhnya yang terbilang tinggi, menyiratkan saat itu, seolah dia lebih dewasa dari usianya. Namun saat dia dengan berani dan manjanya duduk di pangkuan sang Tetua Adat dari Mamuju, saat itu aku yakin dia masih gadis cilikku yang berusia tiga tahun.

Saat usianya menanjak 4 tahun, dia mengibaratkan ibunya sebagai bidadari yang membawa kupu-kupu. Jika sang Abang menggambarkan si Ibu dengan baju merah ditemani santapan di depannya, si Gadis malah mengibaratkan Bunda sebagai malaikat. Atau jika sang Ibu memperlihatkan wajah cemberut saat sang Abang mengomentari tubuhnya dengan kata-kata polos, si Gadis Cilik itu mengatakan, ” Mamah gendut dan cantik” dan bukan mengatakan, ”Mamah gendut, tapi cantik.”

Swary Utami Dewi, 2003)

Ara Bayi, Berada Dalam Gendongan Perempuan India (Foto: Swary Utami Dewi, 2003)

Akhir-akhir ini, ketika kemampuan fikir dan kedewasaannya bertambah, keinginannya untuk melahap bukupun semakin banyak. Ketika masih berusia 5 tahun dan dia merasa bingung karena sang Guru mengomentari bacaan Toto Chan-nya, kali ini dia nampak tidak banyak peduli jika ada yang mengomentari apa yang dibaca. Nampaknya cerita-cerita keagamaan menjadi favoritnya saat ini.

Seringkali sang Bunda tergagap menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis dan filosofisnya seputar agama. ”Asma Ul Husna membuat bingung. Allah kadang pengasih dan penyayang. Tapi juga pemberi azab”. Saat Bunda memberikan analogi sederhana kalau dia sebagai manusia juga mempunyai beragam sifat, dengan cepat dia memotong, ”Tapi Allah kan bukan manusia.” Sang Ibu-pun diam tidak mampu memberikan jawaban secepat sang gadis menanggapi.

Lain waktu, dia menanyakan tentang kenabian Nabi Isa, doa Nabi Nuh dan sebagainya, semuanya menjadi renungan dan cerita penghantar tidur. Dia terus bertanya dan bertanya, memperbaharui terus apa yang difikirkannya.

Rasa ibanya pun sudah ada sejak dini. Saat berada di kebun binatang Surabaya, kalau masih berusia 3 tahun dan melihat rombongan balita yatim piatu ada di situ, dia dengan cepat meminta kepada si Ibu untuk mengangkat mereka menjadi anak. ”Apa kamu bisa membantuku nanti?” tanya sang Bunda. Dengan mata bulat lonjong kecoklatan seperti biji almond, dia mengatakan kalau yang mungkin dilakukannya hanya membuatkan susu.

Saat melihat anak-anak jalanan di jalan kota Banjarmasin mendekati untuk meminta uang, dan sang Ibu menolak mereka dengan cara halus, spontan dia mengatakan kalau anak tidak punya pilihan. Sejak saat itu, Ibupun berpaling dan mengubah cara berfikirnya tentang anak jalanan, bahwa mereka memang tidak bisa diperlakukan sama dengan para pengemis dewasa yang sehat dan bertubuh tegap serta punya kewarasan untuk memilih.

Melihat orang lain dengan cara yang sama juga ditunjukkan, saat Bunda memberitahu semua manusia diciptakan cantik, apapun warna kulitnya. Beberapa kali, si Gadis Cilik sebelumnya terlihat bingung dengan warna kulitnya yang agak coklat. Tiga hari kemudian, tiba-tiba dia menanyakan apakah menurut sang Ibu , sepupunya yang berkulit hitam tergolong cantik. Saat kening sang Ibu berkerut serius ingin berkata jujur terselubung, dengan cepat dia mengingatkan, ”Bukankah manusia semua diciptakan menjadi cantik apapun warna kulitnya?”

Pertengahan Oktober 2008, saat sang Abang sempat terkena flu dan batuk, dan kemudian menular kepada sang Adik, si Gadis tengah mencoba iba kepada sang Adik. Merasakan panasnya badan si Adik, tiba-tiba dia berkata penuh metafor, ”Panasnya membara seperti bola api.” Sang Bunda tersenyum lalu bertanya, ”Memang apa itu bola api?” Dia dengan senyum menjawab, ”Bola api adalah matahari.”

Swary Utami Dewi)

Ara Sedang Membaca (Foto: Swary Utami Dewi, 2008)

”Bagaimana kamu tahu kalau panasnya seperti matahari?” lanjut sang Ibu penasaran. Dengan mata berbinar dia menjawab, ”Karena aku pernah menyentuh matahari.”

Dan kini, sang Gadis yang menyentuh matahari itu, sudah tertidur lelap. Matanya terkatup rapat. Dengan rambut hitam legam sebahu yang terurai di dekat dua bantal kecil kesayangannya, dia nampak begitu cantik. ”Pasti dia bermimpi sedang bermain dengan bidadarinya,” gumam sang Ibu tersenyum.

1 Comment »

  1. hai… ara dah gede ya…kalo waktu umur 5 bulan aku sempet jadi “ibu asuhnya” yang suka gendong dia kalo mamahnya shopping di west bengal, sekarang dijamin gak bakalan kuat ngangkat si cantik ini lagi…
    peluk cium untuk ara ya… salam dari riza..

    Comment by irum — November 11, 2008 @ 9:28 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: