Sudewi2000’s Weblog

October 2, 2008

MANGGARAI: NAGA DARI FLORES BARAT (1) – MULAI MENGENALI KOMODO

Filed under: Traveling — Tags: , , , , , , — sudewi2000 @ 1:07 pm

Ditulis pada 2 Oktober 2008 (Kado Buat Anakku Alif yang Menyenangi Kisah-Kisah Seru). Semua foto dalam tulisan ini oleh Swary Utami Dewi.

Seekor Komodo Dewasa

Seekor Komodo Dewasa

Sewaktu kecil, salah satu kisah paling memukau tentang binatang yang membuatku ternganga adalah komodo, the Dragon. Binatang purba ini terkenal begitu mematikan. Bukan karena cakar atau sebatan ekornya yang memang berbahaya, tapi utamanya karena bakteri beracun yang ada di liur, yang masuk ke tubuh mangsa saat seekor komodo menggigit mangsa tersebut. April 2007 lalu, akhirnya aku berkesempatan bersua dengan binatang dahsyat ini, yang konon katanya sudah menghuni bumi sejak 300 juta tahun lalu.

Perjalanan dimulai saat aku bersama dua teman, sepasang suami istri: Freddy dan Lien, dengan ditemani Pak Sahibul, berangkat pagi naik angkot ke pelabuhan Labuan Bajo. Pak Sahibul adalah teman baru yang kukenal sewaktu dia menjajakan berbagai pernik mutiara di Chez Felix, losmen tempatku menginap di Labuan Bajo.

Lien, Freddy, Pak Sahibul

Duduk dari Kiri ke Kanan: Lien, Freddy, Pak Sahibul

Di pelabuhan sudah menanti dua awak kapal. Kapal yang kami tumpangi berukuran kecil, beratap dan berdek kayu serta bercat dominan putih. Sewanya kurang dari 400 ribu. Sesaat kemudian, berangkatlah kami menuju Rinca, salah satu dari 3 pulau tempat bernaung naga purba ini. Rinca sendiri terletak di sebelah barat Pulau Flores. Sekarang ini, Rinca masuk dalam Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Sebagai informasi, karena keunikannya, Rinca bersama-sama dengan dua pulau lainnya: Komodo dan Padar, ditetapkan sebagai Taman Nasional di tahun 1980. Pengelolaannya langsung di bawah pemerintah pusat, dalam hal ini Departement Kehutanan. Tahun 1996, Taman Nasional seluas kurang dari 2000 km persegi ini dinyatakan sebagai “A World Heritage Site” oleh UNESCO.

Pulau Bebukitan di Sepanjang Perjalanan

Pulau Bebukitan di Sepanjang Perjalanan

Sepanjang jalan dari Flores menuju Rinca, kami melewati Selat Mola. Keindahan alam terpancar dari banyaknya pulau-pulau kecil yang ditemui, beberapa bukit hijau yang ada di beberapa pulau, disertai hamparan air laut biru yang saat itu beriak tenang.

Rumah-rumah penduduk bertiang tinggi sesekali terlihat. Beberapa kapal nelayan dan kapal pengangkut turis juga lalu lalang di selat itu. Sesekali aku mengambil gambar keindahan di sepanjang Selat Mola. Flores memang menakjubkan, ujarku kepada Lien.

Lautan Biru Bening di Selat Mola

Lautan Biru Bening di Selat Mola

Angin berhembus sejuk menghilangkan terik matahari yang sudah mulai terasa. Tidak terasa sudah hampir 2 jam kapal mengarungi Selat Mola. “Sebentar lagi sampai. Itu pelabuhannya”, seru awal kapal menuju ke arah pos berbentuk rumah kecil dari kayu yang bertengger di atas pelabuhan. Loh Buaya, demikian nama pelabuhan di Pulau Rinca ini disebut. Tidak banyak kapal yang merapat, hanya sekitar 3 kapal yang tiba mendahului kami.

Seseorang yang sedang bersantai saat kami menjejak pelabuhan, bergegas beranjak. “Ada komodo sedang berjemur di bawah pohon, “ ujarnya menunjuk ke bagian kanan ujung pelabuhan. “Tapi usahakan jangan berisik,” sambung Pak Sahibul yang disambut anggukan kami. Benarlah, tidak sampai di situ, terlihat beberapa komodo sedang diam seolah bersemedi. Mereka tidak bergerak sedikitpun di dekat akar pohon-pohon bakau. Salah satu di antaranya terlihat cukup besar dan panjang.

Sambutan Ramah Ala Komodo di Loh Buya

Sambutan Ramah Ala Komodo di Loh Buya

Puas menikmati sambutan “ramah” ala komodo, kami bergegas berjalan masuk ke wilayah Pulau Rinca. Pak Sahibul, yang merupakan penduduk asli Pulau Komodo, mengambil patahan kayu yang di ujungnya bercabang dua. Aku tidak paham untuk apa. Tapi yang jelas, aku merasa lebih aman dengan keberadaan Pak Sahibul yang kuyakin tahu banyak seluk beluk komodo. Lelaki kurus tegap berkulit legam itu berjalan di depan, diikuti aku, Lien dan Freddy.

Di sepanjang jalan, kami melalui tanah serupa tanah liat, kering dan sedikit pecah. Beberapa burung nampak terbang. Satu dua hinggap di pepohonan. Saat kuperhatikan, beberapa monyet juga nampak asyik bersantai di pohon. “Wah, banyak juga ternyata binatangnya ya,” kata Lien, yang mengaku baru sekali ini mendapat kesempatan melihat langsung komodo.

Kurang dari 15 menit berjalan, sampailah kami ke tempat pembelian karcis. Sesudahnya, pos penjagaan menjadi tujuan berikutnya, yang terletak beberapa ratus meter dari tempat karcis dibeli. Beberapa petugas polisi hutan (polhut), yang menyebut dirinya ranger, nampak ramah menyambut. Aku hampir terlompat

Beberapa Komodo Bersantai di Sekitar Pos Penjagaan

Beberapa Komodo Bersantai di Sekitar Pos Penjagaan

kaget saat menyadari di bagian bawah pondok ranger yang berdiri di atas tiang-tiang tinggi, ada beberapa komodo nangkring. “Di sebelah sana juga ada, Mbak,” ujar seorang ranger, yang kemudian menemani melihat beberapa komodo berukuran sedang. Mereka nampak asyik berjemur di tanah, tepat di samping pondok penjagaan ini.

Salah satu ranger memperkenalkan diri sebagai Uncle Louis. “Nama aslinya Allo Sahu,” ungkap ranger lainnya. Allo Sahu ternyata sudah cukup lama bergelut menjaga dan mengamankan komodo maupun para pengunjung yang datang ke Rinca ini. “Sudah sekitar 20 tahun, Mbak, “ jelasnya bangga. Aku jelas kagum membayangkan kesabaran dan keberaniannya “bersahabat” dengan para naga buas purba tersebut.

Seorang ranger yang sayangnya tidak kuingat namanya, mengambil kayu yang ujungnya bercabang dua. “Lho, kok bentuknya sama dengan kayu bercabang Pak Sahibul?” tanyaku penasaran. Dia menjelaskan tongkat kayu itu untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ada komodo yang tiba-tiba menyerang. Biasanya para komodo mundur teratur jika melihat tongkat bercabang yang di arahkan ke kepala mereka. “Kenapa demikian?” lanjutku bertanya. “Mungkin karena bentuknya mirip lidah komodo yang bercabang. Jadi dikira lidah musuh,” jelasnya tertawa sambil mengajak kami berjalan melihat sekitar.

Salah Seorang Ranger Dengan Tongkat Kayu Bercabang Dua

Salah Seorang Ranger Dengan Tongkat Kayu Bercabang Dua

Di sepanjang jalan, nampak lintasan untuk berjalan mencari komodo. “Gak mau jauh-jauh ya Pak. Di depan tadi sudah banyak komodo,” ujar Freddy yang terlihat paling khawatir di antara kami berempat. Sang ranger menjelaskan kalau yang kami lihat tadi hanya segelintir dari sekitar 1.200 komodo penghuni Pulau Rinca. Total populasi kadal raksasa yang bernama Latin Varanus Komodoensis tersebut di seluruh Taman Nasional Komodo berjumlah sekitar 2.500 ekor. Beberapa memperkirakan populasinya mencapai 2.700. “Karena tidak banyak, maka betul-betul kelestariannya harus dijaga,” tegasnya.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: