Sudewi2000’s Weblog

October 1, 2008

MANGGARAI: HOBBIT FLORES DAN PENDUDUK RAMPASASA

19 Mei 2007

SITUS TEMPAT DITEMUKANNYA FOSIL HOBBIT

Gua Tempat Fosil Hobbit Ditemukan (Oleh: Swary Utami Dewi)

Siapa tidak kenal film Lord of The Ring? Trilogi perjalanan menyabung nyawa Frodo dan kawan-kawan untuk membuang cincin pembawa petaka dunia sangat terkenal di mana-mana. Menyebut Frodo berarti menyebut komunitas manusia kecil yang tingginya sekitar 1 m: Hobbit.

Swary Utami Dewi)

Situs Liang Bua, Flores (Foto: Swary Utami Dewi)

Mungkin banyak orang menganggap manusia sejenis Hobbit hanya rekaan sampai kemudian Prof. Teuku Jacob dan timnya menemukan sesuatu yang menakjubkan pada 2004. Di Flores Barat, tepatnya sekitar 10 km dari Ruteng, ibukota Manggarai, guru besar terkenal dari UGM ini menemukan fosil manusia purba yang tingginya lebih sedikit dari 1 m. Gua Liang Bua-lah tempat sisa-sisa kerangka 8 manusia kerdil ini digali keluar. Para ahli memberikan nama ilmiah untuk fosil ini: Homo Floresiensis. Artinya, manusia Flores . Disinyalir mereka menghuni Liang Bua antara 95 ribu dan 12 ribu tahun lalu. Salah satu dari sisa-sisa kerangka 8 manusia kerdil dari Flores ini diidentifikasi berjenis kelamin perempuan, berusia 30-an. Diperkirakan ia meninggal sekitar 18 ribu tahun lalu. Perempuan tersebut memiliki tinggi 1 m. Volume otaknya hanya 380 cc, tidak lebih besar dari otak simpanse.

Fosil manusia mungil Flores inilah yang kemudian menghebohkan dunia ilmiah: mencuatkan kembali perang antara mereka yang pro dan kontra teori evolusi. Para pendukung teori Darwin , menurut info yang kutemui di internet, mula-mula menyambut gembira penemuan fosil berukuran kerdil ini dan menganggapnya sebagai suatu spesies manusia baru. Jika pendapat ini terbukti, missing link evolusi dari manusia-kera menjadi manusia modern, bisa jadi terbongkar.

Namun, nampaknya situs Liang Bua memberikan lebih banyak bukti yang menguntungkan kelompok penyanggah teori Darwin. Dari tinggi tubuh dan volume otak, manusia Flores memang cukup mungil dibandingkan rata-rata manusia pada umumnya. Tetapi temuan beberapa jenis perkakas dan tulang belulang hewan di gua yang sama membuktikan manusia mini ini memiliki kecerdasan. Mereka mampu membuat alat-alat yang memudahkan hidup. Mereka juga menunjukkan kemampuan berburu, bahkan berburu binatang yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Tambahan lagi, para manusia Flores ini, diyakini telah memiliki kemampuan berbahasa dan bermasyarakat. Menjadi menarik karena ini berarti volume otak tidak lagi berbanding lurus dengan kecerdasan.

Selain itu, ukuran mungil Homo Floresiensis diyakini bukan karena mereka merupakan spesies tersendiri. Ukuran kecil, menurut beberapa pakar, bisa jadi karena ukuran tubuh mereka mengecil –sejalan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Ada istilah island dwarfism (dwarfisme pulau). Penjelasannya, mahluk hidup yang terpisahkan secara geografis dari populasi di daratan induk mengalami pengecilan ukuran tubuh secara bertahap akibat tidak mencukupinya sumber makanan setempat. Flores konon dulunya merupakan bagian dari deretan daratan panjang yang membentang dari Sumatra, Jawa dan seterusnya sampai menyentuh pulau eksotis ini.

Swary Utami Dewi)

Perempuan dan Anak Rampasasa: Turunan Hobbit? (Foto: Swary Utami Dewi)

Penemuan si mungil dari Kabupaten Manggarai ini kemudian juga membawa para peneliti berusaha menelusuri jejak keturunan para penghuni Liang Bua. Penduduk Kampung Rampasasa yang terletak tidak jauh dari gua beberapa kali dikunjungi. Beberapa dari mereka menceritakan pernah diukur kepalanya, diteliti wajahnya dsb. “Katanya untuk tahu apakah kita ini turunan manusia gua itu, dari ukuran kepala dan bentuk wajah,” jelas seorang bapak yang pernah menjadi “obyek pengukuran”. Sayangnya aku lupa mencatat nama bapak ini. Tidak juga diperoleh informasi apakah pengukuran tersebut dalam rangka mendukung atau menyanggah teori evolusi.

Perang ilmiah apapun yang terjadi di luar sana, nampaknya tidak sedikitpun diketahui atau mungkin dipedulikan oleh penghuni Kampung Rampasasa. Mungkin satu-satunya yang mereka ketahui dan rasakan adalah kedatangan orang-orang baru dalam beberapa tahun terakhir. Bisa jadi untuk tujuan penelitian mengukur ukuran tengkorak dan profil wajah atau mencari tahu sejarah kampung ini dan kaitannya dengan Liang Bua. Bisa juga orang berkunjung didasari kepenasaranan karena pengaruh berita, seperti apa yang kulakukan.

Hampir tidak ada yang berubah dari kampung berpenduduk 170-an jiwa atau sekitar 80-an keluarga ini. Homo Floresiensis boleh menjadi terkenal di mana-mana. Tapi bagi penduduk sekitar semua hampir tetap sama. Kemiskinan tetap tercium sejak saat kita menjejak kaki di sana . Di Rampasasa, misalnya, 30 rumah kecil berlantai tanah dihuni banyak orang, banyak anak tidak bersekolah, beberapa ibu bertampang belia menggendong balita ingusan.

Swary Utami Dewi)

Tatapan Para Bocah Rampasasa (Foto: Swary Utami Dewi)

Di sela-sela keadaan mereka, bagaimanapun, aku tetap menemukan kesejukan. Kedatanganku disambut sapaan dan kerumunan ramah penduduk, sajian kopi dan air kelapa, kesempatan bermain dan bertebak kata dengan anak-anak, serta lambaian tangan saat aku meninggalkan Rampasasa. Homo Floresiensis sesudah digali berubah menjadi tenar di mana-mana, penduduk Rampasasa tetap sama: miskin. Meski demikian “manusia modern” ini menunjukkan kekuatannya: dalam kecerdasan hati dan sosial.

3 Comments »

  1. Hai Swary,

    pada site http://www.geografiana.com/images/stories/pelajar/pngi4.jpg ada foto manusia flores.

    Comment by dewi — October 1, 2008 @ 4:55 pm

  2. sy sangat menyukai info tentang manusia prasejarah….
    kalo ada info tentang hal tsb, tolong kirimkan melalui email saya,
    thanks!

    Comment by m aris — May 29, 2009 @ 9:53 am

  3. pulau flores sangat eksotik gugusan kepulauan yang subur di timur indonesia,
    – bila anda ke danau ranamese anda akan terkejut bahwa bekas letusan gunung purba berubah jadi danau dengan kedalaman 1, 2 km ( wow ).
    – jika anda ke atas bukit dari ngada ke bajawa coba tengok bentang alam pelabuhan enimere dengan view gunung jika itu ratusan taun lalu mungkin seperti taman jurasic

    Comment by amri sanjaya — September 13, 2009 @ 3:36 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: