Sudewi2000’s Weblog

October 1, 2008

UPAYA MERAIH PASAR YANG LEBIH BAIK: KISAH PARA PETANI HASIL HUTAN BUKAN KAYU

Versi 23 Maret 2007

Tulisan ini menjadi salah satu artikel di buku Menjual Hutan Memanfaatkan Hasil Hutan Non-Kayu (Yayasan Setara, 2007), halaman 1-7.

Azharuddin TEROPONG)

Hamparan Rotan Katingan (Foto: Azharuddin TEROPONG)

“Waduh, Bu. Celaka. Rotan kami tenggelam di Sungai Katingan. Padahal ini pengalaman pertama menjual langsung rotan ke pasar di Jawa.” Berita tersebut disampaikan Muntifer, Sekjen Perkumpulan Petani Rotan Katingan, Kalimantan Tengah. Bagi petani rotan Katingan,jalan sungai merupakan cara yang lebih efektif, kalau bukan satu-satunya, dibanding jalur darat yang masih susah ditembus kendaraan.

Saat itu, pertengahan November 2005, merupakan waktu pengiriman perdana rotan perkumpulan petani tersebut ke Surabaya. Rotan sega kualitas tertinggi (A), yang seharusnya sudah dihantarkan ke pelabuhan utama di Jawa Timur itu, mengalami ketertundaan pengiriman 4 hari. Jumlah yang tercebur ke sungai lumayan banyak: 4,1 ton dari total hampir 9 ton yang dikirim dengan kapal kecil. Untunglah para petani Katingan ini tidak putus asa. Rotanpun kembali dijemur untuk kemudian dilayarkan lagi ke Surabaya.
Dampaknya tentu ada. Selain tertundanya pengiriman selama 4 hari, kualitas rotan juga menurun dari A ke B akibat rotan basah kena air dan warna berubah. Karena kualitas turun dan perlu tambahan biaya transportasi, keuntunganpun berkurang 20 persen dari perkiraan.

Kenapa harus mengambil jalur sungai dan tidak jalan darat? Jawabnya simpel. Bagi petani rotan Katingan,jalan sungai merupakan cara yang lebih efektif, kalau bukan satu-satunya, dibanding jalur darat yang masih susah ditembus kendaraan.

TEROPONG)

Mengangkut Rotan Lewat Sungai: Bertarung Melawan Arus (Foto: TEROPONG)

Pengalaman Muntifer dan kawan –kawan membuktikan urusan meraih pasar tidaklah mudah bagi banyak kelompok tani yang mulai belajar berbisnis profesional. Ada banyak kendala menghadang saat petani berupaya meraih pasar untuk mendapatkan harga yang lebih baik. Kendala transportasi seperti contoh di atas menjadi salah satu hambatan yang kerap ditemui.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang menjadikan urusan meraih pasar menjadi tantangan tersendiri. Beberapa hal yang sering ditemui di kalangan petani terkait kualitas produk yang kurang atau tidak terjaga, minimnya informasi pasar, kekuatan tengkulak dan perlakuan paska panen yang masih tradisional.

Seperti disinggung di atas, kualitas produk yang kurang baik atau tidak terjaga kerap menjadi batu sandungan. Pengalaman petani di Loksado, Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan membuktikan hal ini. Para petani yang mengusahakan kayu manis di tempat yang cukup terpencil ini pernah begitu gembira saat seorang teman membantu menyalurkan produk mereka ke Sulawesi. Dua kali penjualan sesuai dengan yang diinginkan pembeli. Tapi pada pengiriman ketiga, kontak dagang terhenti karena kayu manis yang dikirim tidak sesuai dengan kualitas yang disepakati.

Faktor lain yang juga menjadi kendala adalah minimnya informasi pasar. Penuturan Johan, pengumpul rotan tingkat kabupaten di Kutai Barat, Kalimantan Timur, mendukung hal ini. Seperti yang ditulis Dwi Anugerah dari Sistem Hutan Kerakyatan Kalimantan Timur, Johan bercerita bukan karena tidak mau maka ia tidak menjual rotan di luar Samarinda. “Bagaimana saya mau jual ke Jawa,” katanya. ”Saya tidak tahu siapa yang membeli dan di mana. Lagi pula tidak ada orang yang membantu mengawasi jika harus dijual ke Jawa.”

LPMA Kalsel)

Pentingnya Memahami Pasar (Foto: LPMA Kalsel)

Keluhan yang sama terlontar dari seorang petani tanaman obat di Jawa Tengah. ”Saya tidak tahu ke mana menjual hasil tanaman saya,” kata Rakim, petani di Jatipuro, Kabupaten Karanganyar. “Kalau ada yang membeli pasti kami menanamnya.” Hal ini dituturkannya kepada Gunawan dari Bolsa Nusantara, lembaga yang membantu petani meningkatkan kualitas produksi dan menyediakan informasi pasar.

Pengalaman serupa pernah dialami Sakun, petani karet di Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Sakun menceritakan hal ini kepada Dewi Novitasari dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat Kalimantan Selatan. Dia menceritakan bertahun-tahun tidak pernah tahu berapa sebenarnya harga karet yang disadapnya. Dia juga tidak tahu ke mana sebaiknya karet tersebut dijual.

Minimnya informasi pasar juga sering membuat petani tidak berdaya pada harga beli yang ditentukan tengkulak, pedagang pengumpul atau perantara (middle man). Ma’mun Ansori, dari Yayasan Teropong, Kalimantan Tengah, memberikan contoh jual beli tradisional suatu jenis tumbuhan obat, jejuluk langit.
Petani rotan di Katingan Hilir, disela-sela memanen rotan, kadang juga mengumpulkan jejuluk langit yang tumbuh di bawah tanaman rotan. Mereka menjualnya Rp 5.000/kg sesudah tanaman sejenis rumput ini dijemur dan dikeringkan selama dua hari. Padahal, sesudah tengkulak menempuh 4 atau 5 jam perjalanan dengan kapal motor ke Kasongan, ibukota Kabupaten Katingan, tanaman ini dijual kembali dengan harga Rp 15.000 – 20.000/kg. Tengkulak tersebut tidak melakukan perubahan apapun terhadap jejuluk langit yang dibelinya dari para petani. Kalaupun dihitung ongkos transport produk ini, harga yang diberikan ke petani seharusnya lebih tinggi.

Permainan tengkulak yang merugikan juga dialami oleh banyak petani hasil hutan bukan kayu di berbagai tempat di Indonesia. Misalnya, dialami oleh petani kemiri dan kayu manis di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, petani rotan di Jengan Danum, Kutai Barat, Kalimantan Timur dan petani tanaman obat di Karanganyar, Jawa Tengah.

LPMA Kalsel)

HHBK: Perlakuan Tradisional Tidaklah Cukup (Foto: LPMA Kalsel)

Kebiasaan-kebiasaan “tradisional” petani juga kerap menjadikan produk unggulan mereka tidak terjual dengan harga yang lebih baik. Para petani kemiri di Balai Malaris, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, misalnya, menjual kemiri gelondongan (belum dikupas) sekitar Rp 2.000/kg ke tengkulak atau pengumpul desa. Kemudian para pengumpul desa, sesudah mengupas kemiri, menjualnya ke pengumpul besar di ibukota kabupaten dengan harga antara Rp 7.000 – 8.000/kg. Jika saja petani menjual kemiri kupasan, tidak mustahil mereka bisa mendapatkan harga yang jauh lebih baik.

Beberapa contoh di atas menggambarkan kesulitan yang dialami para petani saat mereka berupaya meraih pasar untuk mendapatkan harga yang lebih baik bagi produknya. Masih ada kendala-kendala lain yang kerap ditemui seperti kurangnya ketrampilan teknis, kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada petani serta panjangnya rantai pasar.

Syukurlah, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak upaya yang dilakukan untuk menjadikan produk petani bisa menembus pasar dan mendapatkan harga yang lebih baik. Di berbagai tempat, kolaborasi antara para petani, lembaga swadaya masyarakat dan pihak-pihak lain yang terkait terjalin. Hal-hal yang penting untuk meraih pasarpun dipelajari dan kemudian diterapkan. Berikut beberapa hal yang dipandang perlu untuk meraih pasar yang lebih baik.

Berbagai kelemahan petani dalam menghadapi pasar didiskusikan bersama dan dipelajari antar para petani. Kegiatan ini biasanya mendapat dukungan atau pendampingan dari lembaga swadaya masyarakat serta berbagai pihak lain yang peduli.

TEROPONG)

Pentingnya Bersatu: Pertemuan Petani Rotan Katingan (Foto: TEROPONG)

Dari sekedar obrolan santai sampai serius menyadarkan banyak petani tentang perlunya berkelompok, mendirikan perkumpulan atau membentuk asosiasi lainnya untuk memperkuat diri. Memperkuat diri berarti memperbaiki ketrampilan, menambah pengetahuan, memperkuat posisi tawar baik di pasar maupun di tingkat kebijakan pasar dan melengkapi diri dengan hal-hal lain yang diperlukan.

Beberapa contoh petani yang membentuk kelompok atau perkumpulan untuk memperkuat diri adalah petani rotan di Kutai Barat dan Katingan, petani bakau di Kutai Timur dan petani karet di Hulu

Sungai Tengah.

Untuk kasus petani bakau di Kutai Timur, misalnya, pembentukan kelompok Pangkang Lestari yang berbasis di Dusun Teluk Lombok telah memperkuat posisi tawar mereka. Dari sekedar menjadi nelayan yang tergantung pada alam belaka, dalam beberapa tahun terakhir, karena berkelompok, mereka mampu bernegosiasi untuk kepentingan bisnisnya. Kelompok tani ini telah menjadi penyedia bibit bakau untuk berbagai proyek rehabilitasi bakau di Kalimantan Timur. Pangkang Lestari bahkan telah mempersiapkan diri menjadi kontraktor untuk proyek-proyek rehabilitasi bakau.

Contoh menarik lainnya terjadi saat kelompok petani rotan di Katingan, Kalimantan Tengah, dan Kutai Barat, Kalimantan Timur berkoalisi dengan berbagai pihak untuk menelurkan kebijakan eksport rotan yang lebih pro pada kepentingan petani. Menguatnya posisi tawar petani dalam hal kebijakan tidak akan terjadi jika petani tidak mendirikan kelompok atau berasosiasi.

Muntifer dari Perkumpulan Petani Rotan Katingan, misalnya, beberapa kali menegaskan timbulnya solidaritas antar petani yang terpupuk semenjak keberadaan asosiasi petani. Jika dulu keterpurukan harga rotan hanya menjadi bisik-bisik antar petani, dua kelompok petani rotan di Katingan dan Kutai Barat, telah membawa isu ini ke tingkat nasional. Singkatnya, dengan cara berkelompok dan berjaringan, suara petani rotan lebih didengar dan diperhatikan.

LPMA Kalsel)

Pentingnya Mencari Pasar Alternatif (Foto: LPMA Kalsel)

Pengetahuan dan informasi pasar merupakan hal kedua yang penting dimiliki petani. Ketika mengenal pasar rotan secara lebih baik misalnya, petani rotan di Kedang Pahu, Kutai Barat berani melakukan terobosan menjual langsung produknya ke Jawa. Mereka kini punya pilihan selain pasar yang tersedia di tingkat lokal dan mengurangi ketergantungan pada tengkulak. Tahu pasar rotan secara lebih baik misalnya menjadikan kelompok petani rotan di Katingan berani mencoba memproduksi rotan kualitas A untuk dikapalkan langsung ke Surabaya.

Nilai tambah juga hal lain yang tidak kalah penting dalam upaya menerobos pasar. Nilai tambah bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti pengolahan dari bahan mentah menjadi setengah jadi atau jadi, pengemasan dan variasi bentuk produk. Petani anggota koperasi Sumber Harapan di Kolaka, Sulawesi Tenggara misalnya, memilih memproduksi kakao fermentasi. Biasanya petani di sana secara tradisional hanya menjual kakao non-fermentasi. Namun seperti yang ditulis Muslimin dari LSM Swakarsa Mandiri, petani memilih kakao fermentasi karena pasarnya lebih terbuka luas dan harga lebih baik dibandingkan non-fermentasi.

Contoh menarik lainnya tentang nilai tambah datang dari petani gula aren di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Mula-mula satu gula aren berbentuk bulat seberat seperempat kg hanya dihargai Rp 1.500/buah. Saat pendampingan dilakukan oleh LSM Bikal, ada ide untuk memproduksi gula aren dengan bentuk yang lebih menarik, segi empat, dengan berat yang sama per buahnya. Harganya dijual Rp 2.000/buah. Ternyata pasar lokal sangat berminat dan gula aren selalu terjual habis. Kini harga gula aren tersebut mencapai Rp 2.500/buah.

LPMA Kalsel)

Mempertahankan Kualitas Adalah Penting (Foto: LPMA Kalsel)

Kualitas produk seperti yang diinginkan pasar juga menjadi unsur penting. Ini terlihat pada kasus kelapa kualitas super di pasar Kramat Jati, Jakarta, yang pasti akan dibeli dengan harga yang jauh lebih tinggi dari kelapa biasa. Begitu pula halnya dengan rotan dari sentra produksi di KalimantanTengah dan Timur. Yang berkualitas A lebih banyak dicari dan dibeli lebih tinggi dibandingkan kualitas lainnya oleh para pengrajin dan industri di Jawa.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah ketrampilan dan pengetahuan teknis. Para petani madu di Danau Sentarum, Kalimantan Barat misalnya, dengan belajar, menguasai dan menerapkan teknis panen madu dari Vietnam mendapatkan pengetahuan berlipat. Dulu dalam satu musim panen, madu hanya bisa dipanen sekali karena cara panen yang menghabiskan seluruh sarang lebah. Kini, dalam beberapa tahun terakhir, teknik baru yang menyisakan bagian tertentu sarang lebah, membuat mereka bisa panen dua bahkan tiga kali dalam satu musim panen.

Tentunya masih banyak lagi hal-hal penting yang diperlukan petani. Sebut saja dukungan kebijakan, fasilitas, infrastruktur dan permodalan serta ketrampilan mengelola organisasi.

Memang, kendala masih banyak ditemui, tapi paling tidak kasus-kasus di atas memberikan contoh beberapa hal penting yang bisa membantu petani untuk mendapatkan pengakuan di pasar yang kompetitif dan mendapatkan harga yang lebih baik. Semoga ini semua bisa menjadi cerminan yang inspiratif bagi kita semua.

4 Comments »

  1. MINTA TOLONG DI KIRIM DONG AD/ART P2RK KATINGAN KALTENG YA.TRIMS

    Comment by sigit wido — February 6, 2009 @ 5:12 am

    • Hai Sigit,

      Terima kasih responsnya. Untuk AD/ART P2RK Katingan, bisa tolong kontak Azharuddin, dari LSM teropong yang selama ini mendampingi kelompok tani tersebut. E-mailnya: azharuddin_kalteng@hotmail.com atau azharuddin.kalteng@gmail.com

      Salam,
      Tami
      (Swary Utami Dewi)
      Blog: sudewi2000.wordpress.com

      Comment by sudewi2000 — February 21, 2009 @ 3:41 am

  2. Mba Tami.. Perkenalkan saya adalah pengusaha rotan di daerah katingan..

    kurang lebih 7 bulan belakangan ini saya memulai usaha rotan saya..tujuan penjualan rotan saya belakangan ini hanyalah ke tengkulak banjarmasin,sebenarnya baru baru ini saya sudah ada niat ingin menjual rotan saya ke pulau jawa,karena bagai manapun kalau kami para pengusaha rotan di daerah ini masih menjual rotan kami hanya ke banjarmasin saya yakin harga rotan di tingkat petani pun tidah akan mampu merubah tarap hidup para petani..tapi masalahnya adalah:saya belum mempunyai koneksi untuk menjualnya kesana..
    jika mba tami atau rekan yang lain mempunyai relasi yang ingin membeli rotan saya tolong bisa hubungi saya di no ini:

    NO HP : 081352780112.
    ATAS NAMA : FERY CORNELIUS ( BP AKAU )

    saya akan berterima kasih banyak jika ada BAYER yang mau serius ingin bekerja sama dengan saya..( continue )

    Comment by FERY CORNELIUS — August 11, 2009 @ 3:06 pm

  3. saya minta tolong info harga rutan,sebelumnya saya ucapkan terima kasih

    Comment by adnan — November 10, 2010 @ 6:15 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: