Sudewi2000’s Weblog

October 3, 2008

PEREMPUAN PENGGELUT LA GALIGO (BAGIAN 2: SELESAI)

Sonny Sulaksono, dari www.sulaksono.blogspot.com

Cuplikan Pertunjukan La Galigo di Milan, Italia, Februari 2008 (Foto: Sonny Sulaksono, dari http://www.sulaksono.blogspot.com)

D.Chan, dari www.fotografer.net)

Cuplikan Pertunjukan La Galigo di Jakarta, Desember 2005 (foto: D.Chan, dari http://www.fotografer.net)

24 Juni 2007

Tulisan ini dimuat di Koran Mata Banua, Kalimantan Selatan, tanggal 14 Oktober 2008

Keprihatinan akan ancaman punahnya La Galigo dalam masyarakatlah yang mendorong Nurhayati memfokuskan diri pada upaya menghidupkan kembali, memperkuat dan melestarikan La Galigo dalam kehidupan masyarakat Bugis. Semua berawal sejak dia masih kecil. Sejak kecil, perempuan berdarah Bugis ini sudah terbiasa dengan cerita La Galigo. “Saya beruntung karena memiliki nenek penembang La Galigo dan saya terbiasa mendengar ceritanya.” Tidak heran, kecintaannya terhadap naskah Bugis ini begitu mendarah daging. Sewaktu kuliah S1 di Universitas Hasanuddin, topik skripsinya tentang naskah tersebut. Begitu pula saat dia menjalani perkuliahan S2 di Universitas Pajajaran dan S3 di Universitas Indonesia .

Pertunjukan La Galigo di Melbourne International Arts Festival 2006 (Foto dari www.wordtravels.com)

Pertunjukan La Galigo di Melbourne International Arts Festival 2006 (Foto: dari http://www.wordtravels.com)

Saat Nurhayati harus bergelut mempelajari tulisan Bugis kuno yang hampir punah di catatan kumpulan Arung Pancana, dari sang neneklah dia banyak belajar. Sekarang, tulisan kuno tersebut tidak jadi masalah bagi Nurhayati. Menulis, membaca dan memahami huruf Bugis kuno ini dilakukannya dengan mudah, semudah dia menulis, melafal abjad serta memahami kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Penguasaannya terhadap huruf dan bahasa Bugis kuno lagi-lagi terbukti saat dia membantu proses penterjemahan naskah La Galigo ke Bahasa Indonesia bersama dua pakar lain. Sampai sekarang telah ada dua jilid naskah kuno Bugis tersebut yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam Bahasa Indonesia.

Sonny Sulaksono, dari www.sulaksono.blogspot.com)

Bagian Lain dari Pertunjukan di Milan, Italia, Februari 2008 (Foto: Sonny Sulaksono, dari http://www.sulaksono.blogspot.com)

Lebih jauh, upaya perempuan berjilbab ini untuk menumbuhkan kembali kecintaan msyarakat Bugis dengan La Galigo dilakukan dengan melakukan serangkaian kegiatan revitalisasi adat. Tidak mudah langkah yang harus ditempuh. Saat menyadari La Galigo sedang matisuri, Nurhayati mulai menyusun strategi untuk membangunkan kembali arti penting dan peran naskah tersebut dalam masyarakat. “Tahun 1997-1998 saya bertemu beberapa pihak, menjelaskan ini itu, melobi, minta mereka memberikan perhatian,” kenangnya getir. “Hasilnya, mereka hanya mendengarkan, tapi tidak melakukan tindakan apapun. Aduh, seperti pengemis rasanya,” imbuhnya.

Tahun 1999, Nurhayati mendapat kesempatan bertemu dengan seorang pejabat tinggi di bawah pemerintahan Habibie. Habibie, yang waktu itu menjadi presiden, telah mendengar di Bugis sudah lama ada sastra yang paling panjang di dunia. Sesudah mendengar penjelasan Nurhayati, disetujui ada satu tim yang akan mendorong upaya menghidupkan kembali La Galigo. Tim tersebut rencananya akan dipimpin oleh seorang pejabat tinggi nasional yang berasal dari Sulawesi Selatan. “Tapi sayang, belum sempat terlaksana, presidennya sudah berganti,” jelas perempuan yang juga menggemari sastra Melayu ini.

Akhirnya, sesudah berjuang beberapa tahun, titik awal Nurhayati membangunkan kembali La Galigo mulai terpancang. Walau tertatih-tatih, bahkan hampir mengalami kegagalan, Seminar Internasional Pertama La Galigo berhasil digelar pada 2002 di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Seminar ini memiliki banyak keunikan. Pertama, baru kali ini, menurut Nurhayati, ada seminar internasional yang begitu penting digelar di kabupaten yang jauh dari pusat kota , di tempat asal kebudayaan tersebut berkembang. “Saya banyak dikritik teman-teman karena dianggap terlalu berani menyelenggarakan suatu seminar penting di desa. Tapi saya jalan terus,” ujarnya tegas. Kedua, yang dibahas adalah naskah yang luar biasa, yang dianggap terpanjang di dunia dan memuat banyak kearifan selain mitologis Bugis.

Yang tidak kalah menariknya, Seminar Internasional La Galigo melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah setempat. “Seluruh masyarakat Desa Pancana, Kabupaten Barru, dikerahkan untuk membersihkan desa. Rumah-rumah penduduk yang layak disiapkan sebagai tempat akomodasi para pembicara dan peserta yang datang dari dalam dan luar negeri. Masyarakat dan pemerintah setempat sangat mendukung,” papar Nurhayati bersemangat.

Adegan lain dari Pertunjukan di TMII, Jakarta, Desember 2005 (foto D.Chan, dari www.fotografer.net)

Adegan lain dari Pertunjukan di TMII, Jakarta, Desember 2005 (foto: D.Chan, dari http://www.fotografer.net)

Seminar La Galigo dipandang sukses oleh banyak pihak. Beritanya muncul di berbagai koran besar tanah air. Para pihakpun mulai melirik memberikan perhatian untuk isu kebangkitan kembali peran La Galigo. Suatu lembaga dana internasional memberikan dukungan kepada Nurhayati untuk melakukan upaya revitalisasi kebudayaan Indonesia . La Galigo ditetapkan sebagai proyek percontohan.

Apa yang mendasari revitalisasi La Galigo? Nurhayati menjelaskan kalau para penjaga La Galigo sekarang, seperti para penembang dan tokoh adat, sudah tua dan uzur. Sementara kaum muda sangat sedikit yang menguasai dan memahami naskah ini dengan baik. Karenanya, harus segera ada pemindahan pengetahuan dan keahlian ke generasi muda.

Untuk melakukan revitalisasi kebudayaan, termasuk La Galigo, ada empat hal yang harus dimiliki. Pertama, ada kaum tua yang mengerti dan bersedia menurunkan ilmunya ke kaum muda. Kedua, ada kaum muda yang mau dan bersedia belajar. Kemudian, harus ada tradisi yang masih dijalankan. Terakhir, ada masyarakat yang mau memanfaatkan. “Empat hal ini kita yakini masih ada di masyarakat Bugis. Apalagi semenjak seminar internasional digelar, masyarakat sekarang sedang demam La Galigo, “ ujar Nurhayati.

Mulailah sejak 2003 Nurhayati bergerak memimpin upaya revitalisasi La Galigo di Sulawesi Selatan, di 11 kabupaten. Kaum tua yang dipandang ahli dan tahu La Galigo diajak berbagi pengetahuan dan ketrampilan di kampus. Yang muda seperti mahasiswa melakukan magang di tempat-tempat tradisi La Galigo masih dijalankan. Mereka sebelumnya sudah mendapat ilmu dari para ahli sepuh yang sudah membagi kepakarannya di kampus. Para mahasiswa ini kemudian diajak turun ke desa-desa mengajarkan apa yang sudah diperolehnya ke anak-anak.

Selain mahasiswa, para guru kesenian di berbagai sekolah juga diajak belajar menimba pengetahuan dan ketrampilan tentang La Galigo dari kaum tua. Kurikulum kesenian dan muatan lokal dibenahi. Para guru kesenian mengajarkan apa yang ditimbanya dari kaum tua ke murid-murid sebagai salah satu ekstra kurikuler sekolah. Huruf lontarpun mulai diajarkan sebagai mata pelajaran muatan lokal.

Ke publik yang lebih luas juga dilakukan berbagai upaya revitalisasi. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah penyebarluasan isu dan pengenalan kembali La Galigo melalui radio komunitas, penulisan di berbagai majalah dan pemuatan di website.

Tapak-tapak menghidupkan kembali La Galigo nampaknya mulai menunjukkan jejak nyata. Selain demam naskah ini sudah mulai kelihatan di masyarakat Bugis, publik nasional dan internasional-pun mulai memberikan perhatian. Pentas kesenian La Galigo yang ditangani seorang sutradara asing sudah dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta , dan meraup penonton lumayan banyak. Seorang pendeta bissu, bernama Puang Matoa Saidi terlibat aktif dalam pementasan tersebut. Pentas La Galigo juga digelar di berbagai tempat di luar negeri.

D.Chan, dari www.fotografer.net)

Pendeta sebagai Penutur Cerita, Jakarta, Desember 2005 (Foto: D.Chan, dari http://www.fotografer.net)

La Galigo sudah mulai bangkit dari mati surinya. Meski demikian, upaya memperkokoh perannya dalam masyarakat belum selesai. “Masih banyak yang harus terus menerus dilakukan dalam upaya revitalisasi,” ujarnya mantap. Misalnya, harus lebih banyak lagi kaum muda yang betul-betul tahu, paham dan menyebarluaskan La Galigo ke masyarakat. Sampai La Galigo betul-betul mengukuhkan perannya kembali dalam kehidupan masyarakat Bugis, barulah mungkin perempuan tangguh ini bisa tertawa lebar. Maju terus Nurhayati!

1 Comment »

  1. hai Swary,
    saya baca tulisan ini di website di bawah.

    http://www.matabanua.com/kolom/opini/98-opini/1646-perempuan-penggelut-la-galigo-bagian-2-habis.html

    Sangat menarik dan menambah wawasan.

    Comment by dewibo — October 14, 2008 @ 1:30 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: