8 September 2005
Desa Sangkima berada di pesisir Taman Nasional Kutai. TNK sendiri memiliki luas 198.629 ha, berada di wilayah Kab. Kutai Timur, Kutai Kertanegara dan Kota Bontang. Seperti halnya dengan masyarakat di daerah pantai lainnya, masyarakat Sangkima sangat menggantungkan kehidupannya pada hutan bakau dan hasil laut yang ada di situ. Menangkap kepiting, selain udang dan ikan, menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Sangkima.
Tahun 1990-an, keadaan mulai berubah. Masuknya usaha tambak udang yang dimiliki pihak luar serta pengambilan kayu tanpa terkendali menjadikan hutan mangrove mulai terkikis habis. Kehidupan ekonomi masyarakat pun mulai terganggu karena bibit kepiting serta udang dan ikan yang tinggal di sela-sela akar pohon bakau semakin menghilang.
Rusaknya hutan bakau di Sangkima mulai menggerakkan pemerintah maupun swasta melakukan program rehabilitasi pada tahun 2002. Upaya ini gagal. Program ini menunjukkan hasil setelah masyarakat setempat dipercaya mengelola sepenuhnya, melalui Kelompok Petani Pangkang Lestari. Bibit bakaupun mulai berkembang hijau dan tumbuh subur. Pangkang Lestari bahkan sudah mulai bisa menjual bibit-bibit bakau mereka ke tempat lain.
Namun, bergantung pada bibit bakau dan sumber laut yang semakin menipis saja tidak mencukupi. Masyarakat tetap harus mencari jalan bagaimana dapur masih tetap berasap sembari menunggu hutan bakau menghijau kembali. Kepiting keramba kemudian menjadi alternatif untuk membuat kepiting kecil cepat besar dan gemuk. Bibit kepiting bakau diperoleh dari Teluk Kaba, sekitar setengah jam berperahu dari Sangkima, yang masih memiliki hutan bakau yang terbilang bagus. Dalam 20 hari kepiting sudah bisa dipanen dan dijual antara Rp 8.000 – 10.000/ kg. Namun, mengingat penggemukan kepiting keramba masih terhitung baru, masih banyak kegagalan yang ditemui.
Pada saat petani Pangkang Lestari mengujicobakan penggemukan kepiting di keramba, ternyata tidak semua kepiting bisa dijual. Kepiting yang cacat tidak laku di pasaran. Jumlah yang dibuang lumayan banyak. Dari 15-20 kg kepiting yang ada di satu keramba, sekitar 2-3 kgnya cacat. Melihat banyaknya kepiting yang terbuang percuma saat itu, timbul ide dari para ibu untuk mengolahnya menjadi krupuk kepiting. Jika harga kepiting mentah berkisar antara Rp 8.000 – 10.000/ kg, krupuk kepiting produksi para ibu yang kemudian tergabung dalam Pokja Krupuk Kepiting ini dihargai Rp 40.000/ kg. Suatu nilai tambah yang sangat luar.
Masyarakat setempat menyadari bahwa kegiatan para ibu yang sangat bernilai ekonomi ini tidak akan berlangsung lama jika bahan mentahnya tidak selalu tersedia. Mengharap dari keramba masih belum mungkin karena budidaya ini masih mengalami pasang surut dan harus diperbaiki. Menunggu kepiting alam dari bakau setempat juga memerlukan waktu lama. Untuk sementara, kepiting sebagai bahan pengolah krupuk, lebih banyak diperoleh dari wilayah sekitar. Karenanya, dalam jangka pendek, upaya mendapatkan kepiting melalui keramba tetap harus didorong. Untuk itu, Pangkang Lestari harus terus belajar melakukan teknik penggemukan keramba yang efektif. Untuk jangka panjang, jika pohon-pohon bakau sudah kembali tumbuh subur dan menghijau, kelestariannya harus tetap terjaga karena di sela-sela akarnyalah bibit-bibit kepiting hidup.
