Sudewi2000’s Weblog

October 1, 2008

MASIH SITI NURBAYA

Filed under: Gender — Tags: , , , , , — sudewi2000 @ 4:30 pm

Sulawesi, 13 Mei 2007

TORNADO (ALIF YUSUF VICAUSSIE, MEI 2007)

TORNADO (ALIF YUSUF VICAUSSIE, MEI 2007)

Perjalananku kali ini menyusuri beberapa tempat di Sulawesi, pada Mei 2007. Seorang sahabat, sebut saja Nita, meluangkan waktu menemaniku. Sesudah menjemputku di bandara dan meluangkan waktu sampai malam menyusuri kota, dia mengajakku ke rumahnya, berjarak sekitar 1,5 jam dari bandara. Dan mulailah cerita itu meluncur dari bibirnya, cerita yang cukup menghentak batin.

Nita, dinikahkan secara paksa oleh orangtuanya, ketika ia baru menamatkan SMP. Dia menolak, merasa itu bukan saatnya, merasa banyak hal yang ingin dilakukan dan dikejar. Satu-satunya kemudian yang membuat dia menyerah pada nasib, pada saat sang ibu bersujud di kakinya. Sang ibu telah terlanjur berjanji akan menikahkan Nita dengan anak dari rekan bisnisnya. Dan janji itu, baginya tidak bisa ditarik kembali.

“Aku merasa tidak diberi kesempatan untuk memilih,” kenang Nita tentang saat dimana dia tidak bisa berkata iya atau tidak lagi. “Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah pasrah pada nasib,” Suaranya masih terdengar getir pada saat dia bercerita. Kejadian lebih dari sepuluh tahun itu masih diingatnya dengan baik.

LA DANCE VILLAGEOISE (PICASSO, 1922)

LA DANCE VILLAGEOISE (PICASSO, 1922)

Apa yang dialami Nita, ternyata juga dialami adik-adik perempuannya. Rata-rata mereka dikawinkan sebelum menyelesaikan SMA. Alasan orangtuanya juga sama, setali tiga uang –telah terlanjur berjanji dengan X dan Y untuk saling mengawinkan anak–. Tambahan lagi, lebih cepat dinikahkan lebih baik bagi anak perempuan. Orangtua Nita khawatir pergaulan zaman sekarang bisa membuat anak-anak gadisnya melakukan sesuatu yang mencoreng nama orangtua.

Ternyata, kawin muda, rata-rata di usia belasan tahun telah menjadi tradisi. Biasa dilakukan di banyak keluarga di kampung yang kebanyakan masyarakatnya bekerja sebagai petani dan pengusaha itu. Alasannya bisa jadi karena ekonomi –menggabungkan bisnis dua keluarga– bercampur dengan alasan khawatir anak perempuannya terjerumus gaya pergaulan masa kini.

Nita menghela nafas sebelum melanjutkan cerita. Ada satu hal yang tidak dia dimengerti. Kenapa keharusan menikah sesuai dengan kehendak orangtua lebih banyak berlaku bagi anak perempuan? “Anak laki-laki biasanya boleh memilih pasangan hidup. Mereka diijinkan sekolah tinggi-tinggi dan jarang dipaksa kawin muda,” perempuan berusia kepala tiga ini berkata lirih.

Seorang saudara dekat Nita memberikan alasan kenapa laki-laki boleh bersekolah tinggi dan perempuan tidak. “Kata orangtua, percuma perempuan bersekolah tinggi karena akhirnyapun akan kembali ke dapur.” Namun, ketika ditanya apakah sebenarnya dia ingin bersekolah tinggi, kata iya terlontar dari mulutnya. Nita dengan cepat juga mengangguk mengiyakan.

JACQUELINE ROCQUE (PICASSO, 1954)

JACQUELINE ROCQUE (PICASSO, 1954)

Sesudah menikah, kebahagiaan bagi perempuan yang dinikahkan bukan menjadi masalah. “Bahagia atau tidak, semua itu harus dijalani. Katanya, demi nama baik keluarga,” tutur Nita. Perceraian hampir tidak terjadi. Meski perempuan tersebut tidak mengalami kebahagiaan, nasib harus ditelan bulat-bulat dengan sikap pasrah.

Bebas dari belenggu kawin paksa hanya mungkin terjadi jika seorang lelaki memutuskan melepas si perempuan yang telah dinikahi, dengan berbagai alasan. Seorang saudara Nita hanya bisa pasrah ketika beberapa tahun sesudah pernikahannya, sang suami mengembalikannya kepada keluarga. Dia tidak menjawab pertanyaanku ketika kutanya mengapa. Tapi jelas aku melihat sorot duka di matanya yang berusaha disembunyikan.

Kenyataan lain yang kutemui makin membuatku tercengang kaget. Praktek nikah dini ini ternyata masih terjadi sekarang. Seorang teman yang usianya tidak terlalu jauh dariku dan juga dinikahkan pada usia muda, dengan bangga menceritakan ia sudah memiliki cucu. Cucu itu dari anak perempuannya yang dinikahkan pada usia 17 tahun.

Aku memandang takjub sahabatku saat ceritanya berlanjut. “Masa kecilku terampas. Cita-citaku tidak kesampaian. Tapi aku tidak mau menyerah untuk menunjukkan aku mampu berbuat,” kata Nita tegar. Sejak harus menikah muda, dia menunjukkan diri bisa mengurus bisnis, menjadi tulang punggung keluarga.

“Aku mau kuliah. Dalam waktu dekat aku akan mengurus ijazah SMA agar bisa daftar kuliah,” Nita melanjutkan tuturnya. Kutanya bagaimana cara ia mendapatkan ijazah SMA sementara sekolahnya berhenti di tingkat SMP. Dengan polos dia menjelaskan kalau seorang teman akan membantu mengurus sampai ia mendapatkan ijazah tersebut. “Itu bisa diatur,” senyumnya optimis. Aku tidak tega membantah dan hanya membalas dengan senyum.

Cerita Nita dan banyak perempuan di kampungnya membuatku tidak habis pikir. Di zaman seperti ini –di mana hak perempuan disuarakan di mana-mana, penyadaran tentang akibat kawin muda digiatkan, berbagai media informasi masuk dari kota sampai kampung– praktek menikahkan anak perempuan di usia belia masih terjadi. Bayangkan, ini misalnya terjadi di depan hidung: di suatu kabupaten di Sulawesi yang bisa dijangkau 1,5 jam dari bandara. Dan aku masih saja miris membayangkannya: Siti Nurbaya masih banyak ditemui di zaman ini.

(Atas permintaan “Nita”, nama tempat tidak disebutkan secara detil untuk menyamarkan identitas).

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: