Sudewi2000’s Weblog

October 5, 2008

DUA SISI LOSARI

Filed under: Traveling — Tags: , , , , , , , — sudewi2000 @ 11:55 am

Ditulis 5 Oktober 2008. Semua foto oleh Swary Utami Dewi.

Sunset Losari April 2008

Sunset Losari, April 2008

Pantai Losari Makassar merupakan tempat favoritku. Senja yang turun di Losari kerap menakjubkan. Dari atas kamar hotel, tempatku biasa menginap di Makassar, pemandangan begitu menakjubkan. Pesisir pantai, kesibukan orang, deretan bangunan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Sunset Losari Agustus 2008

Sunset Losari, Agustus 2008

Saat senja merupakan saat aku bergegas turun mengambil kamera dan mengabadikan variasi warna senja yang timbul. Siluet orang-orang yang kubidik di bawah bayangan senja juga menjadi bagian yang menarik. Orang-orang ini menjadi bagian besar dari masyarakat yang datang menikmati senja di Losari. Pendek kata, Losari dengan senjanya menampilkan keindahahan yang tidak menjemukan.

Sisi kedua Losari adalah perjuangan. Sama halnya di tempat lain, saat begitu banyak orang, akan banyak pedagang datang menjajakan dagangan. Yang sering membuat hatiku nyeri, jika melihat sosok bocah-bocah di bawah umur yang harus bergelut dengan senja Losari hampir tiap hari. Mereka datang bukan untuk menikmati keindahan senja, tapi memanfaatkannya untuk sekedar mencari rejeki.

Sunset di Losari, September 2008

Sunset Losari, September 2008

Sudut Lain Losari, April 2008

Sudut Lain Losari, April 2008

September 2008 lalu, saat Ramadhan masih ada, sesudah berbuka, lagi-lagi aku berlari ke Losari. Senja menampilkan keindahan dan membuat tanganku gatal untuk mengambil kamera. Duduk sesaat mengamati indahnya sunset, seorang anak penjaja minuman mendekati. Dengan logatnya yang khas, dia menawarkan pilihan minuman kotak susu dan teh. Aku menggeleng. Lantas dia melanjutkan tawaran minuman kaleng bersoda. Aku tetap menggeleng.

Entah kenapa, sang anak memilih duduk tidak jauh dari aku. Matanya menatap orang yang lalu lalang di pantai. Entah kenapa juga tiba-tiba aku menegurnya, kemudian menanyakan minuman apa yang dijual yang menurutnya paling enak. “Susu,” jawabnya cepat.

Jadilah aku mengambil dua kotak. Satu kuminum dan satu kuulurkan ke sang anak. Mula-mula dia menolak. Tapi waktu kukatakan aku yang mentraktir, dengan girang dia menyambar. Di situlah perbincangan singkat kami bermula.

Sejoli Menikmati Senja, Agustus 2008

Sejoli Menikmati Senja, Agustus 2008

Rasyid, sebut saja namanya begitu. Usianya 13 belas. Sesudah lulus SD, dia tidak melanjutkan sekolah. Alasannya sama persis dengan alasan banyak anak di Indonesia: tidak punya biaya. Jadilah Rasyid menghabiskan waktu dari sore sampai malam menjajakan beberapa jenis minuman dan rokok.

Aku agak berkerut saat dia mengatakan dalam sekali berjualan dia hanya mendapat upah Rp 3.000 per hari dari tante tempat dia mengambil semua barang dagangannya. Tidak banyak yang diperoleh. Aku memutuskan untuk percaya daripada mendebat ketidaklayakan upah yang diperolehnya.

“Tapi kata Tante, aku akan dikasih uang untuk pulang kampung,” katanya riang dengan mata berbinar. Sesekali ia menyedot minuman susu coklat di tangannya. Aku tidak mengomentari menemukan keriangan di suaranya.

Anak-Anak Pencari Nafkah di Losari (September 2008)

Bocah Pencari Nafkah di Losari, September 2008

Saat kami sedang asyik berbincang, 3 anak penjaja minuman lain mendekati dan bergabung. Melihat lirikan mereka ke arah susu kotak yang dipegang Rasyid, aku merasa tidak nyaman. Lantas dari masing-masing aku membeli satu, dan kemudian meminta mereka untuk meminumnya. Sesaat kemudian, gelak tawa keempatnya bergema. Mereka yang semua mengaku tidak lagi bersekolah sesudah tamat SD, bahkan nampak sangat antusias ketika kufoto dan kuperlihatkan hasilnya.

“Ei, gagahnya… ,” komentar salah satu dengan logat Makassar yang kental.

Senja sudah berlalu dan malam semakin dalam. Aku tidak ingin menahan mereka lebih lama ketika mereka sudah menghabiskan susu. Mereka harus berjualan lagi.

Kapal-kapal Berlabuh Dekat Losari, Agustus 2008

Kapal-kapal Berlabuh Dekat Losari, Agustus 2008

Tanpa ada tatapan mata sendu atau memelas, dengan riang mereka menyalamiku satu persatu seraya berterimakasih, kemudian melambai. Tinggallah aku kembali duduk, menatap ke laut yang sudah tidak memperlihatkan apapun, terkecuali kerlap lampu-lampu kapal yang berlabuh. Pantai Losari bagiku telah menjadi sebuah koin dengan dua mata sisi yang kontras: keindahan dan perjuangan hidup.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: