Sudewi2000’s Weblog

November 3, 2008

ALTERNATIF SKEMA PERDAGANGAN KARBON

Ditulis 3 November 2008 (Revisi dari Tulisan Versi 8 November 2007).

Tulisan ini dimuat di Koran Radar Banjarmasin, 7 November 2008, halaman 3.

Swary Utami Dewi)

Perubahan Iklim Disinyalir Karena Pemanasan Global (Foto: Swary Utami Dewi)

Berbagai dampak dari perubahan iklim mulai terasa dalam berbagai bentuk. Meningkatnya intensitas banjir, fluktuasi perubahan cuaca, ketidakjelasan transisi antar musim, naiknya permukaan air laut dan kebakaran hutan adalah beberapa contoh dari dampak tersebut. Lebih lanjut, beberapa efek juga akan mengikuti seperti ancaman kekurangan bahan pangan karena kegagalan panen dan semakin berjangkitnya berbagai jenis penyakit. Dalam jangka panjang, beberapa ancaman serius juga bisa terjadi seperti berkurang atau punahnya beberapa spesies flora dan fauna dan terganggunya keanekaragaman hayati. Pendek kata, perubahan iklim akan mengancam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya bagi manusia, tapi bagi berbagai makhluk hidup di muka bumi ini.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hutan memegang peran penting dalam konteks perubahan iklim. Hutan memiliki fungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon. Sebaliknya, hutan juga merupakan sumber emisi CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca, misalnya saat kebakaran hutan terjadi.Semakin banyak informasi dan hasil penelitian yang menunjukkan kepada kita tentang fenomena perubahan iklim. Perubahan iklim terjadi akibat proses pemanasan global, yaitu meningkatnya rata-rata suhu permukaan bumi karena akumulasi panas yang tertahan di atmosfer sebagai akibat dari efek rumah kaca. Perkembangan populasi dan aktivitas manusia terutama sejak Revolusi Industri pertengahan abad 19 telah meningkatkan emisi gas-gas rumah kaca dan memperhebat efek rumah kaca di atmosfer.

Ancaman perubahan iklim yang sudah mulai terjadi dan berpotensi untuk terus berlanjut, jika tidak segera diatasi akan menimbulkan berbagai kerugian. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, biaya untuk mengatasi akibat negatif perubahan iklim ini diperkirakan bisa menambah beban pengeluaran, misalnya untuk mendapatkan teknologi memadai untuk mengatasi hal ini. Jika tidak diatasi lebih lanjut, biaya-biaya ekonomi dan sosial untuk mengatasi berbagai dampak juga akan semakin besar. Untuk itu langkah-langkah konkrit untuk mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim harus segera dilakukan oleh berbagai pihak.

Hutan Berfungsi dalam Mengatasi Dampak Pemanasan Global

Hutan Berfungsi dalam Mengatasi Dampak Pemanasan Global (Foto: Swary Utami Dewi)

Bagi Indonesia, hutan juga memegang peranan yang sangat signifikan. Berbagai hasil sumber daya dari hutan, seperti kayu, telah menjadi penyumbang pada perekonomian nasional. Hutan juga menjadi tulang punggung bagi jutaan masyarakat Indonesia yang hidup di dalam dan sekitar hutan. Bagi mereka, hutan tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tapi juga nilai budaya, sosial dan religis.

Selain itu, hutan juga merupakan tempat hidup berbagai flora dan fauna dan tempat tersimpannya plasma nutfah. Hutan juga memiliki fungsi pengatur tata air dan perlindungan Daerah Aliran Sungai serta konservasi keanekaragaman hayati.

Mengingat begitu signifikannya fungsi dan makna hutan, baik dalam lingkup lokal, nasional maupun konteks global (perubahan iklim), perlakuan kita terhadap hutanpun menjadi penting untuk dicermati. Tantangan yang kita temui di sini adalah, bagaimana menjadikan hutan itu bisa tetap berperan sebagai sumber perekonomian, menyumbang pada perbaikan hidup masyarakat sekitar hutan, terjaga kelestariannya dan menyumbang pada penurunan emisi gas rumah kaca. Salah satu jawaban dari semua ini adalah dengan menjaga serta memanfaatkan kemampuan hutan dalam menyerap dan menyimpan karbon.

Berbagai negara secara bersama-sama menunjukkan kepedulian dalam upaya merespons isu perubahan iklim. Tahun 1997 dihasilkan Protokol Kyoto yang merupakan kesepakatan negara-negara untuk menurunkan emisi melalui beberapa alternatif mekanisme. Peran negara-negara berkembang, dicakup melalui skema Mekanisme Pambangunan Bersih (Clean Development Mechanism, CDM). Bagi negara-negara berkembang yang memiliki hutan, seperti Indonesia, CDM berpotensi sebagai sumber pendanaan bagi perbaikan dan penjagaan kualitas hutan. Di sini, kemampuan hutan dalam menyerap CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca menjadi fokus penting. Namun hingga kini, masih ada berbagai catatan dalam skema CDM ini. Misalnya, CDM kehutanan hanya digunakan dalam periode 2008-2012 dan terbatas pada reforestasi dan aforestasi, misalnya agroforestry dan reboisasi. Khusus untuk aktivitas reboisasi, dibatasi pada area yang tidak berhutan sebelum tahun 1990. Selain itu, tahapan-tahapan CDM cukup rumit dan panjang. Meski CDM tetap harus dilihat sebagai peluang, diyakini perlu untuk mencari atau menciptakan alternatif lain yang bisa dimanfaatkan Indonesia.

Swary Utami Dewi)

Salah Satu Acara di COP 13 Bali (Foto: Swary Utami Dewi)

Selain itu ada pula skema Reducing Emissions From Deforestation and Degradation (REDD), yaitu upaya menurunkan emisi gas rumah kaca akibat konversi dan kerusakan yang timbul dari pengelolaan hutan yang tidak berkelanjutan. Skema ini muncul karena saat ini di bawah UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change), belum ada mekanisme insentif yang diberikan untuk upaya pencegahan konversi dan kerusakan hutan. Celah inilah yang coba dijawab melalui skema REDD. Indonesia sendiri melalui Presiden RI telah menyatakan komitmen yang kuat untuk melakukan upaya penurunan emisi melalui pencegahan deforestasi dan kerusakan hutan.

Pada Conference of Parties (COP) 13 di Bali Desember 2007, skema REDD telah didiskusikan. Bebeberapa negara yang akan berpartisipasi mulai menyiapkan berbagai perangkat peraturan dan persiapan demonstration activities. Indonesia sendiri telah merumuskan draft peraturan menteri kehutanan dan membentuk Komisi Perubahan Iklim yang melibatkan berbagai pihak.

Skema lain yang bisa menjadi alternatif baru bagi Indonesia adalah Perdagangan Karbon Sukarela (Voluntary Carbon Market, VCM). Salah satu keuntungan yang bisa diraih dari skema ini adalah diperhitungkannya kemampuan hutan dalam menyerap dan menyimpan karbon, termasuk juga di kawasan hutan yang masih utuh (existing forests). Selain itu VCM bersifat fleksibel dan sukarela. Berbagai pihak yang berkepentingan dimungkinkan untuk ikut serta dalam skema tersebut.

BIKAL)

Perdagangan Karbon: Perlu Melibatkan dan Memberikan Keuntungan Optimal bagi Masyarakat Sekitar Hutan (Foto: BIKAL)

Keuntungan yang diperoleh dari skema perdagangan karbon sukarela yang sedang diinisiasi ini nantinya diharapkan mampu menyumbang pada upaya perbaikan dan kelestarian hutan dan penurunan pemanasan global. Tidak kalah pentingnya adalah kontribusi bagi masyarakat lokal yang bisa membantu menaikkan tingkat kesejahteraan, utamanya bagi mereka yang telah begitu lama menjaga dan memelihara kelestarian hutan. While taking care of forests and planet, we also take care of people who take care of the forests.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: