<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sudewi2000's Weblog</title>
	<atom:link href="http://sudewi2000.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sudewi2000.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jan 2012 05:55:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sudewi2000.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sudewi2000's Weblog</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sudewi2000.wordpress.com/osd.xml" title="Sudewi2000&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sudewi2000.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KANT: KONTRIBUSI REVOLUSIONER DAN PENGARUHNYA DALAM FILSAFAT</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2012/01/03/kant-kontribusi-revolusioner-dan-pengaruhnya-dalam-filsafat/</link>
		<comments>http://sudewi2000.wordpress.com/2012/01/03/kant-kontribusi-revolusioner-dan-pengaruhnya-dalam-filsafat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 05:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
				<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Modern]]></category>
		<category><![CDATA[Idealisme]]></category>
		<category><![CDATA[Immanuel Kant]]></category>
		<category><![CDATA[Revolusi Kopernikan]]></category>
		<category><![CDATA[Swary Utami Dewi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudewi2000.wordpress.com/?p=1598</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Swary Utami Dewi Immanuel Kant (1724-1804) merupakan filsuf paling berpengaruh dalam sejarah filsafat modern. Kant telah melakukan sesuatu yang luarbiasa yaitu mensintesakan dua aliran filsafat yang berlawanan pada masanya, yaitu Rasionalisme dan Empirisme melalui ”Revolusi Kopernikan”-nya. Dalam perkembangan selanjutnya, sintesa Kant mendorong aliran-aliran filsafat baru.Tulisan berikut akan menguraikan sintesa Kant terhadap Rasionalisme dan Empirisme [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1598&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong>Oleh: Swary Utami Dewi</strong></p>
<p>Immanuel Kant (1724-1804) merupakan filsuf paling berpengaruh dalam sejarah filsafat modern. Kant telah melakukan sesuatu yang luarbiasa yaitu mensintesakan dua aliran filsafat yang berlawanan pada masanya, yaitu Rasionalisme dan Empirisme melalui ”Revolusi Kopernikan”-nya. Dalam perkembangan selanjutnya, sintesa Kant mendorong aliran-aliran filsafat baru.Tulisan berikut akan menguraikan sintesa Kant terhadap Rasionalisme dan Empirisme melalui Revolusi Kopernikan-nya serta kelahiran aliran-aliran filsafat baru yang diilhami Kant</p>
<p><span id="more-1598"></span>Seperti dijelaskan dalam Tjahjadi (2004: 281) dan Gaarder (2010: 502), Rasionalisme menyatakan bahwa akal budi (rasio) merupakan sumber pengetahuan. Dasar dari seluruh pengetahuan manusia ada dalam pikiran. Pengalaman hanya menegaskan apa yang telah ada dalam akal budi. Bertentangan dengan hal ini, Empirisme menyatakan bahwa sumber pengalaman hanyalah pengalaman indrawi. Dengan demikian, hanya yang bisa ditangkap indra saja yang bisa dijadikan dasar pengetahuan. Ini misalnya ditegaskan oleh salah satu penganut Empirisme, David Hume. Hume mengatakan bahwa semua hal yang non-indrawi hanya bisa diperkirakan. Karenanya, filsafat dan ilmu pengetahuan alam yang mengandalkan prinsip tidaklah bisa mencapai kepastian. Hanya kemungkinanlah yang bisa diraih.</p>
<p>Kant memiliki pandangan kritis tersendiri terhadap dua aliran tersebut. Terhadap pendapat Hume, Kant berkeyakinan bahwa hukum-hukum ilmu pengetahuan bisa mencapai kepastian dan berlaku secara umum. Pertanyaannya sekarang bagi Kant, bagaimana pengetahuan manusia bisa menangkap semua ini? Apakah ada syarat-syarat yang harus dipenuhi? Kant menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui usaha yang dikenal dengan sebutan ”Revolusi Kopernikan”. Jika Copernicus menyatakan bahwa matahari merupakan pusat tata surya dan bumi berputar mengelilingi matahari, maka Kant berupaya menunjukkan bawah pengenalan berpusat bukan pada Objek, melainkan pada Subjek (Tjahjadi, 2004).</p>
<p>Kenapa upaya Kant ini disebut revolusioner? Harus dipahami bahwa sebelumnya, filsafat dilihat sebagai suatu proses berfikir di mana ”Kita” sebagai Subjek mengarahkan diri kepada Objek (dalam hal ini dunia). Kant melakukan perombakan dengan cara membalik tradisi berfikir tersebut. Untuk diproses menjadi pengetahuan, Objeklah yang kini mengarahkan diri ke Subjek.</p>
<p>Dalam memahami bagaimana pengetahuan terjadi, filsafat Kant mengawali penyelidikan terhadap struktur-struktur Subjek yang memungkinkan manusia mengetahui benda-benda sebagai Objek (Tjahjadi, 2004: 282). Dalam proses pengetahuan manusia, Kant membedakan tiga tingkatan. Pertama adalah tingkat pemahaman indrawi, kedua tingkat akal budi dan yang tertinggi tahap budi atau intelektual. Pada tingkat pemahaman indrawi, Kant menegaskan bahwa pengetahuan merupakan gabungan dari unsur-unsur yang ada sebelum pengalaman (<em>apriori</em>), yaitu ruang dan waktu, dengan unsur-unsur yang diperoleh setelah pengalaman terjadi (<em>aposteriori</em>). Secara sederhana bisa dikatakan, pada tingkatan ini data-data indrawi berbaur dengan ruang dan waktu.</p>
<p>Menanjak pada tingkat kedua yaitu tingkat akal budi, intelektual bekerja mengolah input yang diperoleh dari tingkat terdahulu. Di sini ada ”kategori-kategori” yang merupakan konsep fundamental atau pengertian pokok yang memudahkan manusia dalam menyusun pengetahuan. Kant membagi 12 kategori yang bisa ditemui dalam akal budi, di antaranya kategori kausalitas. Pengetahuan diyakini terbentuk dari pengalaman ditambah dengan kategori-kategori akal budi (Tjahjadi, 2004: 284). Di sini, Tjahjadi (2004: 284-285) menegaskan bahwa Kant sekaligus menolak pandangan Hume yang berkeyakinan bahwa pengetahuan hanya mampu memberi kemungkinan, bukan kepastian.</p>
<p>Tingkatan tertiga sekaligus tertinggi dalam proses pengetahuan manusia adalah tingkat budi atau intelektual. Bagi Kant, intelektualitas memiliki tugas merangkum pengetahuan yang telah diperoleh pada tingkat sebelumnya dengan panduan pandangan tentang Jiwa, Dunia dan Allah (Tjahjadi, 2005: 285)</p>
<p>Melalui ”Revolusi Kopernikan” yang telah dilakukan, Kant berkesimpulan bahwa baik pengalaman indrawi maupun akal budi sama-sama memegang peranan penting dalam membentuk pengetahuan (Gaarder, 2010: 503). Dari sinilah kita bisa melihat bahwa Kant telah melakukan sintesa terhadap rasio yang diagung-agungkan oleh kaum rasionalis dengan pengalaman yang dipentingkan penganut empiris dalam rangka membentuk pengetahuan. Karena filsafat Kant meyakini bahwa realitas dikonstruksikan oleh ide, maka aliran ini disebut Idealisme.</p>
<p>Filsafat Kant (Idealisme) kemudian mempengaruhi lahirnya aliran-aliran filsafat pasca Kant. Idealisme Kant pecah menjadi dua aliran baru: Idealisme yang ”melanjutkan” pikiran Kant dan Positivisme (Hamersma, 1983: 33). Idealisme yang melanjutkan Kant dikembangkan oleh Fichte, Schelling dan Hegel pada zaman romantik. Idealisme yang menekankan unsur kesadaran ini dikenal dengan sebutan Romantisisme. Dalam novel filsafatnya, <em>Dunia Sophie</em>, Gaarder (2010: 533) menceritakan bahwa Kant telah menekankan pentingnya sumbangan ego terhadap pengetahuan. Dampaknya, penganut Romantisisme melakukan ”pemujaan ego” yang berlebihan, misalnya kejeniusan dalam kesenian (Gaarder, 2010: 534).</p>
<p>Akan halnya Positivisme, aliran ini dipandang melanjutkan skeptisisme Kant. Positivisme, yang dikembangkan Comte, meyakini bahwa pengetahuan haruslah didasarkan pada gejala-gejala. Fakta-fakta yang bisa dijadikan dasar pengetahuan adalah fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah. Hakekat kenyataan menjadi tidak berarti. Untuk mengetahui apa yang akan terjadi, manusia harus menyelidiki gejala-gejala dan mencaritahu hubungan antar gejala tersebut.Selanjutnya Hamersma (1983) menjelaskan bahwa filsafat Kant juga mempengaruhi Neokantianisme yang berkembang sekitar tahun 1900-an.</p>
<p>Dari uraian di atas nampak jelas peran penting Kant dalam mengawinkan Rasionalisme dan Empirisme, yang kemudian melahirkan Idealisme melalui dobrakan ”Revolusi Kopernikan”. Filsafat Kant terbukti tidak hanya berhasil melakukan sintesa, tapi juga mempengaruhi aliran-aliran baru dalam fisafat pasca Kant.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudewi2000.wordpress.com/1598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudewi2000.wordpress.com/1598/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudewi2000.wordpress.com/1598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudewi2000.wordpress.com/1598/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudewi2000.wordpress.com/1598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudewi2000.wordpress.com/1598/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudewi2000.wordpress.com/1598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudewi2000.wordpress.com/1598/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudewi2000.wordpress.com/1598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudewi2000.wordpress.com/1598/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudewi2000.wordpress.com/1598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudewi2000.wordpress.com/1598/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudewi2000.wordpress.com/1598/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudewi2000.wordpress.com/1598/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1598&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudewi2000.wordpress.com/2012/01/03/kant-kontribusi-revolusioner-dan-pengaruhnya-dalam-filsafat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f10701476c8ec5d4ec9ba6ac4d0446dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudewi2000</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hanya Tubuh Semata?</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2012/01/03/hanya-tubuh-semata/</link>
		<comments>http://sudewi2000.wordpress.com/2012/01/03/hanya-tubuh-semata/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 05:20:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Metafisika]]></category>
		<category><![CDATA[Metafisika Tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[Swary Utami Dewi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudewi2000.wordpress.com/?p=1593</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun lalu, Ara, anak perempuanku yang saat itu masih berusia 8 tahun bertanya,  “ Mengapa banyak yang mengatakan perempuan yang disebut cantik harus seperti mereka yang terpilih menjadi Putri Indonesia dan Miss Indonesia? Apakah Kintan yang kulitnya coklat bisa dikategorikan cantik menurut orang lain?” Saat saya balik bertanya, apakah menurut pandangannya sang sepupu cantik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1593&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua tahun lalu, Ara, anak perempuanku yang saat itu masih berusia 8 tahun bertanya,  “ Mengapa banyak yang mengatakan perempuan yang disebut cantik harus seperti mereka yang terpilih menjadi Putri Indonesia dan Miss Indonesia? Apakah Kintan yang kulitnya coklat bisa dikategorikan cantik menurut orang lain?” Saat saya balik bertanya, apakah menurut pandangannya sang sepupu cantik, dia  mengangguk dan memberi penjelasan, “Menurut Ara, Kintan cantik. Sama seperti Ara melihat setiap perempuan itu cantik.” Pertanyaan ini nampaknya sederhana, tapi merunut pada pertanyaan lanjutan tentang apa itu tubuh yang ”kebetulan” dalam hal ini dibungkus oleh predikat ”cantik”.</p>
<p><span id="more-1593"></span>Persoalan tubuh sekilas nampak sederhana, namun penting, mendasar dan akan selalu ada. Misalnya, terkait tubuh perempuan, dalam setiap zaman kita lihat selalu ada pendefinisian tentang kecantikan yang lekat dengan tubuh fisik perempuan. Botticeli misalnya melukis tentang perempuan dengan kriteria tubuh tertentu. Zaman Victoria menampilkan perempuan dengan tubuh dibalut torso yang menonjolkan bagian tertentu  (dada penuh dan pinggang ramping).  Abad ke-20 menampilkan ikon seperti Kate Moss, Marilyn Monroe dan Zsa Zsa Gabor, yang walaupun memiliki tampilan tubuh yang berbeda, namun tetap mengemukakan tubuh sebagai yang utama. Lalu, persoalan tubuh ini bukan hanya ”ranah” perempuan. Laki-laki sekarang misalnya banyak yang giat pergi ke pusat kebugaran atau meminum ramuan atau susu tertentu agar tubuhnya bisa berisi dan perut menjadi ”six-packs”.</p>
<p>Fenomena ini makin menjamur di abad ke-21 saat industri media massa “berkolaborasi” dengan industri kecantikan menampilkan ikon perempuan dan lelaki dengan “keunggulan” tubuh berdasarkan kriteria tertentu (tinggi, langsing dsb untuk perempuan; berotot, perut rata, tegap dsb untuk lelaki). Lagi-lagi tubuh ”tetap” menjadi begitu penting.</p>
<p>Lain lagi jika kita berhadapan dengan sekelompok orang yang meyakini bahwa tubuh secara fisik tidaklah penting. Bahkan bisa dijadikan ajang eksploitasi.Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia periode 1977-1982, seperti yang dikutip Adian Husaini (2010), menulis, <em>”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan &#8230;”</em></p>
<p>Semua fenomena ini ada dan terjadi di sekitar kita, setiap saat, di manapun dalam berbagai bentuk. Tubuh menjadi persoalan yang terus menerus disorot, ditonjolkan dan dibicarakan. Semua ini menimbulkan rentetan pertanyaan baru dalam diri saya.</p>
<p>Apakah tubuh itu sebenarnya? Apakah tubuh hanya semata tubuh yang “rentan” terhadap definisi dan kepentingan tertentu? Bagaimana dengan hal-hal lain yang memandang tubuh bukan hanya tubuh, tapi juga memiliki unsur jiwa dan pikiran? Semua ini menarik minat saya untuk lebih memahami apa itu tubuh dalam kaitannya dengan eksistensi manusia.</p>
<p>Pertanyaan metafisik tentang apakah tubuh itu bisa memiliki beberapa jawaban misal tubuh hanya semata tubuh, tubuh terdiri dari jiwa dan  raga yang terpisah, tubuh terdiri dari jiwa dan raga yang menyatu dan sebagainya. Dalam kuliah metafisika yang saya ikuti dan beberapa bahan bacaan yang saya dapatkan, ada beberapa penjelasan metafisika terkait tubuh tersebut.</p>
<p>Taylor (1992) dalam tulisannya menjelaskan bahwa ada pandangan materialisme mengenai tubuh (<em>body</em>). Tubuh dipandang sebagai benda material (<em>a material thing</em>), atau organisme hewan material yang hidup. Jika ini yang dipandang, maka menurut Taylor, seseorang hanya menjadi sejenis benda semata, tidak ada yang misterius maupun metafisik di dalamnya (Taylor, 1992: halaman 11). Jelas dalam pandangan ini, tidak banyak yang bisa dijelaskan terkait fenomena ”penonjolan tubuh” yang selama ini ditemui dalam berbagai bentuk.</p>
<p>Pandangan kedua mengenai tubuh adalah fisikalisme. Dijelaskan bahwa manusia merupakan benda fisik (<em>a physical thing</em>). Di sini, manusia dilihat hanya sebagai tubuh semata. Tanpa bermaksud untuk menuduh, bisa jadi inilah yang mendasari pandangan di balik pemikiran para penggerak industri kecantikan tubuh, bahwa tubuh adalah benda semata, sehingga tubuhpun bisa dibentuk sesuai kehendak atau konsep tertentu. Namun, apakah kita cukup berhenti sampai di sini saja melihat manusia hanya sebagai tubuh semata?</p>
<p>Lalu ada pandangan lain dari filsuf Yunani Kuno, Plato, memberikan tentang manusia. Plato memandang jiwa dan badan sebagai dua substansi yang berdiri sendiri. Badan atau tubuh dianggap penjara bagi jiwa. Paham ini disebut dualisme. Dalam pemahaman saya, jika tubuh dianggap sebagai penjara jiwa, maka bagaimana reaksi mereka yang berpegang teguh pada pandangan ini dalam upaya membebaskan jiwanya? Apakah akan terjadi pengabaian terhadap tubuh, misalnya, agar jiwa bisa terbebas? Ataukah ada ekspresi jiwa yang diwakili/tergambar oleh tubuh untuk menunjukkan pemberontakan jiwa terhadap tubuhnya? Ini masih merupakan tanda tanya bagi diri saya.</p>
<p>Pandangan mendasar lain tentang manusia diungkapkan oleh Thomas Aquinas. Seperti diijelaskan Tjahjadi (2004: halaman 143-144), Aquinas yang hidup pada zaman skolastik memandang bahwa pada manusia ada jiwa dan tubuh, dan keduanya dilihat sebagai hubungan antara bentuk atau aktus (jiwa) dan materi atau potensi (tubuh). Jiwalah yang menjadi bentuk badan sementara karena adanya jiwa, tubuh menjadi realitas. Jiwa manusia abadi karena bersifat rohani, sementara badan akan hancur binasa sesudah kematian. Pandangan inilah nampaknya yang sering saya jumpai pada saat saya berbincang tentang pemuka agama mengenai apa makna manusia bagi mereka. Dalam Islam misalnya, digambarkan bahwa manusia terdiri dari roh dan badan. Roh tersebut akan ditiupkan ke manusia saat janin dalam kandungan berusia 40 hari.</p>
<p>Pandangan terakhir ini pula yang mungkin sangat terkait erat dengan kegelisahan banyak orang saat mereka mengkritik fenomena penonjolan tubuh yang berlebihan dengan kriteria tertentu di zaman sekarang ini. Jika hanya tubuh yang ditonjolkan, maka di mana penempatan manusia terhadap jiwanya? Tanpa ingin menunjukkan bahwa pandangan yang satu lebih unggul, dalam melihat manusia, pandangan bahwa manusia terdiri dari jiwa yang menyatu dalam badanlah yang bagi saya lebih mudah pahami, di mana kemudian jiwa tersebut tetap ada saat badan lepas meninggalkannya saat kematian tiba.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudewi2000.wordpress.com/1593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudewi2000.wordpress.com/1593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudewi2000.wordpress.com/1593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudewi2000.wordpress.com/1593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudewi2000.wordpress.com/1593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudewi2000.wordpress.com/1593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudewi2000.wordpress.com/1593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudewi2000.wordpress.com/1593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudewi2000.wordpress.com/1593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudewi2000.wordpress.com/1593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudewi2000.wordpress.com/1593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudewi2000.wordpress.com/1593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudewi2000.wordpress.com/1593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudewi2000.wordpress.com/1593/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1593&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudewi2000.wordpress.com/2012/01/03/hanya-tubuh-semata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f10701476c8ec5d4ec9ba6ac4d0446dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudewi2000</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Etika Bisnis yang Baik dan Benar dalam Praktik Bisnis Sumber Daya Alam</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2012/01/03/etika-bisnis-yang-baik-dan-benar-dalam-praktik-bisnis-sumber-daya-alam/</link>
		<comments>http://sudewi2000.wordpress.com/2012/01/03/etika-bisnis-yang-baik-dan-benar-dalam-praktik-bisnis-sumber-daya-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 04:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Pengelolaan Sumber Daya Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Swary Utami Dewi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudewi2000.wordpress.com/?p=1589</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Swary Utami Dewi Banjarbaru, 30 Desember 2011   Pendahuluan Sepanjang tahun 2011 beberapa kasus konflik antara pengusaha dengan masyarakat maupun kasus kerusakan lingkungan dan sumber daya alam, yang disinyalir dilakukan beberapa pelaku bisnis, mencuat di berbagai media massa. Untuk konflik antara perusahaan dengan masyarakat bisa disebut misalnya kasus perkebunan sawit di Mesuji (di perbatasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1589&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Swary Utami Dewi</strong></p>
<p><strong>Banjarbaru, 30 Desember 2011</strong></p>
<p><strong></strong> </p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Sepanjang tahun 2011 beberapa kasus konflik antara pengusaha dengan masyarakat maupun kasus kerusakan lingkungan dan sumber daya alam, yang disinyalir dilakukan beberapa pelaku bisnis, mencuat di berbagai media massa. Untuk konflik antara perusahaan dengan masyarakat bisa disebut misalnya kasus perkebunan sawit di Mesuji (di perbatasan Lampung dan Sumatra Selatan) serta kasus pertambangan di Kabupaten Bima (Nusa Tenggara Barat) yang baru saja terjadi. Tahun-tahun sebelumnya juga muncul kasus serupa misalnya kasus dua tambang besar milik asing di Sumbawa(Nusa Tenggara Barat) dan Papua. Di sini, kepentingan ekonomi (diwakili para pengusaha) nampaknya kerap berhadapan dengan kepentingan masyarakat adat/lokal serta lingkungan. Tidak bisa dipungkiri bahwa usaha-usaha ekonomi, termasuk yang berskala besar, adalah penting dalam rangka mendorong pertumbuhan (<em>growth</em>) yang pada akhirnya diharapkan menuju pada pemerataan dan kesejahteraan bersama. Namun, kita tidak bisa menutup mata kalau terdapat pandangan dan praktik bisnis yang menimbulkan akibat dan dampak yang tidak diharapkan seperti konflik dengan masyarakat adat/lokal, kerusakan lingkungan serta peminggiran dan pemiskinan masyarakat dalam berbagai bentuk. Tepatkah praktik bisnis yang kerap menuai kritik tersebut? Bagaimana seharusnya bisnis terkait dijalankan agar bisa disebut baik dan benar? Kajian etis terhadap persoalan tersebut akan dilakukan di sini.</p>
<p><strong><span id="more-1589"></span></strong></p>
<p><strong>Akibat dan Dampak Praktik Bisnis Sumber Daya Alam yang Keliru</strong></p>
<p>Tidak bisa disanggah bahwa usaha-usaha ekonomi, termasuk yang berskala besar, adalah penting bagi kemajuan suatu negara, termasuk Indonesia. Salah satu yang dipandang menjadi sumber penting pendapatan bagi Indonesia adalah usaha-usaha ekonomi dari pemanfaatan atau pengelolaan sumber daya alam seperti dari sektor kehutanan, perkebunan dan pertambangan. Untuk sawit misalnya, yang menjadi salah satu andalan perkebunan, pada 2011 Indonesia diperkirakan mampu mengekspor 16,5 juta ton minyak kelapa sawit mentah yang mencapai nilai 14,8 miliar dollar AS (Kompas, 27 Desember 2011, hlm 19). Pengusahaan sumber daya alam lain juga menuai keuntungan bagi negara baik dalam bentuk profit, pajak maupun royalti, misalnya dari sektor pertambangan. Asosiasi Pertambangan Indonesia mencatat bahwa perusahaan tambang di Indonesia membayar 26 jenis pajak yang nilainya berkisar 30% dari pendapatan kotor perusahaan. Bahkan, ada pemegang kontrak karya pertambangan yang membayar pajak sebesar 35% dari pendapatan kotornya. Selain itu, perusahaan tambang juga membayar royalti dalam jumlah tertentu kepada pemerintah (Kompas, 27 Desember 2011, hlm17).</p>
<p>Contoh-contoh di atas menunjukkan ada keuntungan ekonomi yang tidak sedikit yang diperoleh dari pengusahaan sumber daya alam, baik bagi pelaku bisnis maupun bagi negara (pemerintah). Namun, seperti telah disinggung di atas, praktik pengusahaan terkait kerap menuai kritik. Fakta menunjukkan bahwa kerap terjadi praktik yang menimbulkan berbagai masalah dan akibat lanjutan. Dua hal yang tercatat paling sering terjadi adalah konflik agraria antara perusahaan dengan masyarakat setempat/lokal/adat serta kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Sebagai contoh, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), seperti dikutip dari Kompas (27 Desember 2011, hlm 15), mencatat sebanyak 103 kasus konflik sumber daya alam telah terjadi antara perusahaan dengan masyarakat adat/lokal, misalnya di Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Lampung dan Riau. Selain itu, ada ratusan potensi konflik sumber daya alam lainnya yang siap ”meledak” di berbagai tempat di Indonesia jika tidak segera ditangani. Lembaga swadaya masyarakat lainnya, yaitu Jaringan Advokasi Tambang mencatat ada 153 kasus konflik perusahaan tambang dengan masyarakat yang sudah dan sedang terjadi.</p>
<p>Sementara itu, terkait isu pengrusakan dan pencemaran lingkungan, beberapa contoh yang bisa disebut adalah pembuangan limbah perusahaan (<em>tailing</em>) yang membahayakan lingkungan. Contoh lain adalah emisi gas rumah kaca dari praktik industrial dan usaha-usaha ekonomi. Tingginya emisi karbon (gas rumah kaca) yang dikeluarkan dari proses pengolahan lahan gambut dan pembukaan lahan (<em>land clearing</em>) dengan cara dibakar, misalnya, disinyalir kerap dilakukan perusahaan sawit dan pengusaha perkebunan lainnya di Sumatra. Lebih lanjut, emisi gas rumah kaca tersebut secara ilmiah telah terbukti memberikan ”sumbangan besar” bagi semakin panasnya suhu bumi (<em>global warming</em>) yang kemudian berpengaruh pada perubahan iklim (<em>climate change</em>) serta menimbulkan dampak lanjutan seperti ketidaktepatan musim tanam dan panen, naiknya permukaan air laut yang mampu menenggelamkan pulau-pulau kecil serta semakin seringnya banjir besar dan badai topan di berbagai tempat.</p>
<p>Ekses lain yang juga kerap ditemui terkait pengusahaan sumber daya alam adalah peminggiran aspek sosial budaya masyarakat, pemiskinan masyarakat serta dampak kesehatan yang ditimbulkan karena ketidaktepatan praktik bisnis tersebut. Di beberapa tempat di Sumatra, Kalimantan dan Papua misalnya sering terdengar protes dari masyarakat adat yang merasa terpinggirkan karena wilayah adat dan hutan yang selama ini mereka miliki turun temurun menjadi ”terlarang” bagi mereka sesudah ada ijin usaha yang diberikan kepada suatu perusahaan. Masyarakat yang paling dekat dengan sumber daya alam juga banyak tercatat sebagai kantong-kantong kemiskinan di Indonesia. Dari segi kesehatan, pembuangan limbah perusahaan dan industri banyak menimbulkan masalah kesehatan, seperti penyakit kulit dan potensi kanker, bagi masyarakat sekitar.</p>
<p><strong>Pertanyaan Etis terhadap Praktis Bisnis Sumber Daya Alam yang Keliru</strong></p>
<p>Menilik uraian di atas terkait praktik bisnis yang terbukti kerap menimbulkan berbagai akibat dan dampak lanjutan, pertanyaan kritisnya adalah apakah hal tersebut tepat dilakukan? Apakah dalam menjalankan bisnis hanya kepentingan ekonomi yang penting untuk dikejar sehingga aspek-aspek lain menjadi ”sah” untuk diabaikan? Apakah yang penting adalah aspek ekonomi semata? Kajian etislah yang bisa membantu kita untuk menelaah secara kritis hal tersebut. Di sini, cabang ilmu filsafat yang bisa membantu kita untuk melihat secara kritis persoalan tersebut adalah etika. Etika yang paling terkait dalam persoalan ini adalah etika bisnis.</p>
<p>Sudarminta (21 Desember 2011) menjelaskan bahwa etika bisnis merupakan bagian dari etika terapan. Etika terapan itu sendiri, seperti yang diuraikan Sudarminta (21 Desember 2011), merupakan cabang ilmu etika yang secara lebih praktis mengkaji masalah-masalah moral khusus untuk kemudian merumuskan nilai, prinsip dan norma khusus terkait yang bisa dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan moral dalam situasi kongkret. Etika terapan tersebut bersifat lintas disiplin. Salah satu dari jenis etika terapan adalah etika bisnis.</p>
<p>Apakah pengertian dari etika bisnis? Mengacu kembali pada Sudarminta (21 Desember 2011), etika bisnis merupakan etika khusus/terapan yang mengkaji persoalan etis dan moral dalam dunia bisnis. Dengan etika bisnis, dilakukan refleksi kritis tentang apa yang membuat tindakan, perilaku atau kebijakan tertentu dalam konteks bisnis dinilai baik atau buruk, benar atau salah secara moral (Sudarminta, 21 Desember 2011). Etika bisnis, menurut Sudarminta (21 Desember 2011), juga menyediakan kajian tentang prinsip atau kaidah-kaidah moral yang perlu diperhatikan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan bisnis.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan praktik bisnis yang kerap memicu konflik antara pengusaha dengan masyarakat, menimbulkan kerusakan lingkungan serta memiskinkan dan meminggirkan masyarakat dalam berbagai bentuk, apakah hal tersebut sudah dipandang baik dan benar jika dilihat dari pandangan etika bisnis? Beberapa pandangan dan praktik yang kerap ditemui dalam konteks dunia bisnis akan dikupas secara etis berikut ini disertai dengan refleksi melalui lontaran pertanyaan-pertanyaan kritis dan beberapa penjelasan terkait.</p>
<p>Pertama, seringkali ada pandangan bahwa dalam dunia bisnis yang dianggap penting adalah aspek ekonomi semata. Pandangan ini kemudian menjadi dasar pelaksanaan bisnis di lapangan sehingga aspek non-ekonomipun menjadi terpinggirkan. Pertanyaan kritisnya, benarkah pandangan tersebut di atas? Apakah yang penting hanyalah aspek ekonomi? Apakah aspek lain seperti sosial, budaya dan lingkungan menjadi nomor ke-sekian? Apakah pertumbuhan ekonomi (<em>growth</em>) tidak bisa disertai dengan perkembangan sosial dan terjaganya kelestarian lingkungan yang menjadi tempat usaha? Apakah pertumbuhan, perkembangan dan pembangunan berarti mengutamakan ekonomi dan menegasikan yang lain? Yang lebih sederhana dan praktis, apakah tidak ada kesadaran bahwa saat keresahan sosial meletus dan kerusakan lingkungan terjadi ini berarti bisnis sumber daya alam terkait menjadi tidak berkelanjutan?</p>
<p>Saat aspek ekonomi menjadi ”panglima”, aspek lainpun menjadi tidak signifikan. Beberapa kasus yang mencuat dan banyak mendapat sorotan tajam dari publik jelas menunjukkan ”eksistensi” pandangan tersebut. Kasus Mesuji, Bima dan masyarakat Amungme sekitar pertambangan <em>Freeport</em> di Papua merupakan contoh bahwa aspek sosial budaya seringkali terabaikan dalam praktik pengelolaan sumber daya alam. Masyarakat yang sudah lama tinggal di wilayah bisnis, bahkan yang sudah turun temurun secara adat ada di situ menjadi terabaikan hak-haknya. Masyarakat lokal/adat yang selama ini mengelola lahan dan memanfaatkan hasil hutan adatnya menjadi ”terlarang” masuk ke wilayah kelolanya. Dalam kasus di Bima, misalnya, Ketua Komnas HAM menilai telah terjadi pelanggaran HAM karena adanya kehilangan hak atas hidup masyarakat yaitu hak atas tanah, sumber daya alam dan lingkungan yang sehat (Kompas, 27 Desember 2011, hlm 1). Maka secara etis, perlu dilakukan refleksi apakah benar dalam rangka memberikan ijin atau konsesi kepada investor, maka sah untuk meminggirkan masyarakat? Bagaimana halnya dengan hak-hak masyarakat yang kemudian menjadi hilang seperti hak hidup, hak memiliki mata pencaharian, hak ekspresi budaya terkait lahan dan hutan misalnya? Apakah semua itu dipandang tidak bernilai dibandingkan hak untuk berusaha bagi investor atau pelaku bisnis?</p>
<p>Pandangan yang menekankan aspek ekonomi semata, seperti telah disinggung di atas, juga terbukti mendorong praktik bisnis yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Kerusakan lingkungan akibat kegiatan terkait seperti yang diakibatkan tambang-tambang di beberapa tempat di Kalimantan dan Papua, misalnya, lagi-lagi menjadi contoh nyata bahwa aspek lain selain ekonomi menjadi kerap terabaikan. Apakah lingkungan memang dipandang menjadi obyek untuk ”dikeruk” dan karenanya tidak perlu diperhatikan kepentingannya?</p>
<p>Kemudian, juga sering ditemui bahwa pihak yang dipandang penting dalam konteks pengusahaan sumber daya alam adalah pelaku bisnis dan pemerintah sebagai pengambil dan pengatur/regulator kebijakan. Pihak lain, seperti masyarakat sekitar wilayah usaha, kemudian hanya menjadi  ”pelengkap”, ”penonton”, bahkan ”korban” dari pandangan dan praktik tersebut. Kasus-kasus masyarakat adat yang terpinggirkan di beberapa tempat di Indonesia seperti telah disinggung di atas misalnya, merupakan contoh nyata dari pandangan dan praktik bisnis kalau pihak lain tidaklah penting dalam konteks bisnis. Apakah benar bahwa yang penting dalam bisnis hanya pengusaha dan ”penguasa” saja? Bagaimana halnya dengan pihak lain yang kepentingan dan yang haknya seringkali menjadi terabaikan karena praktik bisnis yang tidak tepat, seperti masyarakat adat/lokal?</p>
<p>Dalam praktik di lapangan juga kerap terlihat adanya ”kongkalingkong” antara pengusaha dan pemerintah yang dibantu oleh aparat. Saat pecah konflik antara pengusaha dengan masyarakat, aparat misalnya sering disinyalir ”lebih membela” kepentingan pengusaha. Beberapa contoh yang sering disebut adalah kasus Freeport, Bima dan Mesuji. Jika ini benar terjadi, apakah memang yang ”lebih berhak” didukung oleh pemerintah dan aparat adalah pengusaha? Bagaimana halnya dengan masyarakat?</p>
<p><strong>Sudut Pandang Etika Bisnis</strong></p>
<p>Beberapa ulasan terkait bermunculan untuk kemudian menunjukkan bagaimana seharusnya bisnis yang baik dan benar dijalankan. Pada praktik bisnis yang mengutamakan kepentingan ekonomi belaka dan menganggap pengusaha dan pihak tertentu saja sebagai yang utama menuai banyak kritik. Oleh Teichman misalnya, sikap tidak peduli pada yang lain merupakan penonjolan dari apa yang disebut sebagai ”ideologi ketamakan”, yang dilakukan oleh mereka yang berkuasa (Teichman, 1998, hlm181). ”Mereka yang berkuasa” bisa kita artikan di sini mencakup mereka yang memiliki kekuasaan dalam bentuk modal atau uang. Teichman (1998, hlm181) dalam hal ini menegaskan, ”Ideologi ketamakan membuat para penguasa agak buta pada fakta, bahkan ketika mereka yang diperintah justru kadang-kadang dapat melihat cahaya”.</p>
<p>Terkait hal ini, Sudarminta (21 Desember 2011) menjelaskan bahwa manusia bukan hanya mahluk ekonomi yang mengejar kepentingan diri sendiri dan keuntungan sebanyak-banyaknya. Ini secara langsung menunjukkan adanya sisi lain manusia yang perlu ditampilkan. Misalnya, manusia juga dikenal sebagai mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia tidak hidup sendiri, melainkan ada bersama mahluk sosial lainnya. Ini merupakan pandangan yang mendasar untuk kemudian dalam kerangka etika bisnis bisa memberikan orientasi bagaimana seharusnya pelaku bisnis bisa bertindak untuk tidak mengutamakan diri sendiri belaka dalam mengejar keuntungan ekonomi.</p>
<p>Praktik bisnis yang telah ditelaah di atas juga sangat bersentuhan dengan nilai keadilan. Apakah adil jika dalam konteks bisnis hanya pihak pemodal/investor yang mendapat tempat utama dan yang lain menjadi terpinggirkan? Apakah adil kebijakan dan praktik pengusahaan sumber daya alam yang meminggirkan masyarakat setempat beserta hak-haknya? Menurut Sudarminta (21 Desember 2011), bisnis dipandang etis salah satunya jika pelaku bisnis berlaku adil terhadap berbagai pihak terkait. Adil sangatlah penting di sini. Keadilan, menurut Magnis-Suseno (1987), merupakan salah satu dari prinsip moral dasar. Prinsip keadilan mengungkapkan kewajiban untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap semua orang lain yang berada dalam situasi yang sama dan untuk menghormati hak semua pihak terkait (Magnis-Suseno, 1987, hlm 132). Sejalan dengan hal ini, penulis lain, Teichman (1998) juga menegaskan arti penting keadilan:</p>
<p><em>”Keadilan harus ditegakkan atas dasar kaidah bahwa semua orang mempunyai hak-hak dasar dan kodrati yang sama. Jikalau tidak, keadilan yang dinamakan demikian ini, akan berpihak pada orang-orang kaya dan orang-orang kuat, dan paling jelek akan mendukung kepentingan sedikit orang yang memegang kekuasaan melawan banyak orang yang dikuasainya.” </em>(Teichman, 1998, hlm 43).<em></em></p>
<p>Lantas, apakah pengertian adil itu? Menurut Sudarminta (21 Desember 2011), ada beberapa pengertian adil yang bisa dikemukakan. Adil berarti memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi milik atau haknya. Seseorang juga disebut adil jika ia memperlakukan setiap orang secara sama, sederajat dan selaras sesuai dengan keluhuran martabatnya sebagai manusia. Seseorang yang adil juga memperlakukan secara <em>fair</em> orang lain berdasarkan jasa, kemampuan dan kebutuhannya. Kemudian, adil juga berarti kemampuan untuk membagi keuntungan dan biaya secara merata.</p>
<p>Dalam bisnis sumber daya alam, adil misalnya bisa diwujudkan dengan mengakui dan menghormati hak masyarakat lokal/adat baik hak ekonomi, sosial dan budaya. Adil juga menyiratkan pengakuan bahwa masyarakat adat juga memiliki andil atau <em>share</em> dalam usaha yang dijalankan. Pengusaha memiliki modal dan teknologi, masyarakat memiliki lahan atau kawasan kelola, tenaga, dan kearifan tradisional. Pengertian dan praktik seperti inilah yang perlu didorong untuk mewujudkan bisnis yang etis.</p>
<p>Hal lain yang juga dipandang penting dalam etika bisnis yang baik dan benar adalah pelibatan para pemangku kepentingan (<em>stakeholder</em>). Dalam konteks bisnis sumber daya alam, pemangku kepentingan bisnis tidak lagi hanya pengusaha, pengambil kebijakan dan konsumen. Masyarakat sekitar juga ditempatkan sebagai <em>stakeholder</em>. Penempatan masyarakat sebagai <em>stakeholder</em> bisa dilakukan dengan berbagai cara, misal melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan dalam tingkat tertentu, menghargai hak-hak masyarakat dan juga mendorong terlaksananya kewajiban-kewajiban yang muncul dari adanya hak tersebut.</p>
<p>Terkait aspek ekologis, selain terbukti menimbulkan akibat-akibat yang tidak diinginkan seperti kerusakan lingkungan, pemusatan pengusahaan sumber daya alam pada aspek ekonomi semata juga dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman dan tuntutan etika. Dalam sudut pandang pihak ”hijau” yang peduli pada lingkungan, misalnya, ditekankan pentingnya pertimbangan hasil-hasil sosial dan ekologis yang berjangka panjang dari keputusan-keputusan dan tindakan ekonomi (Teichman, 1998). Meminjam istilah Daniel Goleman yang dikutip oleh Budihardjo (17 September 2010), <em>ecological intelligence</em> menjadi penting dalam upaya menghindari ”kepandiran ekologis”.</p>
<p>Kemudian, ada lagi yang disebut sebagai konsep setiga pembangunan di mana ditekankan bahwa pembangunan haruslah memperhatikan tiga unsur secara seimbang, yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan (<em>profit, people and planet</em>). Secara etis kita bisa melihat bahwa penekanan pada tiga titik aspek pembangunan tersebut menunjukkan pandangan (yang diharapkan dilanjutkan dengan praktik di lapangan) bahwa ekonomi semata  tidaklah berarti dan berkelanjutan jika mengabaikan aspek sosial dan lingkungan.</p>
<p><strong>Beberapa Langkah Maju</strong></p>
<p>Kebijakan dan praktik bisnis yang lebih baik dan benarpun mulai terlihat dijalankan sesuai dengan semakin bergaungnya etika bisnis yang memberikan orientasi bagi para pelaku bisnis dan pengambil kebijakan. Kementrian Kehutanan misalnya telah mengeluarkan kebijakan yang dinilai cukup progresif. Kebijakan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dari Kementrian Kehutanan yang digulirkan sejak 2007, meski masih memiliki kelemahan, mengakui peran penting masyarakat setempat. Bahkan kesempatan pemanfaatan dan pengelolaan kawasan hutan negara disediakan kepada masyarakat setempat melalui skema Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa dan Hutan Tanaman Rakyat. Prinsip yang diutamakan adalah: ”hutan lestari dan masyarakat sejahtera”. Selain itu, Kementrian Kehutanan juga sedang menyusun draf peraturan mentri yang mengatur tentang pola-pola kemitraan antara pengusaha dan masyarakat sekitar yang lebih adil, proporsional dan memberdayakan.</p>
<p>Contoh lain yang bisa dikemukakan sebagai langkah maju pelaksanaan bisnis  yang etis adalah munculnya konsep <em>Corporate Social Responsibility</em> (CSR). Dalam pelaksanaannya, CSR mensyaratkan kewajiban perusahaan untuk menempatkan masyarakat sekitar sebagai subyek, memberikan dukungan program berkelanjutan dan menempatkan masyarakat sebagai <em>stakeholder</em> yang penting.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Sebagai catatan penutup, perlu ditegaskan kembali pentingnya peran etika bisnis dalam mendorong praktik bisnis sumber daya alam yang adil, baik dan berkelanjutan. Kuncinya adalah memadukan secara proporsional aspek ekonomi dengan aspek-aspek penting lain (sosial dan lingkungan) dan selalu menempatkan stakeholder, termasuk masyarakat lokal/adat, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pelaksanaan usaha ekonomi. Pelaksanaan bisnis yang beretika pada akhirnya tidak hanya membuat <em>image</em> perusahaan menjadi lebih baik, namun juga memastikan bisnis yang lebih berkelanjutan. Perkataan Gandhi yang dikutip oleh Teichman (1998, hlm 180) kiranya tepat menjadi pengingat kita semua, termasuk para pelaku bisnis, untuk selalu berlaku adil pada bumi dan isinya: ”Bumi menyediakan cukup untuk setiap kebutuhan manusia, tetapi tidak untuk setiap ketamakan manusia.”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudewi2000.wordpress.com/1589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudewi2000.wordpress.com/1589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudewi2000.wordpress.com/1589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudewi2000.wordpress.com/1589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudewi2000.wordpress.com/1589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudewi2000.wordpress.com/1589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudewi2000.wordpress.com/1589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudewi2000.wordpress.com/1589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudewi2000.wordpress.com/1589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudewi2000.wordpress.com/1589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudewi2000.wordpress.com/1589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudewi2000.wordpress.com/1589/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudewi2000.wordpress.com/1589/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudewi2000.wordpress.com/1589/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1589&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudewi2000.wordpress.com/2012/01/03/etika-bisnis-yang-baik-dan-benar-dalam-praktik-bisnis-sumber-daya-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f10701476c8ec5d4ec9ba6ac4d0446dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudewi2000</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Camar Pemberontak dan  Manusia Gua yang Terbebaskan</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2011/10/23/camar-pemberontak-dan-manusia-gua-yang-terbebaskan/</link>
		<comments>http://sudewi2000.wordpress.com/2011/10/23/camar-pemberontak-dan-manusia-gua-yang-terbebaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 03:02:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[Jonathan Livingston Seagull]]></category>
		<category><![CDATA[Richard Bach]]></category>
		<category><![CDATA[Swary Utami Dewi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudewi2000.wordpress.com/?p=1581</guid>
		<description><![CDATA[Ditulis di Jakarta, 4 Oktober 2011 Dalam fabel yang ditulis oleh Richard Bach, Jonathan Livingston Seagull: A Story (Great Britain: Harper Element, Third Edition, 2003), diceritakan tentang seekor camar yang sejak dini menjadi berbeda dari kelompoknya. Alih alih hanya terbang untuk mencari makan dan melakukan hal-hal lazim yang dilakukan turun temurun bagi mereka yang terlahir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1581&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ditulis di Jakarta, 4 Oktober 2011</p>
<p>Dalam fabel yang ditulis oleh Richard Bach, <em>Jonathan Livingston Seagull: A Story</em> (Great Britain: Harper Element, Third Edition, 2003<strong>)</strong>, diceritakan tentang seekor camar yang sejak dini menjadi berbeda dari kelompoknya. Alih alih hanya terbang untuk mencari makan dan melakukan hal-hal lazim yang dilakukan turun temurun bagi mereka yang terlahir sebagai camar, ia melakukan hal yang dipandang berbeda dan ”rebellious”, yaitu belajar terbang (<em>learn to fly</em>). Berbagai macam teknik terbang dan kebiasaan baru saat terbang yang tidak pernah dilakukan camar pada umumnya dipelajari dengan keras dan kemudian dipraktekkannya. Ia bahkan berani menghadapi resiko karena pilihannya tersebut: dibuang dari kelompoknya.</p>
<div id="attachment_1583" class="wp-caption alignleft" style="width: 430px"><a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2011/10/burung-garuda-pancasila-rumah-kita-1-juni-2011.jpg"><img class="size-full wp-image-1583" title="Burung Garuda Pancasila Rumah Kita 1 Juni 2011" src="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2011/10/burung-garuda-pancasila-rumah-kita-1-juni-2011.jpg?w=420&#038;h=315" alt="" width="420" height="315" /></a><p class="wp-caption-text">Burung Garuda dalam Event &quot;Pancasila Rumah Kita&quot;, Tribute to Franky S, TIM Jakarta, 1 Juni 2011</p></div>
<p><span id="more-1581"></span>Ketika berani mendobrak tradisi dan memutuskan untuk belajar terbang, Jonathanpun mendapat pencerahan dan menjadi camar yang berbeda dari camar lain pada umumnya. Saat belajar terbang itulah, Jonathan mendapatkan kesadaran tentang berbagai hal seperti pentingnya belajar, kunci dari keberhasilan belajar serta pentingnya berbagi saat apa yang telah dipelajari tersebut telah dikuasai.</p>
<p>Banyak pelajaran penting yang menarik dari novel tersebut. Pertama, pendidikan sangatlah penting dalam hidup. <em>”There’s so much to learn!” </em>(page 5). Si camar Jonathan menyadari bahwa hidup tidak hanya untuk makan, seperti yang selama ini dipercaya harus dilakukan oleh para camar. Baginya, tujuan hidup adalah untuk mencari dan mengembangkan kemampuan. Maka, belajarlah ia tentang hal-hal yang dianggap tidak lazim, bahkan terlarang, seperti berbagai macam cara terbang (misal terbang rendah, terbang cepat dan lambat, dan akrobatik dengan kecepatan tinggi), terbang di malam hari dan tidur di udara.</p>
<p>Jonathan juga bisa menemukan ada banyak alasan untuk hidup bagi seekor camar selain dari makan, berkelahi atau memperebutkan kekuasaan di kelompok (page 48). Saat belajar terbang dengan begitu keras, Jonathan mendapatkan pencerahan tentang makna dan tujuan hidup bagi dirinya. <em>“Instead of our drab slogging forth dan back to fishing boats, there’s a reason to life! We can lift ourselves out of ignorance, we can find ourselves as creatures of excellence and intelligence and skill. We can be free! We can learn to fly!” </em>(page 17). Daripada hanya bolak-balik ke perahu nelayan untuk berebut ikan, si camar unik ini menemukan alasan untuk hidup, yaitu untuk bebas dan belajar terbang.</p>
<p>Yang tidak kalah pentingnya, Jonathan berani mengambil resiko terhadap keputusannya untuk berbeda, yaitu belajar terbang <em>(learn to fly)</em>, meski untuk itu ia harus diusir dari kelompoknya oleh para tetua camar. Dalam hal ini terlihat, Jonathan memilih untuk berbeda dan melangkah maju serta menghadapi resiko dari pilihannya tersebut, dibandingkan tetap ada dalam kelompok yang masih terbelenggu oleh ketakutan dan batas-batas untuk belajar.</p>
<p>Dalam rangka belajarn kerap ditemui berbagai belenggu yang menghalangi. Karena itulah, Bach dalam bukunya ini menggarisbawahi pentingnya untuk lepas dari belenggu. Bahkan baginya, kunci untuk belajar dalam rangka mendapatkan kesempurnaan adalah dimulai dengan kesadaran untuk melepaskan diri dari belenggu. Dalam buku ini, Jonathan misalnya dianjurkan oleh sang Guru, Chiang, untuk berhenti melihat dirinya terperangkap dalam tubuh camar yang terbatas (page 53). Pentingnya membebaskan diri dari perangkap juga ditekankan Jonathan kepada muridnya: <em>”Everything that limits us  we have to put aside.”</em> (page 70). <em>“ Your whole body, &#8230;, is nothing more than your thought it self, in a form you can see. Break the chains of your thought, and you break the chains of your body, too…”</em> (page 71).</p>
<p>Jadi, di sini terlihat belenggu dan kebebasan adalah dua hal yang terkait. Saat belenggu berhasil dilepaskan, saat itulah kebebasan diperoleh untuk melakukan pembelajaran ke arah yang lebih baik. Jonathan menekankan bahwa camar bebas untuk memilih pergi ke manapun mereka suka dan bebas menjadi apapun yang diinginkan  <em>“We’are free to go where we wish and to be what we are,”</em> (page 71). Jonathan bahkan mengajarkan kepada para muridnya bahwa hukum yang sejati adalah hukum yang membawa mereka pada kebebasan. <em>“The only true law is that which leads to freedom&#8230; There is no other.”</em> (page 77).</p>
<p>Ide tentang pentingnya kebebasan juga ditekankan oleh Fletcher (murid Jonathan) kepada murid-muridnya, <em>” To begin with.. you’ve got to understand that a seagull is an unlimited idea  of freedom, an image of the Great Gull, and your whole body, from wingtip to wingtip, is nothing more than your though itself.”</em> (page 87). Jadi di sini ditekankan bahwa kebebasan adalah penting, meski ini kerap sulit dilakukan (page 84).</p>
<p>Kemampuan untuk membebaskan diri dari batasan dan belenggu ragawi dalam rangka mengejar kesempurnaan, bagi Jonathan, bisa dilakukan oleh siapapun. <em>”Look at Fletcher…Are they also special and gifted and divine? </em><em>No more than you are, no more than I am. The only difference, the very only one, is that they have begun to understand what they really are and have begun to practice it.” </em>(page 77). Di sini digarisbawahi bahwa satu-satunya yang membedakan mereka yang mampu belajar adalah mereka paham tentang hakikat diri dan mulai menjalankan apa yang dipahami. Apa yang kita percayai tidaklah penting. Yang esensial adalah mengerti dan memahami apa yang dipelajari, <em>”You didn’t need faith to fly, you needed to understand flying.”</em> (page 53).</p>
<p>Saat belajar, dijelaskan oleh Jonathan bahwa hal tertinggi untuk dipelajari, sekaligus yang tersulit, namun paling menyenangkan adalah untuk memahami hakikat kebaikan (kindness) dan cinta (love). Juga, ditemui pelajaran untuk memaafkan dan bahkan menolong pihak yang selama ini dianggap tidak paham dan menyakiti (page 59, 85). Cinta dan kebaikanlah yang membuat kita mampu memaafkan. <em>”You have to practice and see the real gull, the good in every one of them, and to help them see it in themselves. That’s what I mean by love..” </em>demikian penjelasan Jonathan kepada muridnya Fletcher Lynd (page 85).</p>
<p>Pelajaran menarik lain dalam bacaan ini adalah pentingnya belajar untuk mengajar, belajar untuk kemudian berbagi apa yang dipelajari kepada yang lain, meski yang lain pernah menyakiti, atau akan menolak dan mentertawakan.  Jonathan melakukan ini saat ia selesai berguru dengan Chiang. Hal ini juga dilanjutkan oleh sang murid, Fletcher Lynd.</p>
<p>Bagi yang pernah menyimak buah pikiran filsuf Yunani terkenal, Platon (<strong><em>ditulis dan dibaca Platon, bukan Plato</em></strong>), <em>the Republic book 7</em>, ada beberapa insight serupa dengan fabel Bach tersebut. Di dalamnya, secara singkat digambarkan tentang para manusia gua yang sejak kecil terbelenggu kaki dan lehernya, sehingga mereka tidak mampu bergerak dan hanya mampu melihat ke depan. Ada cahaya api yang menerangi gua samar-samar sehingga yang bisa dilihat oleh mereka hanyalah bayangan benda-benda belaka, termasuk bayangan diri mereka sendiri. Saat salah seorang manusia gua terlepas dari belenggunya, dipastikan banyak hal-hal baru yang dipelajarinya</p>
<p>Buah pikiran Platon dan Bach menyiratkan tentang pentingnya belajar dalam hidup.</p>
<p>Untuk belajar dan memahami sesuatu yang lebih baik, manusia perlu bebas dari berbagai perangkap, belenggu atau keterbatasan. Jonathan berhasil membebaskan diri dari tradisi lama para camar (terbang untuk mencari makan), juga tradisi sebagai seekor camar yang hanya terdiri dari bulu, daging dan tulang (perangkap ragawi). Saat ia bebas dari belenggu, ia bisa belajar menuju kesempurnaan. Hal ini juga ditunjukkan oleh Platon dalam cerita manusia guanya. Manusia gua yang bisa belajar melihat kenyataan yang sebenarnya &#8212; tidak hanya ilusi atau bayang-bayang&#8211; bahkan bisa melihat hakikat atau ide dari kenyataan itu, memulainya dengan membebaskan diri dari belenggu yang telah menjerat begitu lama.</p>
<p>Hal lain yang juga penting dalam kedua bacaan itu adalah keduanya menunjukkan adanya proses dalam perkembangan pemikiran. Si Jonathan memulainya dari proses melepaskan diri dari belenggu, kemudian berlanjut hingga tahap ke yang paling tinggi yaitu belajar mengenai hakikat cinta dan kebaikan (melalui kontemplasi kemudian  menjalankannya dengan cara berbagi pengetahuan kepada yang lain). Sementara itu, dalam cerita manusia gua, Platon menggambarkan proses perkembangan pemikiran yang dilalui si manusia gua yang terbebas melalui tahap belajar melihat kenyataan di luar bayangan, tahapan melihat melalui pantulan di air, melihat benda yang asli, sampai memahami hakikat dari benda tersebut.</p>
<p>Hal yang menarik lainnya serta menjadi benang merah dari kedua bacaan di atas adalah saat seseorang memutuskan untuk lepas dari belenggu dan memutuskan untuk belajar dan ”mengalami proses perkembangan pemikiran”, kesiapan menghadapi resiko, cemooh dan berbagai bentuk lainnya merupakan sesuatu yang harus ada dan menjadi bagian dari sikap berani berbeda tersebut.</p>
<p>Intinya, bisa dikatakan ketika manusia mampu membebaskan diri dan memutuskan untuk mengejar mimpi, saat itulah ia menemukan kebebasan sejati dan kemampuan melangkah untuk mendapatkan pencerahan dalam hidupnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudewi2000.wordpress.com/1581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudewi2000.wordpress.com/1581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudewi2000.wordpress.com/1581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudewi2000.wordpress.com/1581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudewi2000.wordpress.com/1581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudewi2000.wordpress.com/1581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudewi2000.wordpress.com/1581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudewi2000.wordpress.com/1581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudewi2000.wordpress.com/1581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudewi2000.wordpress.com/1581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudewi2000.wordpress.com/1581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudewi2000.wordpress.com/1581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudewi2000.wordpress.com/1581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudewi2000.wordpress.com/1581/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1581&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudewi2000.wordpress.com/2011/10/23/camar-pemberontak-dan-manusia-gua-yang-terbebaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f10701476c8ec5d4ec9ba6ac4d0446dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudewi2000</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2011/10/burung-garuda-pancasila-rumah-kita-1-juni-2011.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Burung Garuda Pancasila Rumah Kita 1 Juni 2011</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BEBERAPA PEMIKIRAN XENOPHANES DAN HERAKLEITOS (Disarikan 26 September 2011)</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2011/10/09/beberapa-pemikiran-xenophanes-dan-herakleitos-disarikan-26-september-2011/</link>
		<comments>http://sudewi2000.wordpress.com/2011/10/09/beberapa-pemikiran-xenophanes-dan-herakleitos-disarikan-26-september-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 16:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
				<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat Yunani]]></category>
		<category><![CDATA[Heraclitos]]></category>
		<category><![CDATA[Herakleitos]]></category>
		<category><![CDATA[Xenophanes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudewi2000.wordpress.com/?p=1579</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sejarah filsafat Yunani, ada beberapa filsuf yang dianggap penting. Dua di antaranya adalah Herakleitos dan Xenophanes. Xenophanes dari Colophon dipandang berkontribusi pada dua area pemikiran, yaitu teologi dan epistemologi. Dia adalah guru dari Parmenides. Selain sebagai filsuf, dia juga dikenal sebagai penyair. Xenophanes juga dikenal berani mengkritik Homeros dan Hesiodos, dua penyair Yunani yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1579&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sejarah filsafat Yunani, ada beberapa filsuf yang dianggap penting. Dua di antaranya adalah Herakleitos dan Xenophanes. Xenophanes dari Colophon dipandang berkontribusi pada dua area pemikiran, yaitu teologi dan epistemologi. Dia adalah guru dari Parmenides. Selain sebagai filsuf, dia juga dikenal sebagai penyair. Xenophanes juga dikenal berani mengkritik Homeros dan Hesiodos, dua penyair Yunani yang sangat terkenal pada masanya.</p>
<p>Sementara itu, Herakleitos adalah seorang filsuf yang hidup pada tahun 550-480 SM. Walau tidak banyak data yang menggambarkan kehidupan filsuf ini, dia tercatat hidup di Efesus, sebuah kota penting di Pantai Ionia, Asia kecil. Dia dikenal sebagai Si Gelap karena perkataannya yang sukar dipahami. Namun demikian, dia dipandang sebagai filsuf penting dalam sejarah filsafat Yunani, setelah Parmenides.</p>
<p>Berikut ini adalah intisari dari dua filsuf dari masa prasokratik tersebut yang disarikan dari beberapa bab buku <em>The </em><em>Presocratics</em> karya James Warren (Stocksfield: Acumen, 2007).</p>
<p><span id="more-1579"></span></p>
<p align="center"><strong>XENOPHANES</strong></p>
<p>Gods and men (Tuhan dan manusia)</p>
<p>Xenophanes memulai telaahan teologisnya dengan memperlihatkan bahwa penggambaran Tuhan berbeda dari suatu budaya ke budaya lain. Misalnya, orang Ethiopia mengatakan Tuhan berhidung pesek dan berambut hitam; Sementara bagi orang Thracia, Tuhan bermuka pucat dan  berambut merah. Bisa jadi kita melihatnya sbg argumen relativis, namun Xenophanes tidak bermaksud demikian. Menurut Xenophanes, jika ditanya kepada orang Yunani maupun Scythia, keduanya pasti akan menjawab berbeda tentang gambaran Tuhan-nya. Dan, bagi Xenophanes, kedua jawaban tersebut benar.</p>
<p>Penggambaran yang berbeda mengenai Tuhan dari suatu masyarakat ke masyarakat lainnya membuat sebagian orang berpandangan bahwa Tuhan tidak lain selain dari konstruksi manusia itu sendiri. Selain itu, perbedaan ras dan budaya juga akan berpengaruh pada gambaran Tuhan. Walaupun sepakat dengan pandangan bahwa Tuhan digambarkan berbeda pada budaya yang berbeda, Xenophanes tidak berpandangan skeptis tentang keberadaan Tuhan, tentang apakah Tuhan itu ada atau tidak. Perhatiannya adalah pada telaahan tentang gambaran Tuhan.</p>
<p>Hal selanjutnya yang perlu dilihat adalah pandangan Xenophanes terhadap sikap chauvinistik. Saat Tuhan digambarkan berbeda oleh masyarakat dan budaya yang berbeda, bisa jadi dari semua tampilan tersebut, mungkin hanya satu yang benar, atau bahkan tidak ada satupun yang benar. Namun yang kerap muncul adalah masing-masing merasa, dialah yang paling benar. Di sinilah kemudian pandangan chauvinistik Yunani mencuat karena merasa penggambaran dewa-dewa merekalah yang paling benar. Kritik Xenophanes terhadap klaim superioritas tersebut terlihat dari komentarnya berikut:</p>
<p><em>“But if oxen, horses, or lions had hands or could draw with their hands and create works as men do, then horses would draw images of gods just like horses, and oxen images just like oxen and they would make the bodies of the gods like those they themselves had”. </em>(halaman 43, dikutip Warren dari DK 21 B15)</p>
<p>Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut: <em>“Namun andaikan sapi, kuda atau singa memiliki tangan atau bisa menggambar dengan tangannya dan menciptakan karya seperti halnya manusia, maka kuda akan menggambarkan tampilan dewa-dewa seperti kuda, dan sapi akan menggambarkannya seperti halnya sapi serta mereka akan menciptakan tubuh para dewa seperti yang mereka miliki.”</em></p>
<p>Sikap chauvinistik bisa saja terjadi pada masyarakat manapun. Masing-masing bisa merasa penggambaran Tuhan-nyalah yang paling benar. Jika ini terjadi dan semua merasa paling benar, lantas siapakah yang kemudian bisa bertindak sebagai penentu tentang penggambaran Tuhan yang paling benar? Orang Yunani merasa merekalah yang paling bisa memutuskan, dan ini tentu saja sesuai pandangan mereka. Demikian pula halnya masyarakat lain.</p>
<p>Bagaimana kita bisa menelaah lebih lanjut terhadap perdebatan tersebut di atas? Di sini, ada tiga opsi yang bisa diambil. Pertama, jika masing-masing tetap merasa paling benar dan menolak pandangan yang lain didasarkan pertimbangan superioritas, maka apa yang mendasari klaim superioritas tersebut bisa ditelaah. Kedua, jika masing-masing merasa bahwa perdebatan tentang siapa yang paling benar tidak akan berujung, maka inilah saat yang tepat untuk memikirkan bahwa pertanyaan tentang gambaran Tuhan tidak bisa terpecahkan. Jika ini terjadi, seharusnya mereka mengabaikan semua kepercayaan terdahulu dan melangkah pada tahap meragukan.</p>
<p>Opsi ketiga, diputuskan bahwa yang paling masuk akal adalah untuk mengakui tidak ada satupun pandangan terdahulu yang benar. Oleh sebab itu, sebaiknya dilakukan telaahan baru tentang penggambaran Tuhan dengan syarat: menanggalkan pandangan yang selama ini diwarnai oleh latar budaya. Opsi ketiga inilah yang dijalankan Xenophanes. Dia menekankan perlunya melanjutkan telaahan terkait pandangan tentang gambaran Tuhan yang berbeda-beda, untuk kemudian menawarkan kesimpulan yang bisa dibuktikan atau paling tidak, yang masuk akal.</p>
<p>Teologi positif Xenophanes didasarkan pada dua premis. Premis tersebut tidak tertulis eksplisit, tapi secara tersirat bisa dipahami. Premis pertama, Xenophanes yakin bahwa Tuhan ada. Itulah yang kemudian mendorongnya  melakukan telaahan untuk melihat seperti apakah Tuhan itu. Penampakan atau penggambaran Tuhan (<em>the gods’ appearence</em>) inilah yang menjadi kajian pertamanya.</p>
<p>Premis kedua, tersirat dalam ungkapan Xenophanes terkait uraian Homer dan Hesiod tentang Dewa-dewa Yunani, ”<em>Homer and Hesiod attributed to the gods all those things which bring criticism and censure among humans: theft, adultery and deceiving one another.</em>” (halaman 46, dikutip Warren dari DK 21 B11). Tingkah laku para dewa inilah yang selanjutnya menjadi kajian Xenophanes. Baginya, para dewa yang dipandang superior dibandingkan manusia, seharusnya tidak bertingkah laku seperti yang banyak diuraikan Homer dan Hesiod. Standar tingkah laku para dewa seharusnya lebih tinggi dan lebih baik dari manusia karena klaim superioritas tersebut. Adalah ganjil jika dewa digambarkan sebagai kaum yang melakukan: pencurian, perzinahan dan saling membohongi.</p>
<p>Sebagai gantinya, Xenophanes memiliki gambaran tersendiri tentang Tuhan. Baginya, ada satu Tuhan yang ter-Maha, yang melampaui para dewa dan manusia, memiliki tubuh dan fikiran yang berbeda (lihat DK 21 B23). Tuhan melihat, berfikir dan mendengar, tidak seperti halnya manusia Ini menunjukkan kritik Xenophanes terhadap para dewa versi Homer dan Hesiod. Menurutnya, Tuhan seharusnya tidak berfikir seperti manusia, tidak memiliki ambisi, kedengkian dan sebagainya, tidak bertikai seperti layaknya manusia (penjelasan dari DK 21 B24).</p>
<p>Namun saat Xenophanes mengatakan “one god”, ada pertanyaan di sini. Ada fragmen di mana dia menyebut “gods”, tapi ada juga “a single god”. Ini bisa menimbulkan pertanyaan apakah Xenophanes adalah seorang monoteis, politeis atau dia hanya tidak konsisten atau ceroboh. Menanggapi hal ini, ada penegasan bahwa tidak ada alasan Xenophanes untuk melepaskan ide tentang pluralitas Tuhan, meskipun dia berfokus pada satu Tuhan yang utama (lihat halaman 48, paragraph 2).</p>
<p>Enquiry and belief (telaahan dan kepercayaaan)</p>
<p>Telah diketahui, bahwa Xenophanes tidak memandang semua kepercayaan manusia dapat diandalkan. Kepercayaan teologis, khususnya, sangat dipengaruhi konteks lingkungan dan budaya. Kepercayaan manusia memiliki batas. Ini diperlihatkan Xenophanes dalam sejumlah fragmennya. Fragmen terpanjang yang menunjukkan keterbatasan manusia dalam merengkuh pengetahuan ada di fragmen B34:</p>
<p>“<em>No man has seen what is clear, nor will there be anyone who knows about the gods and all the things I say about everything. For if someone should happen to say precisely what is the case, still he would himself not know. Rather, belief covers everything</em>.” (halaman 50, dikutip Warren dari DK 21 B34)</p>
<p>Dalam kalimat pertama, Xenophanes bermaksud menyatakan tidak seorangpun akan bisa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya tentang Tuhan dan segala sesuatu. Namun, dia melanjutkan, meski seseorang mendapatkan kebenaran, orang tersebut tidak akan tahu. bahwa dia telah melakukannya.</p>
<p>Untuk kalimat kedua ini, ada dua tafsir yang bisa dilakukan. Tafsir pertama adalah dengan membaca yang tersirat (<em>internalist reading</em>) dan kedua dengan tafsir eskternalis. Namun, yang manapun dipilih, kita selalu ditawarkan pada dua hal yang berlawanan: kepercayaan atau spekulasi (<em>dokos</em>) dan pengetahuan tentang apa yang jelas dan benar (<em>to saphes</em>). Bagi Xenophanes, memiliki kepercayaan yang benar saja tidaklah cukup karena selanjutnya kita perlu mempertimbangkan bagaimana menjustifikasi bahwa kepercayaan tersebut memang benar.</p>
<p>Tema epistemologis juga terlihat pada fragmen berikut: “<em>Indeed, the gods did not show everything to mortals from the beginning, but in time, by searching, they discover better</em>” (halaman 52 paragraf 2, dikutip Warren dari DK 21 B18). Di sini, Xenophanes menekankan bahwa kemajuan dan penemukenalan (<em>progress and discovery</em>) adalah mungkin. Yang diperlukan manusia adalah lebih banyak mengkaji/ menelaah. Dan apabila ini dilakukan dengan tepat, pada waktunya kemajuanlah yang akan dicapai. Namun sayang, Xenophanes tidak menguraikan bagaimana cara kita melakukan telaahan tersebut dan penemukenalan apa yang akan diperoleh.</p>
<p>Pesan lain yang bisa diambil dari fragmen DK 21 B18 adalah kita tidak bisa mengharapkan begitu saja bahwa Tuhan akan memberikan kita jawaban. Diri manusialah yang harus melakukan penelaahan kritis. Sejauh yang kita bisa katakan, penemukenalan apapun adalah hasil sepenuhnya dari usaha manusia.</p>
<p align="center"><strong>HERAKLEITOS</strong></p>
<p>Serupa dengan Xenophanes, Herakleitos memiliki ketertarikan tentang moralitas dan teologi. Dia juga memiliki perhatian tentang cara yang tepat untuk memahami  pengetahuan, kebijaksanaan dan keahlian. Namun ada beberapa hal yang membuat pemikiran Herakleitos berbeda dari Xenophanes maupun pemikir lainnya. Fragmen-fragmennya, ketika dipadukan dan ditafsirkan secara menyeluruh, akan memperlihatkan tidak hanya pandangan tentang semesta, melainkan pula pandangan tentang letak manusia di dunia. Dan yang terpenting lagi, akan terlihat pendapat Herakleitos tentang bagaimana seharusnya manusia berfikir tentang dirinya dalam kaitannya dengan dunia yang ditempati manusia. Tidak bisa dipungkiri, meski memiliki cara pengungkapan pikiran yang berbeda, dia merupakan salah satu filsuf berpengaruh dari zamannya dan menjadi acuan banyak filsuf sesudahnya.</p>
<p>Mungkin tepat kiranya jika dikatakan fragmen-fragmen peninggalan Herakleitos sebagai <em>oracle</em> yang mengandung teka-teki dan tidak mudah dipahami. Fragmen-fragmennya sangat pendek, umumnya berupa pernyataan satu atau dua kalimat. Pernyataannya bersifat ambigu dan tidak simpel. Diakui, sangatlah sulit untuk mengkaji fragmen tersebut dan mengkonstruksikan sebagai suatu “<em>Heraclitean Philosophy</em>” yang jelas dan konsisten. Kerap dibutuhkan interpretasi yang cermat dan kadang-kadang tambahan signifikan untuk menghasilkan pikiran utuh yang memuaskan.</p>
<p>Pernyataan yang bersifat ambigu dan sering membingungkan dari Herakleitos bisa jadi dimaksudkan agar pembaca terpicu untuk berfikir lebih jauh. Nampaknya bagi Herakleitos sangat penting untuk membuat pembaca memiliki pemahaman tersendiri atas fragmennya dibandingkan menerima begitu saja pandangannya dalam fragmen tersebut. Yang membaca dipicu untuk memiliki dorongan diri (<em>self-driven</em>) untuk menggali dan mempertanyakan fragmen-fragmennya.</p>
<p>The opening (pembukaan)</p>
<p>Berikut merupakan merupakan salah satu fragmen terpanjang dan berfungsi sebagai pengingat dari filosofi Herakleitos:</p>
<p><em>This logos being the case always men fail to understand (axunetoi), both before they hear and when first they have heard it. For, although all things come to be according to this logos, they seem to be unaware as they try out both the words and deeds of the sort that I set out by distinguishing each thing according to nature and saying how it is. Other men do not pay attention to what they do when awake, just as they do not pay attention to what they do when asleep.</em> (dikutip Warren dari DK 22 B1)</p>
<p>Di sini Herakleitos mulai dengan  menjelaskan kenapa kita gagal memahami kebenaran. Pada saat yang sama, dia mengajak pembaca untuk menelaah lebih jauh pernyataan yang diajukannya. Sebagai contoh, lihatlah kata <em>logos</em> yang ada di fragmen tersebut. <em>Logos</em> bisa dipakai hanya sebagai satu kata tunggal, dipakai dalam pernyataan, ataupun dalam penggunaan linguistik lain yang panjang (misal dalam argumen atau cerita). Dalam bahasa Yunani, <em>logos</em> memiliki banyak makna. Ia bisa bermakna pemikiran, evaluasi, relasi atau rasio.</p>
<p>Dalam fragmen di atas, karena diletakkan di bagian awal kalimat, <em>logos </em>bisa berarti <em>apa yang akan Anda baca</em>. Namun saat melangkah lebih jauh meneliti kalimat tersebut, muncullah hal yang lebih rumit. Saat ditemui kata <em>“always”</em> (selalu) dalam kalimat yang sama, timbullah ambiguitas. Apakah “<em>always</em>” di sini menjelaskan kata yang mendahuluinya (yaitu“<em>the case</em>”) ataukah kata sesudahnya (yaitu “<em>men always fail to understand</em>”), atau bahkah menjelaskan keduanya? Perlu pemikiran mendalam untuk memahami bahwa yang mungkin dimaksud adalah “<em>logos is always the case”</em>. Karenanya, logos di sini bisa bermakna “<em>the subject matter of his description, not just the description it self</em>” (lihat halaman 61).</p>
<p>Selain itu, untuk memahami maksud <em>logos</em> di sini, bisa juga kita melihat pernyataan lain yang memuat kata tersebut. Dalam DK 22 B50, tertulis: “<em>Listening not to me but to logos, it is wise to agree (homologein) that all things are one</em>.” Jika dikaitkan, di sini nampaknya kita diajak untuk memisahkan <em>logos</em> dari isi karya (<em>content</em>) yang telah dinyatakan Herakleitos (lihat halaman 62: <em>“to separate the logos from the precise content of what Heraclitus is saying”</em>). Sebagai gantinya, kitalah yang harus berfikir sendiri dan mencoba menyimak langsung <em>logos</em> tersebut.</p>
<p>Hal di atas menunjukkan tidaklah mudah untuk memahami fragmen Herakleitos. Lebih dari itu, yang perlu dicatat di sini, dia melalui <em>logos</em>-nya mendorong kita untuk sadar dan berfikir sendiri, tidak hanya terpaku pada teks yang ada. Dengan kata lain, dia mengajak pembacanya untuk menjadi sadar dan berpikir lebih luas tentang dunia sekitarnya.</p>
<p>Cosmology and fire (kosmologi dan api)</p>
<p>Seperti halnya beberapa pendahulunya, Herakleitos tertarik dengan alam semesta. Jika Thales berpendapat segala sesuatu berasal dari air, maka dia berpendapat bahwa kosmos berasal dari api. Ini erat kaitannya dengan logos B50 yang berbunyi: “<em>all things are one</em>”. Di sini kita bisa memahami saat mengatakan segala sesuatu berasal dari satu sumber (<em>monism</em>), Herakleitos mengacu pada api sebagai sumber materi tersebut.</p>
<p>Mengapa dalam kosmologi Herakleitos, api memainkan peran terpenting? Apa yang menyebabkan dia terpesona pada api? Ada beberapa bukti yang menunjukkan Herakleitos mengaitkan api dengan kemampuan dan peran untuk mengatur dan memerintah (<em>governing capacity, directive role, regulatory role</em>). Dalam DK 22 B64 dikatakan: “<em>All things the thunderbolt steers</em>”. Baginya, pijar apilah yang mengatur semua.</p>
<p>Selain itu, Herakleitos memandang api memiliki sifat dinamis, perlu diberi <em>umpan</em> atau bahan bakar, dan mampu menghasilkan perubahan yang menakjubkan dalam mengubah bahan bakar menjadi panas cahaya. Sifat-sifat api ini sesuai dengan Herakleitos yang memiliki ketertarikan pada perubahan dan transformasi (<em>change and transformation</em>).</p>
<p>Opposition and unity (pertentangan dan kesatuan)</p>
<p>Herakleitos juga tertarik pada pertentangan dan kesatuan. Perhatiannya adalah pada kesatuan yang dihasilkan dari pertentangan yang nampak. Contoh mengenai hal ini bisa dilihat dari DK 22 B61: <em>“Sea: purest and foulest water; for fish drinkable and nourishing, for humans undrinkable and deadly</em>.” Di sini, laut dilihat sebagai yang paling suci dan paling kotor (<em>purest and foulest</em>). Saat mengatakan dua hal tersebut, dia menunjukkan pertentangan sifat laut. Satu sisi, laut bisa menyelamatkan kehidupan, dan di saat yang sama mampu menghancurkan kehidupan. Namun kedua hal tersebut menyatu dan ditemui di laut. Beberapa contoh lain yang juga menunjukkan pertentangan dan penyatuan adalah: siang dan malam, musim dingin dan panas, perang dan damai, serta lapar dan kenyang.</p>
<p>Rivers (sungai)</p>
<p>Ketika berbicara tentang sungai, ungkapan Herakleitos yang terkenal terkait dengan ”stepping into a river”. Beberapa contoh fragmennya adalah: ”<em>It is not possible, according to Heraclitus, to step twice into the same river</em>” (DK 22 B91); ”<em>Into the same rivers we both step and do not step; we both are and are not</em>” (DK 22 B49a); “<em>On those stepping into the same rivers different and then different waters flow</em>” (DK 22 B12).</p>
<p>Dari ide sungai inilah kemudian muncul slogan yang selalu dikaitkan dengan pemikiran Herakleitos, yaitu <em>panta rhei</em>: segala sesuatu mengalir (“<em>everything flows</em>”). Dengan menggunakan perumpamaan sungai, dia ingin kita memahami bahwa segala sesuatu mengalir seperti air dan mengalami perubahan yang terus menerus (<em>flux</em>).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudewi2000.wordpress.com/1579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudewi2000.wordpress.com/1579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudewi2000.wordpress.com/1579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudewi2000.wordpress.com/1579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudewi2000.wordpress.com/1579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudewi2000.wordpress.com/1579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudewi2000.wordpress.com/1579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudewi2000.wordpress.com/1579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudewi2000.wordpress.com/1579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudewi2000.wordpress.com/1579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudewi2000.wordpress.com/1579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudewi2000.wordpress.com/1579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudewi2000.wordpress.com/1579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudewi2000.wordpress.com/1579/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1579&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudewi2000.wordpress.com/2011/10/09/beberapa-pemikiran-xenophanes-dan-herakleitos-disarikan-26-september-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f10701476c8ec5d4ec9ba6ac4d0446dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudewi2000</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perubahan Iklim: Kaum Muda Bisa Berbuat</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2011/01/23/perubahan-iklim-kaum-muda-bisa-berbuat/</link>
		<comments>http://sudewi2000.wordpress.com/2011/01/23/perubahan-iklim-kaum-muda-bisa-berbuat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Jan 2011 13:09:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
				<category><![CDATA[Climate Change and Environment]]></category>
		<category><![CDATA[Al Gore]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Change]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Swary Utami Dewi]]></category>
		<category><![CDATA[The Climate Project]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudewi2000.wordpress.com/?p=1570</guid>
		<description><![CDATA[Sejak 1990-an, pembicaraan mengenai sebab dan dampak perubahan iklim mulai dibicarakan. Isu ini telah mendunia dan mendapat perhatian khusus di mana-mana. Ini dilakukan karena ternyata perubahan iklim bukan lagi merupakan “berita” saja. Dampaknya sudah mulai terasa. Dalam konteks Indonesia misalnya, di beberapa tempat seperti Kalimantan Selatan sepanjang tahun 2010 tercatat hujan turun sepanjang tahun, sehingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1570&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Sejak 1990-an, pembicaraan mengenai sebab dan dampak perubahan iklim mulai dibicarakan. Isu ini telah mendunia dan mendapat perhatian khusus di mana-mana. Ini dilakukan karena ternyata perubahan iklim bukan lagi merupakan “berita” saja. Dampaknya sudah mulai terasa. Dalam konteks Indonesia misalnya, di beberapa tempat seperti Kalimantan Selatan sepanjang tahun 2010 tercatat hujan turun sepanjang tahun, sehingga “musim kemaraupun” disebut sebagai kemarau basah karena hujan selalu turun.</p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_1571" class="wp-caption alignleft" style="width: 430px"><a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2011/01/foto-tcp-bersama-al-gore-jan-2011.jpg"><img class="size-full wp-image-1571" title="Foto TCP bersama Al Gore Jan 2011" src="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2011/01/foto-tcp-bersama-al-gore-jan-2011.jpg?w=420&#038;h=279" alt="" width="420" height="279" /></a><p class="wp-caption-text">Foto presenter dari The Climate Project bersama Al Gore, 9 Januari 2011</p></div>
<p><span id="more-1570"></span> Menyadari tentang bahaya perubahan iklim bagi manusia dan bumi, penyadaran tentang perubahan iklimpun semakin digalakkan. Kesadaran tentang dampak perubahan iklim mulai terjadi di mana-mana. Penyadaran, kebijakan maupun tindakan untuk mencegah atau meminimalisir penyebab (mitigasi) maupun untuk antisipasi dampak mulai dilakukan. Hal ini didorong oleh pemerintah maupun komunitas. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan,misalnya, menggalakkan Gerakan Penanaman Satu Milyar Pohon di seluruh Indonesia, sementara Pemda DKI mulai memikirkan sarana transportasi yang lebih ramah lingkungan. <span> </span>Di tempat lain, komunitas juga bergerak. Di Dusun Teluk Lombok di Taman Nasional Kutai (Kalimantan Timur), misalnya, dalam beberapa tahun terakhir masyarakatnya sudah melakukan penanaman bakau mandiri di sekitar wilayahnya.</p>
<p class="MsoNormal">Akan halnya kaum muda, mereka juga selayaknya dapat berkontribusi baik dalam melakukan mitigasi maupun antisipasi dampak perubahan iklim. Khususnya dalam menahan laju perubahan iklim, beberapa hal sederhana dapat dilakukan oleh kaum muda, dimulai dari diri dan lingkungan sendiri. Hal yang paling mudah misalnya, menjalani gaya hidup pro-lingkungan seperti mengurangi pemakaian kendaraan yang mengeluarkan emisi gas rumah kaca, mengurangi pemakaian listrik dan air dan mengurangi sampah pribadi. Dalam lingkup kerja dan komunitas, kaum muda juga bisa menjadi inisiator dan pendorong perubahan misalnya mendorong komunitas bersepeda ke kantor, pengurangan pemakaian kertas, pemisahan sampai berdasarkan jenisnya dan penggalakan penanaman pohon.</p>
<p class="MsoNormal">Pendek kata, banyak hal yang bisa dilakukan oleh kaum muda, dimulai dari diri dan lingkungannya. Tidak ada kata tidak bisa dan terlambat untuk berbuat kebaikan bagi diri sendiri dan bumi ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudewi2000.wordpress.com/1570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudewi2000.wordpress.com/1570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudewi2000.wordpress.com/1570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudewi2000.wordpress.com/1570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudewi2000.wordpress.com/1570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudewi2000.wordpress.com/1570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudewi2000.wordpress.com/1570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudewi2000.wordpress.com/1570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudewi2000.wordpress.com/1570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudewi2000.wordpress.com/1570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudewi2000.wordpress.com/1570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudewi2000.wordpress.com/1570/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudewi2000.wordpress.com/1570/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudewi2000.wordpress.com/1570/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1570&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudewi2000.wordpress.com/2011/01/23/perubahan-iklim-kaum-muda-bisa-berbuat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f10701476c8ec5d4ec9ba6ac4d0446dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudewi2000</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2011/01/foto-tcp-bersama-al-gore-jan-2011.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Foto TCP bersama Al Gore Jan 2011</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengembalikan Yang Hilang Sesaat</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/11/27/mengembalikan-yang-hilang-sesaat/</link>
		<comments>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/11/27/mengembalikan-yang-hilang-sesaat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Nov 2010 08:03:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery of Pictures]]></category>
		<category><![CDATA[My Self]]></category>
		<category><![CDATA[Swary Utami Dewi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudewi2000.wordpress.com/?p=1565</guid>
		<description><![CDATA[Banjarbaru, 26 November 2010 Saat bangun tidur, tiba-tiba aku merasa kehilangan sesuatu, gak tahu apa itu. Serasa ada yang nelangsa di hati. Bangun tidur, serasa ada yang tercerabut. Jika sesuatu yang selama ini kita anggap ada dan tiba-tiba kita merasa kehilangan sesuatu “itu”, apa yang menyebabkan? Jangankan tahu penyebab. “Sesuatu” itu saja tidak kuketahui. Untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1565&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Banjarbaru, 26 November 2010</p>
<p class="MsoNormal">Saat bangun tidur, tiba-tiba aku merasa kehilangan sesuatu, gak tahu apa itu. Serasa ada yang nelangsa di hati. Bangun tidur, serasa ada yang tercerabut. Jika sesuatu yang selama ini kita anggap ada dan tiba-tiba kita merasa kehilangan sesuatu “itu”, apa yang menyebabkan? Jangankan tahu penyebab. “Sesuatu” itu saja tidak kuketahui.</p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_1566" class="wp-caption alignleft" style="width: 430px"><a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/11/p1350803.jpg"><img class="size-full wp-image-1566" title="P1350803" src="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/11/p1350803.jpg?w=420&#038;h=315" alt="" width="420" height="315" /></a><p class="wp-caption-text">Anggrek Bulan Silang (Foto: Swary Utami Dewi, November 2010)</p></div>
<p><span id="more-1565"></span>Untuk menghilangkan rasa kehilangan itu, aku mencoba ke kebun kecil di depan dan samping rumah. Memotret anggrek yang sedang bermekaran November ini. Nelangsa itu perlahan menguap saat matahari pagi menemaniku mengambil gambar anggrek bulan, macan sulawesi dan dendrum. Terkadang aku harus menahan nafas saat jariku menekan tombol kamera, dengan maksud agar gambar yang dihasilkan bisa terang dan tidak “blur”. Konsentrasi memotret anggrek membuat berkeringat. Juga melatih pengaturan ambil-hembus nafas dan kesabaran.</p>
<p class="MsoNormal">Saat aku memilah gambar anggrek tersebut di laptopku, aku merasa mendapatkan rasa bahagia itu lagi. Mulai bisa menata hati lebih baik. Nelangsa itu telah berubah menjadi rasa bahagia yang selama ini kurasa.Ternyata melakukan sesuatu yang berbeda di pagi hari, bisa memecah rasa kehilangan dan menarik kembali rasa bahagia di hati.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudewi2000.wordpress.com/1565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudewi2000.wordpress.com/1565/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudewi2000.wordpress.com/1565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudewi2000.wordpress.com/1565/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudewi2000.wordpress.com/1565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudewi2000.wordpress.com/1565/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudewi2000.wordpress.com/1565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudewi2000.wordpress.com/1565/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudewi2000.wordpress.com/1565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudewi2000.wordpress.com/1565/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudewi2000.wordpress.com/1565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudewi2000.wordpress.com/1565/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudewi2000.wordpress.com/1565/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudewi2000.wordpress.com/1565/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1565&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/11/27/mengembalikan-yang-hilang-sesaat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f10701476c8ec5d4ec9ba6ac4d0446dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudewi2000</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/11/p1350803.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">P1350803</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kembali Bahagia</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/11/27/kembali-bahagia/</link>
		<comments>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/11/27/kembali-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Nov 2010 07:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Self]]></category>
		<category><![CDATA[Swary Utami Dewi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudewi2000.wordpress.com/?p=1562</guid>
		<description><![CDATA[Makassar, 20 Juli 2010 It’s a little bit funny. This feeling inside. Itulah cuplikan lagu “Your Song” dari Elton John. Sesudah beberapa minggu, inilah pertama kalinya aku merasa begitu bahagia. Berkumpul lagi dengan teman-teman. Meski aku hampir tidak tidur semalam sesudah landing lewat tengah malam di Hasanuddin, aku merasa tidak sabar menanti pagi. Melongok masuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1562&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Makassar, 20 Juli 2010</p>
<p class="MsoNormal">It’s a little bit funny. This feeling inside. Itulah cuplikan lagu “Your Song” dari Elton John. Sesudah beberapa minggu, inilah pertama kalinya aku merasa begitu bahagia. Berkumpul lagi dengan teman-teman. Meski aku hampir tidak tidur semalam sesudah landing lewat tengah malam di Hasanuddin, aku merasa tidak sabar menanti pagi.</p>
<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_1563" class="wp-caption alignleft" style="width: 430px"><a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/11/tami-in-brussels-june-2008.jpg"><img class="size-full wp-image-1563" title="Tami in Brussels, June 2008" src="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/11/tami-in-brussels-june-2008.jpg?w=420&#038;h=315" alt="" width="420" height="315" /></a><p class="wp-caption-text">Tami di Brussels (Belgia), Juni 2008</p></div>
<p><span id="more-1562"></span>Melongok masuk ke tempat sarapan hotel tempatku menginap di Makassar, aku terpekik mendapat seorang teman lama dari FISIP UI. Hampir 20 tahun tidak bertemu, tiba-tiba ia hadir di depan mata. Dan teman lamanku ini masih mengenalku dengan baik. Ngobrol sana sini termasuk membicarakan beberapa teman lama, waktu berlalu tidak terasa.</p>
<p class="MsoNormal">Saat aku masuk ke ruang seminar dan lokakarya yang diselenggarakan hari ini, 20 Juli 2010 oleh universitas kenamaan di Makassar, aku kemudian merasa begitu bahagia bertemu dengan teman-teman yang bergerak banyak di isu kehutanan. Dari Dephut, LSM, akademisi dan sebagainya. Semua berbaur.</p>
<p class="MsoNormal">Teman dan sahabat selalu membawa suasana positif dan semangat baru buatku. Dan akupun kembali merasa bahagia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudewi2000.wordpress.com/1562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudewi2000.wordpress.com/1562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudewi2000.wordpress.com/1562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudewi2000.wordpress.com/1562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudewi2000.wordpress.com/1562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudewi2000.wordpress.com/1562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudewi2000.wordpress.com/1562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudewi2000.wordpress.com/1562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudewi2000.wordpress.com/1562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudewi2000.wordpress.com/1562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudewi2000.wordpress.com/1562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudewi2000.wordpress.com/1562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudewi2000.wordpress.com/1562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudewi2000.wordpress.com/1562/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1562&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/11/27/kembali-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f10701476c8ec5d4ec9ba6ac4d0446dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudewi2000</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/11/tami-in-brussels-june-2008.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tami in Brussels, June 2008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mei Yang Berwarna</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/11/27/mei-yang-berwarna/</link>
		<comments>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/11/27/mei-yang-berwarna/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Nov 2010 07:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
				<category><![CDATA[KIDS - ANAK-ANAK]]></category>
		<category><![CDATA[My Self]]></category>
		<category><![CDATA[Swary Utami Dewi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudewi2000.wordpress.com/?p=1558</guid>
		<description><![CDATA[Banjarbaru, 16 Mei 2010 Di bagian bumi utara, Mei merupakan saat di mana bunga-bunga bermekaran. Membawa kebahagiaan begitu rupa. Seorang sahabat sejak SD mengabarkan kalau sekarang tulip sedang bermekaran dan saat yang cukup bersahabat jika datang ke Belanda. Ups, aku menghela nafas. Keinginan untuk kembali menjejak Belanda, seperti yang kulakukan dua tahun lalu begitu kuat. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1558&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Banjarbaru, 16 Mei 2010</p>
<p class="MsoNormal">Di bagian bumi utara, Mei merupakan saat di mana bunga-bunga bermekaran. Membawa kebahagiaan begitu rupa. Seorang sahabat sejak SD mengabarkan kalau sekarang tulip sedang bermekaran dan saat yang cukup bersahabat jika datang ke Belanda. Ups, aku menghela nafas. Keinginan untuk kembali menjejak Belanda, seperti yang kulakukan dua tahun lalu begitu kuat. Tapi beberapa hal menyebabkan aku harus memikirkan ulang. Dari segi waktu saja sampai Juni mendatang kesibukan sudah begitu bertumpuk.</p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<div id="attachment_1559" class="wp-caption alignleft" style="width: 430px"><a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/11/eiffel-1.jpg"><img class="size-full wp-image-1559" title="Eiffel 1" src="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/11/eiffel-1.jpg?w=420&#038;h=315" alt="" width="420" height="315" /></a><p class="wp-caption-text">Di Menara Eiffel, Paris, Juni 2008</p></div>
<p><span id="more-1558"></span>Mei masih menyisakan kegalauan batin saat aku menyaksikan hiruk pikuk politik di negeri ini, beberapa musibah banjir yang sebenarnya merupakan akibat dari ulah tangan manusia yang menjadikan diri tidak paham pada keseimbangan alam. Jika hati sedang galau karena berbagai masalah, melihat anak-anak kemudian menjadi salah satu cara untuk cepat mengembalikan suasana hati.</p>
<p class="MsoNormal">Anak-anak menjadi obat penawar resah dan gelisah. Saat aku kemudian menjadi lebih banyak di rumah, dengan diselingi perjalanan ke Jambi dan Jakarta, tingkah laku mereka menjadi bahan refleksi dan pelajaran bagiku. Alif mulai menunjukkan ulah mendebat jika dia tidak setuju. Makin gigih dengan segala macam argumennya. Akupun belajar untuk lebih bersabar dan menjadikan dia sebagai sahabat dibandingkan bersikap sebagai orangtua yang otoritasnya sedang terancam.</p>
<p class="MsoNormal">Lain lagi Ara. Dia makin menunjukkan bakat menulisnya. Puisi dan cerpennya bagiku berkarakter. Iri aku karena dulu usia 10 tahun aku mulai bisa menulis, sementara gadis kecilku ini melakukannya sejak usia 6 tahun dan menunjukkan perkembangan berarti saat berumur 8 tahun. Cara berfikirnya pun makin unik. Dia kerap mempertanyakan hal-hal filosofis yang membuatku berkerut keras untuk menjawabnya.</p>
<p class="MsoNormal">Si bungsu Rama, yang gandrung kartun, tiba-tiba memperkaya bahasanya dengan beberapa kosa kata dan dialek Melayu ala Ipin dan Upin. Beberapa hari di rumah menjadikanku akrab melihat kartun Malaysia itu, ditambah Krishna, Naruto dan Disney. Duduk bersama Rama di kamar dengan cara sederhana (”nonton kartun bareng”) membuatku makin bersyukur memiliki anak lucu dan ceria seperti dia. Ikut rapat orang tua murid di sekolah Rama, melihat dia pulang berenang dan bercerita heboh tentang pelampung kuningnya serta memberikan komentar positif tentang gambar-gambarnya di kertas maupun komputer, membuat matanya makin berbinar bangga.</p>
<p class="MsoNormal">Mei juga membuatku pilu sekaligus bahagia saat seorang sahabatku, Rara, harus pindah ke Swedia mengikuti suaminya. Seorang sahabat sejak kecil menceritakan pertemuan dengan mantan first love-nya yang ternyata masih menyimpan cinta terhadapnya. Mmmm&#8230; tidak mau aku berkomentar lebih jauh karena urusan perasaan tidak bisa dilogikakan dan sifatnya begitu personal.</p>
<p class="MsoNormal">Saat di suatu hari di bulan Mei di mana sepanjang sore dan malam aku bisa ngrumpi lagi dengan Nur, Desi, dan Rinjani serta menghabiskan beberapa malam menginap di rumah Lisa dengan segala hiruk pikuk persahabatan kami, aku menjadi makin berbahagia. Malam ini, saat Alif sudah terlelap tidur karena lelah beraktivitas, aku mengajak Rama dan Ara keluar melihat langit cerah di arah barat. Gerhana Venus sempat kusaksikan pada tahap awal saat bintang kejora ini menjadi gelap karena berada satu garis dengan bulan. Dua anakku ini terlonjak girang di pinggir jalan depan rumah. Dan aku makin merasa lengkap, saat Rama kembali mengajakku ke kamar untuk kembali melakukan seremoni nonton kartun bareng. Meiku yang berwarna makin melengkapi hidup.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudewi2000.wordpress.com/1558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudewi2000.wordpress.com/1558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudewi2000.wordpress.com/1558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudewi2000.wordpress.com/1558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudewi2000.wordpress.com/1558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudewi2000.wordpress.com/1558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudewi2000.wordpress.com/1558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudewi2000.wordpress.com/1558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudewi2000.wordpress.com/1558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudewi2000.wordpress.com/1558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudewi2000.wordpress.com/1558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudewi2000.wordpress.com/1558/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudewi2000.wordpress.com/1558/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudewi2000.wordpress.com/1558/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1558&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/11/27/mei-yang-berwarna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f10701476c8ec5d4ec9ba6ac4d0446dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudewi2000</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/11/eiffel-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Eiffel 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENYEIMBANGKAN HATI</title>
		<link>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/07/25/menyeimbangkan-hati/</link>
		<comments>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/07/25/menyeimbangkan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 09:21:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudewi2000</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Self]]></category>
		<category><![CDATA[Opinion]]></category>
		<category><![CDATA[Fisherman's Wharf]]></category>
		<category><![CDATA[San Fransisco]]></category>
		<category><![CDATA[Self Healing]]></category>
		<category><![CDATA[Self Healing Process]]></category>
		<category><![CDATA[Swary Utami Dewi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sudewi2000.wordpress.com/?p=1552</guid>
		<description><![CDATA[Hati tidak bisa ditebak. Kadang kita bisa merasa begitu tenang. Kadang gelisah karena sebab tertentu. Saat-saat aku merasa gelisah, kadang aku bisa diam, menangis sesaaat, bahkan bisa sampai sesegukan menangis bombay ala bintang film India. Sudah bisa ditebak hasilnya: mata bengkak dan seringkali susah tidur. Saat hati merasa begitu resah, jika dulu hanya kuandalkan pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1552&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hati tidak bisa ditebak. Kadang kita bisa merasa begitu tenang. Kadang gelisah karena sebab tertentu. Saat-saat aku merasa gelisah, kadang aku bisa diam, menangis sesaaat, bahkan bisa sampai sesegukan menangis bombay ala bintang film India. Sudah bisa ditebak hasilnya: mata bengkak dan seringkali susah tidur.</p>
<div id="attachment_1555" class="wp-caption alignleft" style="width: 430px"><a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/07/dscf7680.jpg"><img class="size-full wp-image-1555" title="DSCF7680" src="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/07/dscf7680.jpg?w=420&#038;h=315" alt="" width="420" height="315" /></a><p class="wp-caption-text">Bay Walk, Fisherman&#039;s Wharf, San Fransisco (Juli 2010)</p></div>
<p><span id="more-1552"></span></p>
<p>Saat hati merasa begitu resah, jika dulu hanya kuandalkan pada waktu yang berlalu untuk menghilangkan gelisah itu, sudah beberapa saat terakhir aku berusaha melakukan hal yang berbeda dalam menghilangkan resah gelisah. Tidak lagi hanya duduk termangu, berharap waktu akan menyembuhkan atau menenangkan hati, sekarang aku lebih bersikap aktif. Aku tidak lagi melawan hati atau membujuknya supaya tidak membuatku sakit, tapi aku mengikuti proses penyembuhan sendiri (self healing) dipadukan dengan melakukan tindakan yang bisa menyenangkan hati. Inilah yang kukatakan melakukan penyembuhan diri secara pro-aktif.</p>
<p>Mengikuti proses self healing berarti tetap membiarkan perasaan sedih atau tidak nyaman itu ada selama ia masih ada. Tidak menekan-nekan berusaha mengubur atau menghilangkannya. Ada pengalaman di saat aku melakukan upaya paksa menghilangkan memori yang membuat sedih belasan tahun lalu, sedihnya memang cepat hilang. Tapi sifatnya lebih rentan. Saat kita teringat atau bersentuhan dengan sesuatu yang membangkitkan kejadian tersebut, ledakan sedihnya menjadi sama luar biasanya seperti saat kita mengalami, bahkan ada yang lebih. Ibarat mengubur sesuatu yang masih utuh, saat tergali, kita tetap melihatnya sama, bahkan bisa lebih kuat dampaknya. Karena itu, selama sedih atau sakit itu masih ada, biarkanlah ia mengalir. Kelolalah rasa itu menjadi sesuatu yang lama-lama &#8220;menjadi biasa&#8221; dan tidak lagi terasa sakit.</p>
<p>Perubahan yang kualami sekarang, saat kapanpun aku merasa sedih atau gelisah, ada sahabat tempatku berbagi. Beberapa sahabat terpercaya, setia menjadi pendengar yang baik. Tidak menghakimi, tidak membenarkan atau menyalahkan, hanya diam, sesekali berkomentar jika memang kuperlukan. Merekalah yang membuat kesedihan cepat hilang.</p>
<p>Sahabatku yang lain adalah buku. Beberapa buku bisa cepat kuhabiskan saat rasa sedih dan gelisah menyerang. Perasaan sedih menjadi cepat pulih, walau kadang rasa itu bisa saja datang menyerang dan membuatku menangis. Tapi ini jauh lebih baik menurutku, dibandingkan menangis terus menerus.</p>
<p>Yang lebih membuatku cepat menyembuhkan kesedihan, tombo hati adalah berdoa dan makin banyak bersujud pada Allah. Terkadang aku melakukan dialog pribadi kepadaNya, saat air mataku berderai banyak, bahkan saat aku ada di pembaringan menjelang tidur. Aneh rasanya, seolah-olah ada sesuatu yang memang hadir memberikan respon aktif pada pertanyaan dan curahan hatiku.</p>
<p>Kesedihan, seperti halnya kegembiraan, adalah bagian dari hidup. Selama hayat masih dikandung badan, sewaktu-waktu kesedihan itu bisa datang dengan sebab apapun. Jika sedih itu hadir, aku sekarang merasa lebih siap, karena memiliki &#8220;alat pertahanan diri&#8221; untuk mengelola kesedihan menjadi penguatan dan pembelajaran diri. Itulah self healing proses secara pro-aktif.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sudewi2000.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sudewi2000.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sudewi2000.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sudewi2000.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sudewi2000.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sudewi2000.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sudewi2000.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sudewi2000.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sudewi2000.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sudewi2000.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sudewi2000.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sudewi2000.wordpress.com/1552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sudewi2000.wordpress.com/1552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sudewi2000.wordpress.com/1552/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sudewi2000.wordpress.com&amp;blog=5015016&amp;post=1552&amp;subd=sudewi2000&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sudewi2000.wordpress.com/2010/07/25/menyeimbangkan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f10701476c8ec5d4ec9ba6ac4d0446dd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sudewi2000</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2010/07/dscf7680.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF7680</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
