Sudewi2000’s Weblog

October 5, 2008

MENJAGA KESEIMBANGAN

29 Juli 2007

Salah Satu Bencana yang Kerap Ditemui (Foto dari www.mediaraharja.com)

Banjir: Salah Satu Bencana yang Kerap Ditemui (Foto dari http://www.mediaraharja.com)

Membuka koran masih banyak berita duka yang kutemui. Utamanya bencana alam. Tingkat lokal, tidak jauh-jauh ada banjir di beberapa kabupaten di Kalimantan Selatan, seperti Tanah Laut. Tingkat nasional, terjadi bencana banjir bandang dan longsor di Morowali, Sulawesi Tengah. Sampai hari ini, karena susahnya akses ke beberapa desa akibat rusaknya infrastruktur, menyebabkan kita belum tahu persis berapa jiwa yang menjadi korban dan berapa banyak harta hancur.

Disinyalir karena perubahan iklim yang membuat curah hujan begitu tidak terkendali di banyak tempat, beberapa negara mengalami banjir dahsyat. Sebut saja China, Inggris dan Rusia. Inggris, sesudah 60 tahun baru kali ini mengalami banjir yang begitu luar biasa dan memakan korban jiwa.

Swary Utami Dewi)

Pendidikan Dilanda Berbagai Kendala dan Masalah (Foto: Swary Utami Dewi)

Lalu pendidikan. Berbagai keluhan tentang mahalnya biaya pendidikan dan buku, kurangnya fasilitas, sampai standard ujian nasional yang dianggap terlalu tinggi bagi sebagian daerah, menghiasi berita di berbagai media massa. Dari presiden sampai bupati di Kalimantan Selatan menjadi tempat mengadu. Aku membuktikan uniknya duni a pendidikan kita ketika anakku yang kelas 1, diharuskan membeli buku pelajaran yang berbeda dengan kakaknya yang sekarang duduk di kelas 3. Alasannya, ganti tahun pelajaran ganti kurikulum. Kocekpun kembali harus dirogoh.

Gambaran kemiskinan, seperti biasa, juga menjadi berita di mana-mana. Meskipun beberapa bulan lalu disebutkan menurutnya angka kemiskinan 2007 dibandingkan tahun lalu, nyatanya kemiskinan masih merajalela. Aku sempat tercenung ketika suatu malam di Jakarta pada pertengahan Juli, sekelompok anak mengenakan seragam coklat pramuka, masih harus bergelut dengan malam. Tangan mereka menadah ke arah para pengemudi mobil yang berhenti di lampu merah. Beberapa orang tua berpakaian lusuh, nampak lahap mengerubungi nasi bungkus di trotoar, tidak jauh dari lampu merah.

Nur Kamiah, dari article.wn.com)

Kemiskinan Ditemui di Mana-mana (Foto: Nur Kamiah, dari article.wn.com)

Banyak lagi yang membuat resah: bom di beberapa tempat di dunia, permen yang diberi formalin (termasuk permen susu kesukaanku sejak kecil) serta beberapa harga kebutuhan yang masih merambat naik seperti susu anakku.

Lalu, apa yang menjadi kebahagiaan diri dan dunia jika ternyata di sekeliling hidup begitu rumit dan susah? Aku mencari-cari dalam berita dan kenyataan di sekitar. Masih ada ternyata. Soal perubahan iklim, semakin nampak komitmen banyak pemerintah dan para pihak dalam upaya mengurangi penyebab dan dampak perubahan iklim. Tidak lagi berupa slogan, tapi aksi bersama mulai dirancang.

Kemudian bola. Benda bundar ini menjadi begitu ajaib ketika beberapa pertandingan Piala Asia yang diselenggarakan di Jakarta begitu tenang, tanpa kerusuhan. Pertandingan Indonesia melawan Korea Selatan misalnya, yang diperkirakan rusuh, ternyata berjalan begitu mulus. Meski Indonesia kalah, supporter tetap memberikan applaus meriah kepada tim nasional. Tidak ada gangguan sedikitpun sebelum dan sesudah pertandingan.

Swary Utami Dewi)

Peluncuran Hutan Kemasyarakatan, Desember 2007 (Foto: Swary Utami Dewi)

Sepanjang Juli ini aku juga berkunjung ke beberapa kelompok petani di Yogyakarta dan Lampung. Mereka yang selama bertahun-tahun mengelola hutan negara dengan mengantongi ijin sementara Hutan Kemasyarakatan (HKm), masih merajut harapan untuk meraih hidup lebih baik. Departemen Kehutanan dibantu beberapa pihak seperti LSM telah dan akan melakukan evaluasi ijin sementara HKm tersebut, untuk kemudian merekomendasi dikeluarkannya ijin definitif jangka panjang.

Masih terkait dengan pekerjaan, beberapa hal masih bisa kulalui dengan sangat baik dan lancar, bahkan saling mendukung. Aku tetap bekerja dengan masyarakat dan para pihak untuk mendorong kebijakan yang lebih pro pada masyarakat miskin sekitar hutan serta mendorong terbentuknya Community Foundation di Kalimantan.

Lantas di rumah, anak-anak tumbuh begitu cerdas dan manisnya. Aku tidak terkena mitos ibu bekerja dan banyak di luar, akan membuat anak tidak dekat dan lekat. Mereka nyatanya masih begitu lekat. Tumbuh cerdas dan berkembang dengan bakat masing-masing. Buku tetap menjadi salah satu pilihan mereka selain melakukan aktivitas lain khas anak-anak seperti menonton kartun dan bermain.

Difikir-fikir, laksana timbangan, terkadang diri kita menjadi gamang ke satu sisi karena melihat banyak hal negatif atau kurang yang harus diperbaiki. Terlalu miring ke satu sisi membuat kita menjadi bingung dan frustrasi. Sebaliknya, terlalu condong ke sisi yang lain, kepada kenikmatan dan kebahagiaan pribadi, terkadang menjadikan kita buta dan lupa pada sekitar. Kuncinya memang keseimbangan. Bagaimana sedapat mungkin kita bisa tetap menempatkan diri untuk tidak condong ke salah satu. Juga, pijakan harus tetap kuat. Ini berarti, tekad untuk berbuat semakin baik terhadap diri sendiri, keluarga dan orang banyak juga harus tetap terjaga.

Mudah-mudahan aku tetap bisa berpijak pada keseimbangan. Kalaupun sesekali terpeleset dan condong, mudah-mudahan rem di batin dan otak bisa membuatku kembali berpijak pada titik keseimbangan. Semoga.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: