Sudewi2000’s Weblog

October 3, 2008

PEREMPUAN PENGGELUT LA GALIGO (BAGIAN 1)

24 Juni 2007

Nurhayati)

La Galigo: Lebih Panjang dari Mahabharata (Foto: Nurhayati)

Tulisan ini dimuat di Koran Mata Banua, Kalimantan Selatan, tanggal 13 Oktober 2008

Saya diuntungkan La Galigo,” demikian lontaran Dr. Nurhayati, ketua Divisi Sosial Budaya, Ekonomi dan Humaniora di Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin. Menjadi doktor di bidang Filologi dengan mengkaji La Galigo serta menjadi narasumber di pelbagai seminar yang membahas naskah ini, membuat perempuan mungil berputri satu ini merasa menjadi raja di dunia kecil. Tepatlah kiranya karena hanya sedikit mereka yang mau menumpahkan perhatian dan tindakan pada La Galigo. “Terlebih karena saya satu-satunya perempuan dari sedikit ahli La Galigo yang bergelar doktor,” imbuhnya.

Apa sebenarnya La Galigo yang membuat Nurhayati begitu tertarik sehingga menjadikannya subyek penelitian dari S1 sampai S3? Jika kita tanyakan apa itu Mahabharata, dipastikan akan banyak yang tahu atau setidak-tidaknya pernah mendengar. Tapi, tanyakanlah La Galigo. Bisa dipastikan kebanyakan menggeleng atau malah balik menanyakan: apa itu? La Galigo merupakan naskah kuno yang berasal dari wilayah Bugis, Sulawesi Selatan. Meskipun asli Bugis, tapi waktu telah menggerus dan mencerabut kelekatan masyarakat dengan karya ini. Padahal ia memuat aspek mitologis dan nilai-nilai penting dalam kehidupan masyarakat Bugis yang bermanfaat untuk pemahaman diri dan masyarakat di masa lampau dan bermanfaat sebagai acuan hidup masa depan. Panggilan untuk membangunkan kembali La Galigo dalam masyarakat yang membuat Nur tetap konsisten menekuninya.

Nurhayati)

La Galigo: Pernah Jadi Panutan Hidup Masyarakat Bugis (Foto: Nurhayati)

Oleh para ahli, La Galigo dianggap unik bukan hanya dalam khasanah sastra Nusantara, tapi juga dunia. Beberapa bahkan meyakini naskah ini sebagai naskah terpanjang di dunia. Epos Mahabharata yang begitu terkenal memiliki jumlah baris antara 160 sampai 200 ribu. Sementara La Galigo, seperti tertulis dalam pendahuluan buku I La Galigo Jilid I terbitan Djambatan, memiliki sekitar 300 ribu baris atau 6 ribu halaman. Jadi setidak-tidaknya 1,5 kali lebih panjang dari Mahabharata. Bahkan dalam obrolannya, Nur mengatakan karya sastra Bugis ini terdiri dari 360 ribu baris atau 7 ribu halaman. Itupun, menurut para ahli, hanya sepertiga dari total keseluruhan naskah La Galigo yang berhasil disusun dan ditulis kembali oleh Arung Pancana pada abad pertengahan abad 19.

Batara Guru Turun ke Bumi, Jakarta, Desember 2005 (Foto D.Chan, dari www.fotografer.net_

Batara Guru Turun ke Bumi, Jakarta, Desember 2005 (Foto: D.Chan, dari http://www.fotografer.net)

Secara garis besar, La Galigo menceritakan riwayat manusia pertama di bumi (mula tau) dan keturunannya dengan menggunakan bahasa yang indah, yang berbeda dari bahasa Bugis sehari-hari. Dikisahkan, pada suatu kala, semesta ini terbagi dalam tiga dunia: dunia atas, tengah dan bawah. Dunia tengah, yang menjadi tempat kediaman manusia sekarang ini, digambarkan dalam keadaan kosong, tanpa penghuni. “Sang Penentu Nasib”, Patotoqe, yang tinggal dan menguasai dunia atas, kemudian berembuk dengan keluarga. Akhirnya dia memutuskan mengirim putra sulungnya, Batara Guru atau La Togeq Langiq, untuk datang ke dunia tengah dan menjadi manusia pertama.

Batara Guru kemudian direncanakan menikah dengan We Nyiliq Timoq untuk dijadikan permaisuri di dunia tengah. Perempuan yang masih sepupu Batara Guru ini merupakan putri sulung raja dan ratu dunia bawah (Peretiwi). Suami istri penguasa dunia bawah tersebut masih kerabat dekat Patotoqe dan istrinya.

Batara Guru dan Istrinya, TMII, Jakarta, Desember 2005 (Foto D.Chan, dari www.fotografer.net)

Batara Guru dan Istrinya, TMII, Jakarta, Desember 2005 (Foto: D.Chan, dari http://www.fotografer.net)

Sebelum menikah, Batara Guru ditugaskan sang ayah untuk turun ke bumi. Dia diperintahkan untuk menciptakan gunung, hutan, laut, berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Lima bulan sesudah Batara Guru berada di dunia tengah, We Nyiliq Timoq dikirim menyusul calon suaminya. Putri sulung penguasa laut ini muncul dari celah gelombang, ujung busa laut. Sang penguasa dunia tengah harus berenang untuk menghampiri calon pengantinnya. Tidak semudah itu bagi Batara Guru untuk bisa duduk menyandingkan diri dengan We Nyiliq Timoq. Dengan mengucapkan mantera-mantera sakti, dia berhasil duduk di sebelah perempuan yang masih sepupu dekatnya ini, di kursi usungan. Kemudian, selama 9 hari 9 malam mereka berdua terus adu kesaktian. Akhirnya, keduanyapun menikah. Bertahun-tahun kemudian, barulah mereka dikaruniai putra bernama Batara Lattuq.

D. Chan, dari www.fotografer.net)

Cinta Terlarang Sawerigading, TMII, Jakarta, Desember 2005 (Foto: D. Chan, dari http://www.fotografer.net)

Tibalah waktunya saat Batara Lattuq harus dicarikan pasangan. Dia menikah dengan We Datu Sengngeng, perempuan berdarah campuran dunia atas dan bawah. Dari pernikahan ini lahirlah sepasang anak kembar lelaki dan perempuan. Yang lelaki bernama Sawerigading dan perempuan We Tenriabeng. Kelak Sawerigading menikah dengan We Cudaiq dan memiliki anak bernama La Galigo. Nama La Galigo-lah yang nampaknya dipilih sebagai nama naskah Bugis kuno tersebut.

Huruf Lontara Menjadi Latar Panggung Pertunjukan (Foto dari www.flickr.com)

Huruf Lontaraq Menjadi Latar Panggung Pertunjukan (Foto: dari http://www.flickr.com)

Tidak diketahui dengan pasti kapan dibuat dan siapa yang menciptakan La Galigo. Bagian pertama dari naskah ini disalin di kertas dengan memakai huruf lontaraq (huruf asli Bugis) sesudah 1852 oleh Arung Pancana, anak perempuan Raja Tanette. Kemudian, bagian ini diterbitkan oleh B.F. Matthes, peneliti Belanda, dengan aksara Bugis pada 1872 di dalam bukunya Boeginesche Chrestomathie Jilid II. Sebelumnya, saat tradisi tulisan dikenal masyarakat Bugis namun kertas belum ada, La Galigo ditorehkan di atas daun lontar, berupa outline cerita, tidak detil bait per bait. Bisa dimengerti karena cerita panjang lebar tidak mungkin ditulis secara rinci di atas lontar.

Lebih jauh lagi, dalam tradisi lisan masyarakat Bugis yang sudah lebih dulu ada dan lama sebelum mereka mengenal tulisan, La Galigo sudah dikenal dan membudaya. Di berbagai ragam upacara, umumnya dahulu ada seorang penembang yang menyanyikan nukilan atau episode naskah di hadapan para hadirin yang berkumpul. Sebut saja misalnya dalam upacara perkawinan, tanam padi dan kelahiran anak. Semua ini menyiratkan betapa Sureq Galigo sudah lama ada dan dipergunakan dalam tradisi masyarakat Bugis.

Nurhayati menceritakan kalau dulu La Galigo dijadikan layaknya kitab suci Bugis. “Waktu Islam belum masuk masyarakat masih menganut To Riolo (agama orang dulu atau agama leluhur), kitab La Galigo diperlakukan dengan sangat hormat. Banyak orang menyimpannya dalam kain putih. Tidak boleh menyimpannya di dekat kaki,” ulas dosen sastra ini. Dalam masyarakat Bugis zaman dulu juga ada tiga pilar yang berfungsi menjaga keutuhan tradisi La Galigo, yaitu bissu (pendeta banci), perangkat adat dan raja beserta keluarganya.

Di beberapa tempat lain di luar Sulawesi Selatan, La Galigo juga dikenal dengan berbagai versi. Situs khusus La Galigo di Wikipedia Indonesia memuat beberapa penjelasan singkat tentang naskah tersebut di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Riau dan Malaysia . Diperkirakan, perpindahan orang-orang Bugis ke tempat-tempat tersebut sekaligus juga membawa arus La Galigo ke situ.

Menurut Nurhayati, La Galigo banyak memuat tuntunan penting bagi kehidupan masyarakat Bugis. Tentang siri atau harga diri misalnya, diajarkan tidak mudah bagi orang Bugis untuk mengeluarkan keris dari sarungnya. Jika ada suatu masalah yang dihadapi, sebelumnya beberapa kali dengan berbagai cara diupayakan untuk menyelesaikannya. “Jika sudah tidak ada lagi jalan keluar, baru keris ditarik keluar dari sarung. Sekali keris dihunus, tidak boleh disarungkan sebelum keris tersebut dipergunakan untuk menikam,” paparnya bersemangat. Makanya, Nurhayati melanjutkan, seringkali jika tidak ditikamkan ke seseorang, keris ditusuk-tusukkan ke batang pisang. “Seringkali yang terjadi sekarang, belum apa-apa, jika ada suatu masalah, langsung keris dihunus. Itu tidak tepat, “ tambahnya lagi.

Contoh penting lainnya adalah isu jender dalam masyarakat Bugis. Dalam La Galigo digambarkan perempuan memiliki posisi dan peran penting. Sewaktu Patotoqe hendak menetapkan siapa manusia pertama yang akan diturunkan ke bumi, sebelumnya dia mengajak istri dan saudara perempuannya berunding. Sesudah mendapat masukan, baru kemudian dia memutuskan Batara Guru-lah yang harus turun ke bumi. Masih banyak lagi nilai-nilai penting dalam La Galigo yang sudah lama menjadi tuntunan hidup masyarakat Bugis seperti ajaran pendelegasian tugas dan wewenang, serta kriteria dan tata cara memilih pemimpin yang baik.

Namun sayang, sejalan dengan perkembangan zaman, pergelutan masyarakat dengan La Galigo memudar, bahkan cenderung menghilang. Nurhayati berpendapat sejak masuknya Islam di Sulawesi Selatan, La Galigo mulai ditinggalkan. Berbagai adat, tata cara, hukum dan kearifan yang dimuat naskah tersebut sudah banyak dilepas. Perempuan bertubuh mungil ini mengatakan ada anggapan bahwa mempercayai atau menjalankan sesuatu di luar dari tuntunan Islam adalah musyrik. Anggapan ini sangat berperan dalam menyurutkan peran La Galigo dalam kehidupan masyarakat Bugis.

Potret Kumpulan Naskah La Galigo (Foto dari portal.unesco.org)

Potret Kumpulan Naskah La Galigo (Foto: dari portal.unesco.org)

Lambat laun, La Galigo hanya terdengar sayup-sayup sampai. Tradisi menyanyikan episode naskah di berbagai upacara misalnya, sudah tidak banyak lagi ditemui. “Penembang hanya tinggal beberapa gelintir, bisa dihitung jari dan ditemui hanya di 6 kabupaten di Sulawesi Selatan,” imbuh perempuan yang mengambil S1 di Universitas Hasanuddin ini. Di setiap kabupaten-pun hanya episode-episode tertentu saja yang disukai dan masih dipakai. “Beda wilayah, beda yang digemari,” jelas Nurhayati. Tidaklah mengherankan jika sampai awal 2000-an, jika ditanya apa itu La Galigo, akan lebih banyak orang yang menggeleng daripada mengangguk tahu.

(Bersambung)

3 Comments »

  1. saya widdiyanti, mahasiswi S2 fakultas hukum universitas Indonesia. tesis saya tentang I La Galigo. boleh minta kontak DR. Nurhayati Rahman ga?

    makasih

    Comment by widdiyanti dwi maynarni — November 27, 2008 @ 7:27 am

    • Hai Widdi,

      Maaf baru balas. Untuk Mbak Nurhayati, coba kontak di rumahnya di Makassar 0411-585920

      Salam,
      Tami

      Comment by sudewi2000 — February 21, 2009 @ 3:50 am

  2. wah hebat, ya….

    saya sangat tertarik dengan gambar huruf lontara’ yang menjadi latar panggung.. ternyata lontara’ adalah huruf asli bugis ya….

    hebat, tapi penciptanya adalah orang Makassar, daeng Pamatte’
    hebat skali……
    tulisan yang bagus!!!!

    Comment by Amirullah Daeng Sibali — September 2, 2011 @ 7:05 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: