Sudewi2000’s Weblog

September 30, 2008

KOLAM IKAN TILAPIA DAYAK IBAN DI SUAI, SARAWAK

14 November 2006

Mempertahankan Tradisi di Tengah Modernitas

Dayak Iban Sarawak: Mempertahankan Tradisi di Tengah Modernitas (Foto: Swary Utami Dewi)

Selama 5 hari, penulis berkempatan menjadi salah satu narasumber training Agroforestry di Miri, Sarawak, Malaysia. Training yang diorganisir oleh Regional Network for Indigenous Peoples in Southeast Asia (RNIP) diikuti peserta Indonesia dan Malaysia. Salah satu kunjungan dilakukan ke Suai, melihat kegiatan wanamina yang sedang dicobakan oleh seorang petani lokal, suku Dayak Iban.

Perjalanan hampir 2 jam menuju Suai tidak terasa melelahkan karena mulus dan licinnya jalan. Ini membuktikan rapinya infrastruktur Miri. Kiri kanan jalan rapi. Tidak terlihat buangan kertas atau sampah lainnya. Pemandangan yang cukup menarik di sepanjang jalan membuat mata terasa teduh. Di sepanjang jalan tidak banyak ditemui rumah penduduk, apalagi kampung. Tidaklah mengherankan karena penduduk Sarawak saja jumlahnya tidak banyak: sekitar 200 ribu.Beberapa kali masih terlihat rumah-rumah panjang khas Dayak. Uniknya, beberapa rumah panjang telah disulap menjadi lebih modern. Dibuat permanen dan tidak lagi bertangga tinggi, tapi masih tetap panjang dan memiliki banyak pintu sesuai dengan jumlah keluarga yang menghuni.

Rumah Panjang Semi-Modern Dayak Iban Sarawak

Rumah Panjang Semi-Modern Dayak Iban Sarawak (Foto: Swary Utami Dewi)

Yang menarik, kami sempat melewati jalan menuju Taman Negara Niah. Taman Negara sama artinya dengan Taman Nasional. Dari jauh, bisa terlihat deretan bukit tinggi batu kapur membentang. Seorang teman Malaysia mengatakan Niah terkenal karena di dalamnya terlindungi peninggalan Dayak Iban berupa lukisan timbul di dinding gua. Lukisan ini menggambarkan manusia dengan segala aktivitasnya, misal seorang ibu yang sedang menyusui anak. Sayang karena waktu yang terbatas, kami tidak punya waktu menjenguk kebanggaan Miri tersebut.

Semakin jauh mendekati Suai, tepi hutan sepanjang jalan semakin banyak dilalui. Hutan-hutan masih terlihat lebat. Sesekali rombongan juga melewati kebun-kebun campuran buah dan sayur. Ada pula deretan kebun sawit yang tidak terlalu panjang, diselingi tanaman pisang.

Sesudah menempuh perjalanan hampir 2 jam dari pusat kota Miri ke arah Bintulu, tibalah rombongan di Suai. Keluarga besar Timboo sudah menanti di rumah modern permanen mereka. Hal pertama yang dilakukan: makan. Rombongan berjumlah lebih dari 20 orang ini memang terlihat lapar mengingat waktu sampai sudah menjelang pukul 2. Makan siang cukup istimewa. Tuan rumah menyajikan tilapia (nila) yang terlebih dahulu di-lulun (dikukus). Masakan tradisional ini dibuat dengan memasukkan potongan-potongan ikan ke dalam buluh (bambu). Air, garam dan bumbu lain ditambah untuk membuat rasa ikan lebih lezat. Para peserta sempat merubung melihat bambu berisi nila kukus matang. ”Ikan ini jika sudah matang dan airnya dibuang bisa bertahan sampai 2-3 hari,” kata Timboo, sang kepala keluarga. Dari sini mengalirlah cerita usaha kolam tilapia Timboo yang telah dilakukan 4 tahun terakhir.

Timboo, kepala rumah panjang Suai, memulai usaha kolam ikan nila menggunakan bibit yang diberikan secara gratis oleh kerajaan, istilah Malaysia untuk pemerintah. Air ke kolam, yang sekarang berjumlah enam buah, diambil dari Sungai Suai dan disalurkan melalui pipa. Jadilah kolam milik bapak asal Sri Aman ini selalu mendapat suplai air segar penyedia oksigen. Hasilnya, daging nilai Timboo terkenal lebih segar dan manis.

Saat pertama panen, bertahun lalu, hampir tidak ada yang mau membeli nila hasil budidaya bapak berusia 61 tahun. Timboo sempat berjalan kaki menjual ikan. Supaya masyarakat sekitar tahu kelezatan tilapia-nya, tanpa ragu-ragu ia menawarkan orang-orang untuk mencicipi. Dengan cara inilah mereka bisa tahu kelebihan nila Timboo. Beritapun cepat tersebar dari mulut ke mulut: Timboo memiliki nila yang lezat. Jadilah budidaya nila menjadi pilihan utama penyangga hidup Timboo sekeluarga.

Sekarang, Timboo tidak perlu lagi keluar rumah menjajakan nila. Pembelilah yang datang. Talipia merah dan hitam dijual 10 ringgit per kg. Paling tidak dalam sebulan, lelaki yang memiliki penghasilan lain dari berkebun ini bisa menjual 280 kg tilapia. Bagi Timboo, pendapatan ini sudah memadai. Paling tidak ia bisa mendirikan satu rumah permanen bertingkat dua bagi keluarganya.

Meski nila Timboo sudah cukup terkenal, ia tetap menjalankan prinsip menyediakan untuk sekitar. Artinya, ia mengutamakan menjual nilai kepada para tetangga dan anggota rumah panjang yang sekarang tidak dihuninya lagi. Jika ada yang datang dari jauh dan sengaja mampir membeli, Timboo tidak akan menolak, asal jumlah yang dibeli dianggap wajar. Namun, pria yang secara rutin masih mendatangi rumah panjangnya ini, akan menolak jika ada pihak yang ingin memborong habis nilanya. Timboo menolak order khusus sebuah restoran terkenal di Miri yang ingin mendapatkan ratusan kg tilapia per bulan. ”Kasian yang lain tak dapat nanti,” jelas Timboo.

Demikianlah kisah Timboo, seorang Dayak Iban Sarawak yang berusaha sebagai penyedia protein bagi komunitas sekitar.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: