Sudewi2000’s Weblog

November 4, 2008

ANAK-ANAK (April 2008)

Ditulis 25 April 2008

ALIF DAN PARA ULAT

Tiada yang bisa mengganggu Alif jika dia sedang berkutat dengan buku-buku. Buku apa saja. Dari komik, pengetahuan, fiksi, semua dilahap. Aku senang menyaksikan kegemarannya ini. Pada usia 8 tahun, kufikir dia memiliki minat baca luar biasa.

Seringkali apa yang dibaca menjadi sumber inspirasi Alif. Saat membaca tentang metamorfosis kupu-kupu dari ulat, dalam beberapa hari, Alif sudah sibuk mengumpulkan ulat dari beberapa batang pisang di dekat rumah. Dua sepupunya, Kintan dan Noval, begitu bersemangat membantu.

Swary Utami Dewi, Oktober 2005)

Tiga Anak (Foto: Swary Utami Dewi, Oktober 2005)


Turun dari taksi, aku ternganga melihat aksi Alif. Ulat diambil dari pelepah pisang, kemudian ditempelkan ke daun tumbuhan koleksi ayahnya di samping rumah. “Mah, aku lagi pelihara ulat,” ujarnya girang. “Dalam beberapa hari ia akan jadi kupu-kupu. Nih, ada beberapa, ” tunjuknya pada tumbuhan perdu itu.

Aku hanya bisa nyengir, tidak mampu membayangkan bagaimana komentar Ben mengetahui tanaman koleksinya menjadi rumah baru para ulat.

Malamnya, Alif bersemangat menceritakan kepadaku tentang harapannya akan ulat-ulat itu, yang kelak menjadi kupu-kupu. Aku diam-diam menatapnya takjub, berharap dalam hati bahwa Alif pun akan menjadi sosok luar biasa kelak, layaknya kupu-kupu mengepakkan sayap, saat Alif siap terbang dan menjelajah dunia.

Ben)

Alif Saat Berusia 2 Tahun (Foto: Ben)

ARA DAN TELUR

Anak keduaku ini terkadang bisa membuat kita tercenung saat dia mengeluarkan beberapa komentar spontan. Saat Ben memarahinya karena sesuatu, Ara menangis. Kemudian, dia mengatakan, “Ayah, seharusnya Ayah tidak begitu terhadap telur. Ara kan telur dan ayah induk. Seharusnya induk menjaga telurnya dengan baik, mengerami supaya menetas, bukan memarahi.”

Malamnya, aku mengajak Ara ngobrol, mau tahu lebih banyak kenapa dia mengibaratkan diri telur dan orangtua sebagai induk. Ara, gadisku yang baru berusia 6 tahun, berceloteh sambil monyong-monyong. “Iya, setiap anakkan telur, orangtua induk. Telur harus dijaga baik-baik supaya menetas.”

“Kalau telurnya nakal seperti Ara gimana?” tanyaku mencandai.

“Telur kan kadang-kadang keras, susah menetas. Itu telur nakal,” jelasnya.

“Nah, telur seperti itu bisa membuat induk pusing,” lanjutku.

“Kalau telur tidak menetas Mah, bukan berarti telurnya nakal. Mungkin juga karena induk tidak bisa menghangatkan si telur sehingga tidak menetas-netas deh telur,” jelasnya begitu polos.

Aku tidak bisa menjawab, hanya berfikir betapa unik dan kenanya analogi Ara tentang anak-orangtua sebagai telur-induk.

Swary Utami Dewi)

Ara Saat Berusia 5 Tahun (Foto: Swary Utami Dewi)

“Ngomong-ngomong, Ara telur apa ya?”

“Oh, telur Dino, Mah, ” ujarnya cepat. “Anak-anak Mamah kan pada bongsor, kayak Dino. Kalau ayam terlalu kecil.”

Aku terbahak, diikuti tawa riang Ara.

RAMA DAN MAAF

Bungsuku yang berusia 4 tahun ini lain lagi. Dia kugelari si SOP. Apa yang dilakukannya selalu tertata, tersusun dengan sangat baik. Mau diajak jalan, dia pasti mengambil jaket dan sepatunya. Pulangnya pasti dia akan meletakkan semua dengan rapi. Berbeda dengan kedua kakaknya yang terkadang ceroboh dan tidak peduli. Banyak lagi hal lain yang dilakukan Rama dari hasil pengamatan atau ajaranku dan ayahnya.

Satu hal tertata yang kusuka dari Rama adalah perkataan maafnya. Jika dia melakukan kesalahan, atau kita komplain terhadap apa yang dilakukannya, Rama akan selalu bilang “maaf”. Kemudian matanya yang bulat bening akan memandang kita. Seolah meminta kita maklum dan memaafkannya.

Kejernihan tatap mata itu yang sesaat kemudian akan menimbulkan ukiran senyum di bibirku. Aku tahu dia tidak bermaksud begitu. Sering sesudah itu aku memeluknya dan mengatakan, “Mamah sayang Rama.”

Swary Utami Dewi)

Rama Saat Berusia 3 Tahun (Foto: Swary Utami Dewi)

Dalam hati aku tahu, bungsuku ini akan menjadi anak luar biasa.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: