Sudewi2000’s Weblog

October 2, 2008

MANGGARAI: NAGA DARI FLORES BARAT (2) – KECINTAAN PADA KOMODO

Filed under: Traveling — Tags: , , , , , , — sudewi2000 @ 2:15 pm

Ditulis pada 2 Oktober 2008 (Kado Buat Anakku Alif yang Menyenangi Kisah-Kisah Seru). Semua foto dalam tulisan ini oleh Swary Utami Dewi.

Lubang Tempat Komodo Meletakkan Telur-telurnya

Lubang Tempat Komodo Meletakkan Telur-telurnya

Tidak jauh berjalan, sang ranger menunjukkan beberapa lubang bekas komodo menyimpan telurnya. Karena penasaran, aku melongok mencoba melihat ke dalam lubang-lubang gelap itu. “Ya, telurnya sudah tidak ada. Bisa menetas atau dimakan mangsa, “ jelasnya sambil memasukkan ujung tongkat kayu ke salah satu lubang. “Dulunya ini bekas sarang burung, yang kemudian dijadikan tempat meletakkan telur-telur oleh para komodo” ujarnya.

Lelaki yang sangat murah senyum ini melanjutkan penjelasan. Komodo, katanya, biasanya kawin di bulan Mei sampai Agustus. Biasanya mereka bertelur di bulan September. Sekitar 20 – 30 telur dikuburkan di bekas sarang burung megapodes. Perlu waktu antara 7 -8 bahkan sampai 9 bulan untuk seekor telur menetas. Dari telur-telur yang diletakkan, tidak semua menetas.

Salah Satu Komodo Dewasa

Salah Satu Komodo Dewasa

Komodo kecil bisa disebut dewasa saat mereka berusia 4 atau 5 tahun. Saat kecil, mereka sangat lincah, sanggup berlari cepat. “Dari kecil mereka sudah ganas,” tutur sang ranger menunjuk seekor anak komodo yang tiba-tiba melintas tidak jauh dari kami. Untuk yang dewasa, panjang badan bisa mencapai 2 meter lebih dengan berat sampai 150 kg. Dengan bobot besar tersebut, semakin tua seekor komodo, semakin lambat dia bergerak.

Freddy yang masih nampak gelisah, mengajak kembali ke pos penjagaan. “Ngeri ah, kecil-kecil aja sudah ganas dan makan daging,” ujarnya disambut gelak tawa kami. Sepanjang jalan menuju pos, sang polhut yang telah mengabdikan hidupnya selama belasan tahun di kawasan ini melanjutkan cerita. “Dulu, komodo yang ada di sini diberi makan daging segar yang disediakan petugas. Tapi ada masukan lebih baik mereka berburu di alam liar demi menjaga sifat asli komodo.

Jadilah sekarang komodo yang ada di Taman Nasional ini mengandalkan insting alami mereka untuk berburu binatang liar yang ada di Rinca ini. Ada kerbau liar, yang menjadi kesukaan komodo, bisa juga rusa-rusa liar atau kambing. Beruntunglah pulau Rinca ini, seperti yang kami lihat dari depan pelabuhan, tidak hanya dihuni manusia dan komodo, tapi juga beberapa jenis binatang lain seperti burung, monyet, kerbau, rusa dan kambing. Keberadaan mereka menjadi penjamin keberlanjutan hidup satwa buas purba yang bisa hidup sampai usia 50 tahun itu.

Tempat Komodo Mencari Mangsa

Salah Satu Sudut Rinca: Tempat Komodo Mencari Mangsa

Sampai di pos penjagaan, aku tidak lantas naik ke pondok. Melihat masih ada beberapa komodo duduk diam manis di bawah pohon di sekitar pos, aku dan Lien memberanikan diri berpose dekat seekor komodo. “Hei awas, bisa diterkam, “ jerit Freddy khawatir. Dia nampak geregetan melihat santainya aku dan Lien.

Sesudah kami berfoto, seekor komodo dengan panjang sekitar 2 meter yang tadinya ada di bawah pondok, nampak merangkak keluar. Tiba-tiba terdengar dengusan ganas komodo lain yang tidak kalah besar bobot tubuhnya. Sedetik kemudian, dua komodo tersebut saling mengeluarkan bunyi dengusan aneh dan saling berhadapan sambil menegakkan kepala. Keduanya nampak siap bertempur.

Tegak Waspada

Tegak Waspada

Mendengar dengus marah para komodo, beberapa ranger yang ada di pondok, bergegas turun ke bawah untuk melihat keadaan. Syukurlah, sesaat kemudian, kedua komodo tersebut kembali pada posisi semula, tidak jadi bertarung. Aku dan Lien yang ternganga sejak tadi, lantas ditarik Freddy untuk segera naik ke atas pondok. “Ayo, jangan membantah sekarang,” perintahnya tegas. Memang lebih baik mengamankan diri di pos dekat para ranger dibandingkan berada di sekitar para naga purba ini yang tidak bisa diprediksi sifatnya.

Uncle Louis kemudian bergabung. Dia memerintahkan seorang perempuan yang ada di dapur untuk membuatkan kopi. Cerita tentang komodopun dilanjutkan oleh si ranger senior yang merupakan orang NTT asli ini. “Komodo tidak bisa dijinakkan,” jelasnya. “Karena binatang buas, jangan salah sangka melihat mereka duduk diam berjemur dan tidak bergerak, kemudian menyangka mereka tidak berbahaya. Mereka bisa menyerang tiba-tiba,” lanjut Pak Allo.

Komodo dewasa dengan bobot ratusan kg, memang terlihat lamban. Tapi jangan salah, dengan cepat dia bisa menyergap mangsa. Selain pemakan bangkai, komodo juga berburu mangsa. Biasanya yang diserang bagian leher atau tenggorokan. Saat ia menggigit, saat itulah tubuh mangsa terkena bakteri yang ada di liurnya. Karena beracunnya bakteri tersebut, dalam hitungan menit sang mangsa sudah lulai tak berdaya. Kemudian, giliran cakar tajam komodo beraksi. Kuku-kuku binatang berkulit tebal dan kasar ini mampu menghujam cukup dalam ke tubuh mangsa dan kemudian mencabiknya.

Cakar yang Siap Mencabik

Cakar yang Siap Mencabik

Satu hal lagi yang menjadi keistimewaan komodo adalah penciumannya yang luar biasa tajam. Ia bisa mencium adanya bangkai binatang karena bau darah yang menempel dalam radius 10 km. Jika angin bertiup searah, radius jangkauannya bisa lebih dari 10 km. “Jangan heran kalau ada larangan untuk tidak mengunjungi komodo bagi perempuan yang sedang datang bulan, “timpal seorang ranger yang ikut duduk bersama kami.

Sambil mereguk nikmatnya kopi yang disuguhkan, kali ini giliran Pak Sahibul bertutur tentang legenda setempat yang mempengaruhi perlakuan penduduk terhadap komodo. Penduduk Pulau Komodo dan Rinca percaya bahwa komodo adalah jelmaan seorang putri. Putri ini dilahirkan kembar. Kembarannya manusia biasa, berjenis kelamin laki-laki. Karena dari lahir berbentuk tidak normal seperti kadal, putri ini dikucilkan dan dibuang ke hutan. Saat dewasa, dia tidak sengaja bertemu dengan saudara kembarnya dan keduanya hampir saling bunuh. Beruntung muncul arwah sang Ibu, yang mengingatkan bahwa keduanya bersaudara. Merekapun urung melanjutkan pertarungan. “Jadi sampai sekarang, ada kepercayaan penduduk untuk menjaga, hidup damai berdampingan dengan para komodo, “ pungkas Pak Sahibul.

Hidup Berdampingan dengan Komodo

Nelayan Pulau Rinca dan Sekitarnya: Hidup Berdampingan dengan Komodo

Legenda inilah yang nampaknya sampai sekarang sangat membantu upaya pelestarian komodo. Tidaklah mengherankan, selain di Pulau Komodo, di Rinca ini ditemui perkampungan penduduk. Namanya Rinca dan Korora. Layaknya penduduk kepulauan, umumnya mereka menjadi nelayan, mencari ikan dan berbagai hasil laut ke perairan sekitar. Tidak jarang mereka menjumpai komodo yang sedang berenang melintas ke pulau-pulau terdekat. Keberadaan penduduk yang sudah bergenerasi tinggal di Taman Nasional Komodo, diakui oleh ranger yang menemani kami, berjasa dalam menjaga keberlangsungan hidup komodo. “Mereka tidak membunuh komodo, karena keyakinan mereka melarang. Kalau mencari ikanpun, perahunya dikemudikan hati-hati supaya tidak menabrak komodo yang sedang berenang di laut, “ jelasnya bangga.

Matahari semakin terik. Lewat tengah hari, kamipun memutuskan pulang kembali ke Labuan Bajo. Sang ranger senior menawarkan diri mengantar kami sampai ke kapal. Saat kapal bergerak meninggalkan Loh Buaya, dia masih melambaikan tangan. Aku terdiam, masih setengah terpukau, lalu duduk di samping Lien yang mulai terlihat mengantuk.

Ucapan Selamat Jalan dari Sang Ranger Senior

Ucapan Selamat Jalan dari Sang Ranger Senior

Pengalamanku kali ini memang memukau. Aku menjadi sedikit paham tentang naga purba yang menjadi kebanggaan Indonesia ini. Aku juga menjadi tahu tentang kearifan penduduk lokal yang mampu hidup berdampingan dengan para kadal raksasa perkasa itu. Akupun dibuat kagum dengan kesetiaan para ranger dengan tugasnya. Banyak ternyata yang kupelajari hari ini dengan mengunjungi Pulau Rinca dan bersua dengan si mahluk purba sejati.

SELESAI

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: