Ketika mendapat sms dari temanku kalau Gus Dur wafat, entah kenapa ada rasa nelangsa. Rasa kehilangan yang amat sangat. Rasa ini sama sewaktu aku mengikuti sholat jenazah tokoh Masyumi “terakhir”, Anwar Harjono, di Mesjid Al Azhar tahun 1999. Juga ketika mendengar wafatnya Cak Nur. Sama perihnya ketika aku menguburkan papahku hampir dua tahun lalu di Palangka Raya. (more…)
December 31, 2009
August 9, 2009
MAKNA HORIZONTAL, VERTIKAL DAN SUPER REVOLUSI
Oleh: Swary Utami Dewi
Kawal Borneo Community Foundation
Tulisan ini dimuat di Koran Radar Banjarmasin, Kamis, 6 Agustus 2009, halaman 3.
Saat Isra Mi’raj, Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Kemudian beranjak naik ke langit, lapis demi lapis. Dalam kediamanku, tiba-tiba aku terfikir tentang Isra Mi’raj. Bagi sang Nabi Besar, ia bermakna luar biasa dan membuatnya memiliki keajaiban yang tidak dimiliki para Nabi lain. Muhammad bahkan sanggup berada di langit dan menemui para Nabi yang telah lebih dahulu berpulang.

Menelan Matahari Senja di Losari (Foto: Swary Utami Dewi, Agustus 2008)
PELAJARAN BERHARGA DARI PARA SENIMAN: MBAH SURIP, RENDRA, SUTARDJI
Banjarbaru, 9 Agustus 2009
Tulisan ini dimuat di koran Radar Banjarmasin, 10 Agustus 2009, halaman 3.
Mbah Surip meninggal beberapa hari yang lalu. Aku tidak mengenalnya, hanya pernah sekali bertemu suatu hari di tahun 2008, kalau tidak salah, saat aku dan sahabatku Rara bertemu dengan penyair besar Sutardji Calzoum Bachri di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Ayah, demikian aku dan Rara memanggil Sutardji, memperkenalkanku ke Mbah Surip. Aku sempat terbengong melihat rambut gimbalnya yang dahsyat dan cara ketawanya yang khas. Kami kemudian berkesempatan melihat Mbah Surip dengan gaya kocaknya menyanyi. Itu saja yang kualami. Dan aku tidak sempat mengenalnya dengan baik. Mbah Surip pergi dalam damai dan sedang dalam masa popularitas pada 4 Agustus 2009.

Aku dan Ayah Sutardji (Foto: Ganjar, Juni 2007)
July 27, 2009
AKSI TERORISME DISIKAPI DENGAN POSITIF
Oleh: Swary Utami Dewi
Kawal Borneo Community Foundation (KBCF)
Tulisan ini dimuat di Koran Radar Banjarmasin, 28 Juli 2009, halaman 3.
Teror itu terulang kembali. Sesudah beberapa tahun negara kita menikmati udara yang lebih aman, tiba-tiba 2 bom kembali meledak pada pagi hari 17 Juli 2009 di hotel Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta. Ingatanku kembali pada beberapa berita terorisme yang cukup besar. Pada Rabu malam, 27 November 2008, terjadi penyerangan teroris di beberapa tempat strategis di Mumbai, India. Pada 11 September 2001, Gedung Kembar World Trade Centre yang pernah menjadi puncak tertinggi di dunia di negara Paman Sam, hancur luluh karena serangan teroris yang menabrakkan pesawat komersil ke dua gedung tersebut. Aku juga teringat pada dua kali serangan dahsyat bom Bali yang menelan ratusan jiwa. Tidak hanya di Indonesia, India ataupun Amerika Serikat. Kekerasan bernuansa teroris masih terjadi di berbagai belahan bumi.

The Face of War (Salvador Dali, 1940)
July 26, 2009
KEBAHAGIAAN DAN TERBERKAHI
Banjarbaru, 25 Juli 2009
Oleh: Swary Utami Dewi
Hari ini, 25 Juli 2009, aku mengirim SMS kepada beberapa sahabat. Isinya kurang lebih sebagai berikut: Doakan aku ya, supaya aku bisa melakukan banyak hal baik. Kebahagiaan memang ada dalam hati, sejauh kita tetap mensyukuri apa yang sudah didapatkan dan memaksimalkan kemampuan untuk berbuat lebih baik. Dan akhir-akhir ini aku merasa lebih bahagia karenanya.

Senyum Cerah Gadis Cilik Manggarai Barat, Flores (Foto: Swary Utami Dewi, April 2007)
COLLIQ PUJIE: PEREMPUAN CERDAS, UNIK DAN PERKASA DARI BUGIS
Oleh: Swary Utami Dewi
April 2009
Pengantar
Tidak banyak tokoh perempuan yang ”kebetulan” terkenal di Indonesia, terutama dari timur. Pencatatan sejarah Indonesia, disebabkan berbagai hal, telah menyebabkan peminggiran kiprah perempuan Indonesia. Salah satu tokoh dari timur yang telah melakukan hal-hal luar biasa, tapi banyak terlupakan adalah Colliq Pujie.
Colliq Pujie adalah pengarang dan intelektual perempuan yang lahir pada abad 19 di Sulawesi Selatan. Salah satu ikon yang sangat terkait erat dengan Arung Pancana ini adalah karya sastra La Galigo. Entah apa yang ada di benak Colliq Pujie ketika dia menyetujui permintaan B.F. Matthes, seorang missionaris Belanda, untuk menyalin kembali epos besar Bugis La Galigo tersebut. Nyatanya, salinan ulang tersebut lebih dari seratus tahun kemudian masih terus mencengangkan dunia. Tidak hanya panjang epos yang melebihi Mahabharata ini yang dikulik ahli dari beberapa negara. Colliq Pujie-pun menjadi subyek perbincangan dan penelitian.

Seminar Colliq Pujie di Makassar (Foto: Staf Unhas, 2009)
LAUT JUGA SAMA PENTINGNYA: PELAJARAN PENTING KONFERENSI KELAUTAN SEDUNIA 2009
Oleh: Swary Utami Dewi
World Ocean Conference atau Konferensi Kelautan Sedunia (KKS) telah selesai digelar di Manado, Sulawesi Utara, beberapa bulan lalu. Pada konferensi kelautan pertama di dunia yang diselenggarakan 11-15 Mei 2009, Indonesia menjadi tuan rumah. Konferensi yang dihadiri 73 negara dan 11 lembaga internasional ini menekankan pentingnya memperhatikan laut dalam konteks perubahan iklim yang menjadi momok dunia dewasa ini. Jika Konferensi Perubahan Iklim di Bali Desember 2007 lebih memfokuskan pada isu yg sifatnya kedaratan (seperti industrialisasi, gaya hidup dan peran penting hutan), KKS 2009 ini semakin menyadarkan kita tentang pentingnya laut dalam isu perubahan iklim.

Sunset di Losari, Makassar (Foto: Swary Utami Dewi, April 2008)
June 23, 2009
Mensyukuri Rejeki
Suatu hari di Maret 2009, saat bertugas ke Sulsel dan Sultra, malam hari aku mennyempatkan diri ke atm di Makassar mengambil uang untuk keperluan perjalanan. Nasibku sedang tidak baik. Baru saja aku memasukkan kartu atm, tiba-tiba blep… kartu itu tertelan begitu saja tanpa adanya tanda-tanda error sebelumnya.
Aku hanya bisa pasrah. Mencoba melotot ke mesin ajaib itu tidak ada gunanya juga. Bergegas aku ke tempat satpam yang saat itu ada di mall tempat atm tersebut berada. Walaupun kemudian aku dihubungkan dengan seorang petugas bank cabang lokal, aku merasa kecewa karena pelayanannya begitu lambat. Jangankan menenangkan atau memberikan alternatif jalan keluar. Nyatanya aku diminta untuk mengurus di tempat di mana rekening aku buka. Hah, tertelannya di ATM Makassar, masa disuruh mengurus di kantor bank Banjarmasin? Tentu saja mukaku tambah berkerut.

- Perempuan dan Anak Gunung Kidul, Ceria Mencari Nafkah (Foto: Swary Utami Dewi, 2007)
March 18, 2009
MENJAGA PRASANGKA BAIK
14 Maret 2009. Saat melakukan perjalanan ke Muna dari Kendari, di atas kapal cepat Sagori, seorang perempuan berusia sekitar 30-an asyik berbincang dengan beberapa orang. Entah teman atau kerabatnya, yang jelas ia berbicara begitu keras sehingga satu ruangan bisa mendengar. Aku yang setengah mengantuk tiba-tiba merasa terganggu. Kutoleh teman perjalananku, seorang pejabat tinggi di salah satu departemen. Ia nampak tidak terganggu.

Pemandangan antara Kendari Muna (Foto: Swary Utami Dewi, Maret 2009)
