Sudewi2000’s Weblog

October 4, 2008

MENGAIS REJEKI DARI KARTU POS

Filed under: Gender, Traveling — Tags: , , , , , — sudewi2000 @ 7:42 am

28 Juni 2007

Agung Ayu)

Aku di Tangga Besakih Menuju Pura Gelap (Foto: Agung Ayu)

April 2007 lalu, saat berkesempatan menginjak Bali untuk kesekian kalinya, aku merasa keteduhan yang nyaman. Mungkin karena kakiku menjejak di tempat suci salah satu pusat ibadah masyarakat Hindu Bali. Ya, suatu hari di bulan April, aku berkunjung ke Pura Besakih, pura terbesar di pulau Dewata yang terletak di Kintamani. Kakiku terus melangkah ke atas, puluhan bahkan mungkin ratusan anak tangga kujejaki hingga akhirnya aku mencapai Pura Gelap, pura tertinggi di Besakih.

Lewat tengah hari, sesudah menikmati cantiknya pemandangan dari puncak Besakih, aku dan sahabatku Agung Ayu, turun bersama. Dalam perjalanan turun, aku melewati beberapa perempuan yang menawarkan kartu pos dalam bungkus plastik. Seorang perempuan tiba-tiba mencolekku. Aku menoleh dan baru sadar kalau dia sedang duduk di salah satu anak tangga. Dia ternyata harus duduk karena sedang memangku bocah mungil yang tertidur nyenyak.

Swary Utami Dewi)

Ayu: Berjualan sambil Menjaga Anak (Foto: Swary Utami Dewi

Ayu, demikian ibu muda itu dipanggil. Paras Ayu memang ayu, khas wajah Bali yang unik dan eksotis. Bocah di pangkuannya yang juga perempuan, mewarisi kecantikan ibunya. “Ibu dan anak sama cantiknya,” gumamku memandangi Eva, berusia dua tahun yang masih terlelap nyenyak. Sedikitpun balita ini tidak terganggu dengan keributan akibat suara beberapa ibu penjual kartu pos. Satu dua orang, karena begitu bersemangatnya menawarkan jualan, terkesan setengah berteriak dan memaksa.

Ayu, biarpun duduk, tidak kalah bersemangatnya dengan para penjual lain. “Murah Bu, Cuma Rp 10 ribu satu plastik,” tawar Ayu kepadaku sambil memperlihatkan isi plastik tersebut. Aku menggeleng. “Bisa ditawar, Bu,” lanjut perempuan berkuncir kuda itu.

Tiba-tiba Eva, sang anak, terbangun. Dia agak kaget melihat dua orang asing di hadapannya. Aku dan Agung Ayu tertawa gemas melihatnya. Aku yang semula tidak begitu peduli dengan tawaran sang ibu, merasa trenyuh dan berniat mengajaknya ngobrol lebih jauh. Untuk memulai pendekatan, aku lebih lanjut menanyakan berapa aku boleh menawar per plastik yang berisi 10 kartu pos. “Berapa saja boleh Bu, asal saya tidak rugi,” jawabnya dengan logat Bali yang kental. “Berapa yang tidak rugi?” tanyaku lebih lanjut. “Asal lebih dari Rp 5 rb. Modalnya segitu,” jawab Ayu. Aku sama sekali tidak bercuriga dia membohongiku. Parasnya terlihat polos tidak berpretensi apapun. Selanjutnya, dari situ semua cerita mengalir, membuatku paham tentang perjuangan hidup Ayu.

Swary Utami Dewi)

Wilayah Besakih, Area di Mana Ayu Tinggal dan Mencari Nafkah (Foto: Swary Utami Dewi)

Ayu yang masih berusia di awal 20 tahunan menikah pada usia muda. Tidak penting diketahui apakah ia menikah dijodohkan atau berdasarkan cinta. Yang dikisahkannya kemudian, ternyata sang suami, bukan sosok pria yang bertanggung jawab. Semenjak menikah, perempuan muda inilah yang membanting tulang, bekerja mencari sesuap nasi. Tiap hari dia bangun subuh. Sesudah memasak dan membereskan rumah, mulailah dia berangkat mencari nafkah. Yang dikerjakannya sederhana, menjual kartu pos sembari menjual canang (bunga untuk upacara).

Saat Ayu memiliki anak tidak berapa lama sesudah menikah, tidak ada rutinitas yang berubah. Setiap pagi pada jam 10, sehabis pekerjaan di rumah selesai, anak balitanya digendong. Kain panjang penggendong Eva menjadi saksi kerasnya usaha Ayu. Yang dilakukanpun tetap sederhana dan tidak berubah: menjual kartu pos yang terkadang dipadukan dengan canang. Kartu pos diambil dari penyalur lokal, yang rumahnya tidak jauh dari rumah Ayu di Desa Menak Angin. Soal canang, aku lupa menanyakan darimana Ayu dan teman-temannya mendapatkan bunga untuk keperluan upacara itu.

Sementara itu, apa yang dilakukan sang suami? Tanpa segan, Ayu menceritakan rutinitas suaminya. Sehari-hari sang suami, yang tidak kuketahui namanya, bekerja mencari rumput untuk dua ekor sapi peliharaan. Sapi ini bukan murni dimiliki mereka. Suami Ayu dipercaya untuk mengasuh dua anak sapi milik seorang tetangga kaya. Jika sapi telah berusia 1,5 tahun, sapi tersebut dijual dengan harga sekitar Rp 5 juta per ekor. Dari hasil penjualan tersebut, Rp 2,5 juta dikembalikan ke pemilik dan sisanya dibagi dua lagi antara sang pemilik dengan yang memelihara sapi. Jika saja, anak sapi dipelihara sejak berusia kurang dari 1 bulan, maka rata-rata per bulan kurang dari Rp 80 ribu yang diperoleh suami Ayu dari seekor sapi.

Sang suami sendiri mencari rumput tiap hari untuk makanan sapi, dari jam 7 – 9 pagi dan 4 – 6 sore. Terkadang, jika kayu bakar di rumah habis, dia keluar rumah mencari kayu bakar. Selebihnya, sang suami duduk diam santai di rumah, ngobrol dengan teman, atau sesekali ikut sabung ayam.

Sementara itu, Ayu tiap hari bangun dari subuh untuk membersihkan rumah dan memasak. Kemudian jam 10 pagi dengan menggendong anak, dia berjualan kartu pos dan terkadang canang. Sore hari jika wisatawan telah pulang dan kartu pos sudah lumayan terjual, barulah dia kembali ke rumah. Kemudian, kesibukan di rumah kembali menanti: memasak, membersihkan rumah dan mengurus anak. Semua ini tanpa henti dilakukan Ayu.

Saat hamil anak kedua, rutinitas Ayu tidak berubah. Dia baru berhenti bekerja beberapa hari menjelang kelahiran sang anak. “Mana adiknya Eva?” tanyaku berfikir kalau Ayu meninggalkan sang bayi di rumah atau menitipkannya pada kerabat. “Sudah meninggal, Bu. Usianya hanya 10 hari. Gak tahu sakit apa,” jawab Ayu polos. Ayu tidak sempat berlama-lama merasakan duka derita kehilangan anak karena lagi-lagi dia harus kembali bekerja.

“Kamu tidak minta suamimu bekerja membantumu?” tanyaku kembali. “Ah, sudah malas, Bu. Orangnya mereng, susah. Daripada saya dipukul, lebih baik saya tidak memintanya ini itu,” jawab Ayu terdengar ringan, tanpa beban sedikitpun.

Tiba-tiba Eva terdengar merengek di gendongan ibunya. Ayu menepuk pantatnya perlahan. “Beli ya Bu, kartu posnya. Kalau Rp 5 ribu kembali modal. Tidak apa-apalah daripada tidak dapat uang sama sekali. Susu Eva habis, “ jelas Ayu, kali ini tanpa memaksa. Aku melirik jam. Sudah hampir pukul 4 sore. Matahari sudah mulai condong. Pura yang sedari tadi memang sepi, sudah makin bertambah sepi. “Lagi sepi pengunjung ya, “ tanyaku yang diiringi anggukan Ayu.

Swary Utami Dewi)

Ayu dan Eva: Berjualan Canang dan Kartu Pos (Foto: Swary Utami Dewi)

Aku mencolek sahabatku, Agung Ayu, membisikkan sesuatu. Sesaat kemudian dia berbicara kepada Ayu. Penjual kartu pos muda ini terlihat ceria, kemudian mengajak kami berjalan cepat. Melewati jalan samping keluar dari komplek Pura Besakih, pergilah kami menuju warung terdekat. Dua kotak kardus kecil susu untuk Eva digenggam Ayu. Sesaat kemudian, aku dan sahabatku naik ke mobil, beranjak pulang menuju Ubud. Ayu dan anaknya mengantar sambil terus melambaikan tangan, sampai mobil kami tidak kelihatan lagi.

Dalam banyak hal, hidup seringkali tidak adil bagi banyak orang, terutama perempuan dan anak. Tapi dari Ayu dan Eva, aku belajar kalau hidup tidak untuk ditangisi, melainkan untuk diperjuangkan.

1 Comment »

  1. bungasnya lah….

    Comment by Amin — October 17, 2008 @ 7:30 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: