Sudewi2000’s Weblog

November 3, 2008

KEKERASAN, PENDIDIKAN, KETIDAKADILAN

Filed under: Opinion — Tags: , , , — sudewi2000 @ 11:19 am

Banjarbaru, 12 November 2007

Beberapa hari ini aku merasakan kegelisahan luar biasa. Entah apa yang ada di benak dan batin, rasanya mau ditumpahkan, tapi tidak bisa keluar juga. Malam di rumah, sesudah batal berangkat ke Balikpapan karena penundaan pesawat berjam-jam tanpa kepastian, aku membuka Kompas, Senin 12 November 2007. Dua berita mengusik perhatian. Pertama, tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan, tentang keadilan. Kedua, features tentang sistem pendidikan di Finlandia. Semua membuat kegelisahan benak dan batin yang membuncah tidak karuan, menjadi lumayan memadat, bergerak ke arah kesadaran: ku tau yang ku mau.

Seorang anggota Komnas Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, Husein Mohammad, menulis tentang fakta masih banyaknya kekerasan dalam berbagai bentuk yang terjadi di Indonesia. Tahun lalu, paling tidak tercatat 22.350 kasus yang tercatat oleh Komnas ini. Dan aku yakin, banyak orang sudah paham fenomena gunung es, yang tercatat biasanya hanya yang di ujung. Di bawah lebih banyak lagi. Angka atau jumlah kekerasan memang penting. Tapi lebih dari semua itu, bagaimana fenomena yang ada ini bisa menjadikan kita belajar, menjadi suatu bangsa yang memiliki budaya non-kekerasan. Bagaimana pendidikan kita bisa berperan memainkannya?

BIKAL)

Pendidikan Anak: Senantiasa Dirundung Berbagai Persoalan (Foto: BIKAL)

Menyinggung pendidikan, aku bergerak menuju tulisan kedua, tentang sistem pendidikan di Finlandia yang memadukan pendidikan dengan riset dan industri. Tenaga kerja maupun tenaga ahli di sana selalu siap pakai dan siap terjun di dunia kerja maupun di dunia pendidikan dan penelitian. Hasil penelitian selalu tepat guna, terpakai di dunia industri. Tidaklah mengherankan kalau negara pemilik Nokia ini selalu dikenal sebagai negara yang memiliki pendidikan dan riset berkualitas tinggi, industri menakjubkan dan selalu berada dalam urutan terkaya di dunia (sepuluh besar, bahkan pernah menjadi yang terkaya).

Dalam dunia pendidikan, Finlandia tidak mengenal sistem ranking atau tinggal kelas, tidak mengenal ada yang bodoh atau pintar. Setiap orang didukung sesuai kemampuannya. Ah, aku menghembus nafas perlahan, teringat dua tahun lalu, saat anak sulungku, Alif, harus masuk sekolah dasar. Betapa saat itu ayahnya harus berkeliling mencari sekolah baru karena sekolah pertama yang baru dimasukinya seminggu, menolak anakku. Bukan karena Alif tidak cerdas, justru karena keunikan dan kemajuannya yang membuat guru kewalahan, tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan merasa khawatir kalau anakku hanya mengganggu program pendidikan di sekolah itu.

Swary Utami Dewi)

Anak Sekolah: Kerap Menjadi Kelinci Percobaan (Foto: Swary Utami Dewi)

Memadatkan kembali buncahan kegelisahan benak dan batin, aku mencoba menarik kesadaran pada diriku. Saat kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan yang lainnya masih kerap terjadi di Indonesia, sistem pendidikan kita baik di sekolah maupun informal di rumah dan keluarga, layak dipertanyakan. Budaya pendidikan apa yang masih menghasilkan para manusia yang gemar berlaku keras?

Kedua hal di atas, kekerasan dan pendidikan ternyata memiliki titik sambung. Saat kita tidak mengakui hak unik anak didik, orang per orang, sebagai pribadi yang berbeda, saat itu kita juga melakukan kekerasan dalam bentuk yang lain. Sistem pendidikan kita yang cenderung menyeragamkan, ternyata telah melakukan kekerasan mental dan budaya dalam bentuk masif. Anak menjadi robot dan kelinci percobaan. Pada akhirnya, rasa keterpinggiran banyak anak yang merasa tidak dihargai, membuat banyak dari mereka menjadi berbalik tidak menghargai orang lain, dalam berbagai bentuk.

Mari belajar lagi dari Finlandia. Negara ini terkenal sebagai negara dengan tingkat korupsi yang mungkin terendah di dunia. Penduduknya terkenal jujur. Kekerasan terhadap perempuan? Aku yakin statistiknya pasti rendah (aku akan mencari tahu statistik mereka tentang ini). Pendidikan di sana, terbukti menghasilkan kebiasaan dan budaya yang luar biasa. Tidak hanya pintar otak, trampil, tapi juga berbudaya positif bernurani.

Aku mencoba bercermin pada diri sendiri. Membenahi rasa tidak nyaman di diri karena tahu dan yakin, sadar atau tidak sadar ada bentuk-bentuk kekerasan yang pernah kulakukan. Ada kezaliman dan ketidakadilan dalam berbagai bentuk yang pernah kulakukan, baik pada diri sendiri, keluarga, orang lain bahkan bumi dan semesta ini. Tidak hanya itu, ketidakadilan pada Tuhan sering kulakukan. Mengabaikan rasa sayang-Nya kepadaku di saat aku mendapat berkah yang begitu berlimpah dalam berbagai bentuk.

Aku terhenyak dari lamunan dan keasyikan menulis, saat anak bungsuku menabrak dari belakang dengan badannya. Dengan caranya dia mengingatkanku untuk meluangkan waktuku yang begitu sempit untuknya, untuk bermain dan menghargai haknya sebagai anak. Tuhan, jangan biarkan aku lagi berbuat ketidakadilan.

Inilah beda antara sekolah Finlandia dengan umumnya sekolah di Indonesia. Saat kita begitu gemarnya melakukan penyeragaman di sana-sini terhadap para murid dan menjadikan mereka kelinci percobaan dengan menggonta ganti kurikulum hampir setiap tahun, Finlandia sudah lama menerapkan sistem yang mengakui perbedaan unik setiap orang dan mengoptimalkan keunikan tersebut. Saat pendidikan kita sering menghasilkan lulusan yang tidak siap pakai dan tidak nyambung dengan kepentingan industri, dan hasil penelitian banyak disimpan di lemari atau gudang karena tidak terpakai, di sana ketiganya bersinergi dengan baik.

1 Comment »

  1. salam kenal tukeran link yukk

    Comment by madzz — November 3, 2008 @ 9:49 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: