Oleh: Swary Utami Dewi
Kawal Borneo Community Foundation (KBCF)
Tulisan ini dimuat dalam Koran Radar Banjarmasin, 27 Juli 2009, halaman 3.
Hari Anak Nasional, 23 Juli, baru saja berlalu. Saat membaca Kompas tertanggal 24 Juli 2009 tentang pendidikan gratis di Indonesia, aku teringat nasib jutaan anak Indonesia yang masih sulit mengenyam pendidikan dasar. Dalam tulisannya di harian nasional tersebut, dengan gamblang sang penulis menggambarkan ironi kebijakan sekolah gratis. Dikatakan ada perbedaan konsep antara pemerintah dan masyarakat tentang apa yang dimaksud gratis. Menurut pemerintah, sekolah gratis berarti tidak ada sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Sementara menurut masyarakat, sekolah gratis harus benar-benar gratis, tanpa pungutan ini itu.

Anak Anak Usia Sekolah di Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Timur (Foto: Swary Utami Dewi, Agustus 2007)








